Seperti biasa, ketika memasuki musim gugur, adalah moment kilas balik pernikahan kami…,

Rasanya banyak yang ingin saya ketik disini mencurahkan semua isi hati, tapi dengan kesadaran penuh, saya sadari harus ada batasan,karena ketikan saya di blog ini tidak sepenuhnya hanya saya yang baca, untuk versi yang lebih blak blakan saya tulis Journal pribadi, ada yang bisa dibagikan, ada yang cukup dsimpan pribadi. karena sejatinya pasangan hidup kita itu ya bagian dari diri kita juga, membeberkan aibnya sama saja menjatuhkan diri sendiri, kalau masih bisa diselesaikan secara pribadi, selesaikan. Tanpa harus selurh dunia tahu. Ya ini saya maksudkan karena hubungan kami layaknya pasangan normal biasa, ada masa bertengkar, baikan, marah, bahagia, tidak perlu pencitraan sempurna di dunia maya, tidak mencari viral juga kan:)

Jadi moment anniversary ke 15 ini,saya menulis perjalanan setahun ini…

Pengertian

Hubungan kami baik, layaknya pasangan biasa, kami sudah saling mengerti satu sama lain, apalagi diusia kepala empat- fase perimenaupause yang ternyata berat bagi wanita, pengelolaan emosi terutama, mood swing, apalagi jika mendekati pms, saya merasa dibandingkan usia usia 20an ke 30an, tidak separah ini.

Saya bisa memutar balik kesalahan suami dari awal menikah, bahkan ingat saja kapan peristiwa itu terjadi, dia setiap dengar ucapan saya, cuma bilang ”Allahıııım” ya allah…, bahkan dia sudah melupakannya dan saya masih mengingatkan terus, memang benar ketika ada tulisan sindiran : Wanita adalah Ahli sejarah.

Jadi setiap PMS dia jadi suami siaga, tiba-tiba beli pisang sesisir dan dark chocolate,karena menurutnya, kalau saya kekurangan asupan selama PMS dia berasa ngadepin persidangan terus, setelahnya ngajak saya jalan ”ayo ke merkez” ” ayo ke Mall” Apapun dilakukan asal mood istrinya kembali stabil. Karena rumah terasa nyaman katanya kalau mood saya baik.

Teman Main

Sebenarnya semenjak pindah dari İstanbul, karena dulu saya juga sering kumpul sesama diaspora İndonesia di İstanbul, rasanya setiap minggu ada saja undangan ke rumah teman-teman, hanya sekadar berkumpul, makan makan, arisan atau shoping bareng, fase ini saya lewati dulu. Kemudian pindah ke kota kecil, bertemu teman wni jarang, lalu mulai adaptasi dengan lingkungan tinggal, berteman dengan warga lokal, meski untuk perbandingan seru seruan, kumpul sesama wni lebih rileks, misal kalau sedang asyik ngobrol apalagi bergosip, nah biasanya teman indonesia, bisa dengan bebas ngedeprok di bawah, pokoknya kita gaya bebas, untuk teman Turki, kadang mereka terlalu kaku dimata saya, tetap duduk manis d sofa dengan slay…hidangan tertata disatu piring saji. Meski hahahihi bergosip,kehangatannya tidak bisa mengalahkan ala perkumpulan wni.

Jadi ketika ditempat baru, waktu lebih banyak dengan suami ketimbang dengan teman, karena alasan jarak juga, saya terisolir ditambah dulu era Covid. Lengkap sudah! semakin mengenal luar dalam 24 jam ketemu beliau terus, untung sayang.

Hikmah Covid, jadi semakin dekat lah kami layaknya kawan seumuran, jadi teman jalan, teman main, meski untuk selera musik sangat bertolak belakang, Jadi ga bisa diajak seru seruan bahas linkin park, backstreet boys, rentang usia kami bisa dibilang satu angkatan, tapi selera dia terlalu vintage dibanding jiwa millenial saya.

Kami sering menghabiskan waktu berdua karena anak anak yang mulai sulit diajak jalan, apalagi abangnya yang sudah remaja, lebih tertarik merakit mainan Tamiya dibanding jalan ke mall kalau ga ada yang dia pengenin, misal beli sepatu. Adiknya juga mulai ikut ikutan, tapi bedanya, si Adik kalau tau mau pergi ke pusat perbelanjaan, dia jarang menolak, karena punya motif sendiri, list jajan, list beli pernak pernik. Tapi kalau sekadar jalan di Taman, ke hutan, dia menolak. ”capek ah”.

Saya sering diajak menemani dia sholat jumat, nanti saya tunggu dia di Taman, ngasih duit biar saya duduk di kafe lalu pesan es kopi atau beli cake, setelahnya dia pergi ke Tukang cukur dulu. Kadang dia juga ajak saya ke Sanayi, komplek perbengkelan, meski jadi obat nyamuk-.-” daripada pusing, saya tunggu dibawah pohon seberang bengkel sambil buka hp scroll sosial media.

