Saya menikah tahun 2011, dimana saat itu media sosial belum semasif sekarang, twitter, facebook memang sudah dirilis tapi masih format jadul, smartphone belum terlalu populer, masih jayanya hp nokia, blackberry–dari sony ericson saya juga beralih ke blackberry.
Kenal pasangan random dari sosial media, klise kan. Obrolan absurd dialihkan via yahoo messenger dan skype, sinyal wifi belum sekencang saat ini, mengandalkan modem dicolokkan ke laptop. Sinyal tergantung jaringan smartfren. Biasanya dia (suami ) online menjelang saya pulang kantor, lalu lanjut obrolan di kost menggunakan laptop, sinyal kadang kencang kadang bapuk. Waktu itu WA juga belum populer. Ngobrol via blackberry? dia ga menggunakan BB pakainya samsul. Solusi pergi ke warnet buka yahoo atau skype. Pendekatan setahunan kami, blum terlintas untuk serius secepatnya, tapi namanya hubungan pasti butuh kejelasan.
Batas 3 tahun
Waktu itu kami menyepakati perjanjian bilateral kedua anak bangsa beda negara, hubungan LDR max 3 tahun, jika sepanjang waktu 3 tahun tidak ada kemajuan kearah hubungan serius, kita bubaran saja, untuk apa LDR lama lama, menghabiskan waktu dan nabung dosa makin banyak saja. Semakin sering ngobrol ternyata punya kecocokan, lalu dia melamar online, respon saya waktu itu cuma ketawa..hahahahaha, mikir gini, ”ah bocah mana ni diseriusin amat” Ternyata omongan dia emang serius, dia sudah punya planning, ” kalau ga sama kamu, aku ga mau menikah” jujur berasa lebay bukan ngerasa melayang dia bilang gitu, ah bullshit tingkat dewa.
Ternyata omongannya dipegang, dia minta restu sama anne nya dengan ngomong kayak gitu, bertahun tahun setelah menikah annenya cerita sendiri, kalau dia mengancam jomlo sampai tua, jika ga diizinkan menikah sama saya, dengarnya jadi ketawa, terus godain beliau. Oh mungkin ini rasanya diperjuangkan, setelah sering kena PHP, oh ya saya pernah ketemu juga teman online, ngakunya dosen di salah satu kampus swasta jakarta, janjian ketemu di salah satu mall, kesan saya langsung minus ketika selesai pertemuan, bayangkan ada pria, entah niatnya becanda atau serius, asli garr-iing banget.
Waktu itu saya ada rencana pergi lagi setelah ketemuan sama si dosen ini, karena memang sudah ada janji juga di area jakarta selatan. Tiba tiba dia nyeletuk: ‘‘ kamu pergi sendiri ya, ga usah dianterin, nanti minta diongkosin lagi” whattttt..helllooo, baru juga ambil duit gajian dari atm waktu itu, bayar taksi sendiri juga mampu, ciiih. seketika ilfeel se ilfeel-nya, masih ngajak ketemuan lagi lain waktu, noooo..Langsung Block saja. Semoga yang jadi pasangannya dikasih kesabaran, bau bau medit. Jadi mikir, pantes udah terbilang cukup berumur dan dia belum ketemu perempuan yang cocok, mulutnya pak coba dikursuskan dulu.:D sorry soalnya membekas sekali diingatan saya, baru ketemu pertama, langsung perhitungan ongkos, ongkos juga ga nyampe 10 ribu, dan ga minat juga diantar, garing gitu, ketemu langsung malah berasa ga nyambung.
Lucu lagi, saya juga punya teman ngobrol di yahoo mesenger ngakunya kerja di bumn mina mina itu, entah jujur atau engga, kami sering chatting pas luang, obrolannya apa? cinta cintaan?? bukaaaan, malah borok borok bumn ini hahaha, tiap hari ada aja gosip kerjaannya yang dia bagiin.Dari teman chatting ini saya jadi tahu, kenapa bumn ini ga ngelola minyak mentah sendiri, semua semua di negeri singa, dia kayak kesal gitu kalau curhat, gilanya permainan mafia, negara ini susah maju, semua obrolan ga jauh dari maki maki seputar sistemn bumn hahaha aduh gabut gabut emang. Tapi positifnya jadi tercerahkan, nambah banyak ilmu gratisan.
Dulu cara saya ikhtiar jodoh, karena sibuk bekerja, selain ikut komunitas pengajian di akhir pekan, karena bisa interaksi dengan banyak orang, berkegiatan. Ga munafik, saya juga sering memanfaatkan internet, yahoo messenger salah satunya, nah ketemunya yang random gini, dosen sok keren, anak minyak yang bocor, obrolan kami macam macam, menjurus sosial politik, saya justru geli kalau ketemu teman chatting bahas percintaan dari awal ketemu. Muke gileee, hingga akhirnya terseleksi sendiri, siapa yang tahan dengan topik diskusi saya tiap chating, pertanyaan random yang kadang berat.
