Akses internet sekarang mudah, ditambah aplikasi sosial media berkembang cukup pesat beberapa tahun belakangan ini.Apalagi aplikasi buatan cina yang menjadi idola dan terkenal sekali mudah untuk menggeruk rupiah disana, kemudian berbondong bondong muncul akun kreator baru. Jangan bandingkan sama Blogger, Blogger adalah manusia pilihan heheh saking mulai banyak dtinggalkan karena terkesan lambat sekali mengikuti perkembangan, sekarang dengan bayar centang biru, akun sosial media bisa jadi ‘miniblog’, bisa ngetik panjang.
Yang dulu rajin update Blog saja mulai semakin jarang, lapak lain lebih memudahkan untuk posting tulisan. Meski saya akui, saya juga tidak serajin dulu ngetik dan update Blog ini, karena harus buka laptop atau pc dulu, sedang ngetik dari Hp tidak senyaman langsung ngetik di keyboard berukuran lebih besar. Ya ada aja ya alasannya.
Mari bercerita
Entah saya punya aura apa, bukan aura kasih, mungkin aura aura–aur-auran, meski terkesan tidak ikut berkelompok, tidak memiliki grup akrab sesama diaspora, tapi perkara berita terupdate selalu saja ada informan yang membagikan cuma cuma, cukup sediakan waktu dan kuping untuk mendengarkan dan menyimak.
Saya punya akun sosial media: X, facebook, instagram, YT (untuk nonton) dan telegram (juga untuk nonton) tidak ada akun tiktok , threads? sedang mempertimbangkan tapi entah butuh atau tidak, terkadang circle pertemanan onlinenya sama saja, karena menurut teman saya, dunia konten kreator masif sekali di tiktok terutama dengan bahasan pasangan mix marriage.
Ok kita fokus ditulisan ini adalah, pasangan İndonesia dan Turki.
Kalau ditarik kebelakang sebelum era covid tentunya, proses hubungan antar bangsa ini perjuangannya panjang, rata rata ikhtiar sendiri, belakangan mulai banyak agen agen perjodohan yang bermunculan, mulai mencarikan pasangan beda bangsa, apa ini gratis? jelas berbayar. Ada yang menjadikan materi kontennya, dibuatkan grup perjodohan, sang mak comblang akan mengenai tarif, besarannya beda beda, terakhir yang saya dengar dari sang informan kisaran 2000 usd.
Rata rata target marketnya?
Pernikahan ke-2
Klien yang meminta dicarikan Gelin, Duda- pensiunan, target pun sama: janda usia sekian ada anak atau tidak, umur diatas 40-an.
Kasus yang bermunculan:
Banyak yang berhasil dan cocok namun kasus sebaliknya juga ga kalah banyak.
Ada yang memilih menikah dengan pasangan pria Turkinya sekadar fomo, banyaknya konten pasangan kawin campur baik pasangan İndo Turki atau bangsa lainnya, ternyata memancing kecemburuan sosial netizen.
İbu ibu paruh baya yang aktif bersosial media tergoda dengan pria asing yang dia kenal singkat di sosial media, ada yang maksa minta bercerai dari suami sah nya di İndonesia, padahal secara materi berkecukupan, pasangannya setia, anak anak juga tidak kekurangan, dia hanya ingin merasakan ”punya pasangan bule” tanpa pusing mikirin harus ”mualaf’ kan, udah sama agamanya di KTP, ditambah fisiknya dianggap lebih menarik dibanding ex suaminya yang warga negara İndonesia asli sejak lahir.
Ada yang sekadar ‘asal nikah sama bule” supaya bisa dipamerkan di foto profil, didandanin dengan baik si pria tersebut bak CEO PT angin ribut, dipakaikan jas, jam mewah, meski aslinya jauh dari kenyataan. Lebih ke MOKONDO .
Ada yang menjadikan tujuan ‘pelarian’ karena sudah terlalu suntuk hidup di İndonesia, berharap hijrah ke luar negeri jadi solusi baginya.
Ada anak anak yang mengeluh ibu mereka sepertinya puber ke-dua, terjerat dengan pria pria Turki yang menyebar jaring di sosial media. Tidak peduli lagi jika diberi masukan, baginya menikah dengan pria asing menjadi tujuan hidup baru, hidup di luar negeri, lalu bisa mencari cuan lewat konten yang akan dia posting setiap hari selama hidup disana.
Saya ga tahu alasan kawan kawan ini ketika memutuskan menikah dengan pria Turki, kenalan begitu singkat, bahasa Turki basic saja kurang menguasai, apalagi bahasa inggris, google translate adalah kunci utama, komunikasi tersendat dan tetap memutuskan menikah. Lalu begitu mudahnya kawan wni lain berkedok mak comblang menyodorkan calon yang dianggapnya potensial karena berani menyetujui ‘harga’ dicomblanginya, ga peduli latar belakangnya asal si wanita İndonesianya tertarik saja.
Screening si Pria tidak jelas seperti: Apa ada catatan kriminal (mantan pelaku KDRT, pernah masuk penjara, pekerjaan serabutan, tempramental??) semua bisa diloloskan saja yang penting mau mengeluarkan uang. si WNİ yang lugu, komunikasi sulit, udah terpesona duluan karena meski sudah berumur, fisiknya tetap menarik dimatanya, apalagi dia tidak terbiasa dengan kata kata romantis, haus belaian, begitu dibombarbir kata kata manis dari pria Turki langsung meleleh, dibutakan cinta— anak dan suami di İndonesia, rela dia tinggalkan, gugat cerai. Lalu memulai hidup baru di negara pacar onlinenya.
Saya pernah dengar bahkan aki aki berumur 75 tahun saja mencari perempuan İndonesia yang mau dia nikahi dengan iming iming ada uang pensiun dan rumah sendiri, anak anak sudah mandiri. (Benar benar mencari perawat lansia gratisan)
Sekarang saya pikir kasus pernikahan pesanan Turki ini polanya semakin mirip dengan pengantin pesanan Cina.
Ketika wanita lokal mulai melek terhadap kondisi lingkungannya, menerapkan standar tinggi (tidak menutup mata, Turki masih berjuang dengan kasus KDRT tinggi, perempuan selalu jadi korban kekerasan sampai nyawa melayang) Lalu para Mantan pelaku yang tidak laku lagi karena ga lolos screening dengan syarat tinggi mulai mencari perempuan asing asal mau dinikahi. Wanita İndonesia yang dianggap lugu, nrimoan apalagi kalau literasinya rendah, banyak sekali jadi sasaran empuk scammer cinta Pria pria reject negara ini. Kalau saya tulis begini, nyatanya polanya sama berulang.
Jika perempuan İndonesianya ber-Value– mereka juga mencari kesetaraan, sekufu. Bukan sekadar jadi budak cinta.
Menikah bukan sekadar latahan, karena ngerasa dirinya pun bisa menikah dengan pria asing, bisa mencopy paste takdir yang İndah layaknya influencer yang pamer kebahagian bersuamikan suami bule.
Tabur-tua itu selalu nyata adanya, lagi lagi saya tulis, apa yang kamu harapkan dari pernikahan jika niat awalnya saja keliru, melanggar batas norma, berangkat dari zina apalagi modal perselingkuhan meski online, kamu pikir malaikat gagap teknologi mencatat amal baik buruk manusia? lalu dianggap bukan bagian dari dosa.