Kami juga sering olahraga bareng pergi ke komplek olahraga dekat area tinggal, kebetulan fasilitas komplek lengkap. Sesekali jalan ke arah satu desa terdekat melewati perkebunan di kanan kiri jalan, jalan kaki 5 km, atau pergi ke atas bukit ketika musim semi sambil menikmati pemandangan sekalian olahraga.

Kadang jika diperjalanan, kami juga ngobrol seperlunya saja di jalan, dia sibuk nyetir, saya dengarkan musik pakai headset, karena kurang bisa menikmati musik yang dia putar di dalam mobil, lagu lagu penyanyi lokal Turki era 60an, lagu tradisional yang menyayat hati gitu, mungkin kalau mau dapat gambaran, ibarat saya dengarkan lagu sheila on 7, suami setia mendengarkan boery marantika, koes plus ya seangkatan musisi itu.

karena keseringan pergi berdua, ada rasa ‘hilang’ ketika saya mudik 2 bulan ke İndonesia, dan dia ga ikut, jadinya setiap hari gangguin dia, kirim WA , tapi sekali saya lupa ngabarin, dia juga kecarian ”kok ga ngabarin”

Act of service dan pysical touch adalah dua cara kami mengekpresikan cinta itu. Act of service di luar rumah, di rumah ditambah physical touch, kami ga sungkan menunjukan rasa sayang di depan anak, Seperti pelukan, mereka juga terbiasa memeluk kami jika sedang bersedih, berbagi bahagia.

selebihnya out of the record…yang jelas menurut kami, hubungan itu harus terus menyalaa…huhuhuhu bakar bakaaarrr-lah macam provokator. Ga sungkan meluk beliau, Perasaan harus tetap bertumbuh dan dijaga, sama sama berusaha, kami ga ada rasa sungkan mengungkapkan apa yang disuka secara pribadi. Keterbukaan adalah cara kami terus menjaga ikatan ini.

kami selalu saling mengapresiasi pencapaian satu sama lain, meski saya ibu rumah tangga penuh, dia tidak merendahkan , pilihan saya untuk mundur selangkah dibelakangnya, dan dia full pencari nafkah, sisanya saya isi dengan ugrade diri saja, ambil kursus lagi untuk menambah skill. Sebagai backup suami.

Tahun tahun kedepan masih panjang, doakan kami panjang umur, sehat semua, Bagi saya Pernikahn memang ibadah terpanjang selama hidup, saya belajar untuk menahan ego, tidak bisa secuek dulu tiap ada masalah harus bisa menyelesaikan secara dewasa tidak kekanak kanakan lagi. Untuk menjaga biduk rumah tangga supaya tetap berada dijalurnya butuh kerjasama satu sama lain, tidak berusaha sendirian menopang.

Keluarga ada prioritas utama, mungkin pemikiran saya masih konservatif dan saya ga mengangggap ini bagian patriarki, apapun saya bicarakan dengan suami, jika dia tidak mengizinkan perihal satu hal, pertama saya tanyakan dulu alasannya, jika masuk akal saya menurut. Sejauh ini semua alasan dia masih masuk akal, ketika dia melarang saya terlalu dekat dengan teman A, dia punya alasan jelas, membaca karakter si teman A ini, hanya sebatas teman tapi jaga jarak, dia punya pengaruh buruk. OK saya turuti.

Rasa cinta diparuh usia 20an yang menggebu gebu seiring waktu bertumbuh semakin baik dengan rasa hormat, komitmen untuk tetap menjaganya terus bertumbuh bersama…, kalau saya tulis, satu sama lain diantara kami tidak banyak berubah semenjak awal menikah? apakah percaya? saya menjalani dan melaluinya 15 tahunan ini, cara dia memperlakukan saya dari awal menikah tetap sama, tidak banyak berubah, kami bertumbuh jadi manusia dewasa yang matang secara emosi, cara kami melihat kehidupan sama, bagaimana kami harus melalui dan menjalaninya, cara dia marah saya hafal, cara saya merajuk dia hafal di luar kepala. Bagaimana memenangkan hatinya kembali saya tahu, Apa yang membuat saya bahagia, apa hoby masing masing. Saya tidak pernah melarang dia menghabiskan uangnya untuk memenuhi hobynya selama itu tidak merusak pos keuangan utama. Saya selalu mengapresiasi pencapaiannya sekecil apapun, kalaupun bertemu kegagalan, kesedihan, saya peluk dia, kami saling menguatkan.

Selamat hari jadi ke 15 keluargapanda..

semoga kami bisa ketemu panda panda asli di chengdu, sincuan Cina ..masukan wishlist, semoga kami bisa berfoto bersama panda:)