Era saat ini
Banyak influencer atau siapapun yang menikah dengan WNA memanfaatkan sosial media untuk membuat konten, macam macam niche nya, yang sering lewat beranda tentu saja cerita pasangan kawin campur. Dulu karena masih jarang, kebanyakan mereka membuat blog, baca baca ceritanya menarik gitu, sekarang saking banyaknya, jadi seragam, Pasangan dari negara manapun tidak hanya Turki. Ada yang terkenal sekeluarga dan dijadikan idola netizen, ada yang hanya anaknya saja djuluki ponakan online. Saya hanya mengamati. Ada yang baru menikah lalu membagikan tips rumah tangga harmonis. Ada yang membagikan aneka resep masakan. Bebas aja, semua punya penontonnya sendiri, sama kayak blog ini, meski terkadang senyap tapi masih ada yang rajin mantau kan hehehe.
Karena banyaknya konten sliweran diberbagai sosial media, kata teman di tiktod gudangnya, terutama yang bahas pernikahan Turki İndonesia, sampai ribut ributnya juga, saya hanya tahu dengar dari kawan yang memiliki akun disana, saya sendiri belum minat sampai sekarang. Biar ga terlalu berisik. Nanti malah cari standar kebahagiaan dari konten lagi.
Ramenya bahas perjodohan online, dikenakan tarif, kalau lembaga profesional biasanya diseleksi ketat kecocokannya, kalau versi manual dari mulut ke mulut- yang penting keuntungan sendiri, masalah nanti rumah tangga yang dijodohkan ternyata berantakan bukan urusan dia, atau pria yang minta dicarikan ternyata tempramen, pelit, kdrt, punya kelainan, bukan urusan dia.
Kebanyakan sependek pengetahuan saya, teman teman yang menikah dengan warga negara Turki di era saya dulu, bukan maksud senioritas ini cuma contoh. Meski ga jaminan semuanya garansi langgeng harmonis, ada juga yang gagal. Rata rata kami melewati proses lebih panjang untuk mengenal calon pasangan, meski via online. Benar benar bibit bobot bebet dikulik, obrolan juga harus nyambung, minimal ada bahasa pengantar bukan sepenuhnya mengandalkan google translate. Masih mau diajak mikir logikanya dipakai, selalu menyiapkan rencana cadangan, sedia payung sebelum hujan, urusan perdokumenan diurus detail, pernikahan harus legal, tidak minim literasi, apapun berkaitan pernikahan dengan orang asing kita kulik infonya terus, apalagi berkaitan dengan hukum.
Ga mabok rayuan, modal tampang, janji janji surga, harta. Prioritas utama, karakter! percuma rumah megah tapi calonnya tempramen, mental health juga jadi pertimbangan kuat. Belum urusan dengan mertua dan ipar ipar nan penuh drama. Pendekatan juga perlu untuk mengetahui orang orang terdekat calon pasangan, kira kira nanti mampu tidak beradaptasi, apa mereka yang akan jadi tukang kontrol. Semua dibahas dari awal sebelum melangkah jauh.
Saking sering viralnya konten konten pasangan mix, sehingga berasa menjual mimpi perempuan İndonesia yang kurang bersyukur, ingin bersuamikan WNA juga seperti orang orang yang dia tonton kontennya, padahal sendirinya sudah ada suami, solusinya, minta cerai. Dan melanjutkan hubungan terlarangnya dengan pacar Turki yang dia kenal online, otomatis hasil perselingkuhan. Ternyata ZONK suami barunya mokondo, kdrt, lalu dia kabur. Tiap ada konten bahas Turki, komen komen negatif bermunculan: Cowok Turki redflag! !! pengalaman saya 3x pacaran sama OT redflag semua” pas saya baca, hah 3x, niat bener. Berarti emang niat dia dari awal emang nyari kan, cuma ketemunya modelan musang birahi semua. Jadilah kena stereotype jika pria Turki minus semua, semuaaaa tapi masih banyak aja yan kegatelan nyari, sampai rela bayar makcomblang ehmm.
Selain karena minim literasi, banyak yang menggampangkan sesuatu, fomo-an,ditambah mudah sekali kena tipu, sampai saya pernah baca infografis, kalau orang indonesia termasuk manusia yang paling mudah kena tipu di dunia. Jadi sasaran empuk scammer, belum pasar judol juga, udah tahu semua disetting, tetap aja bego kirim depo, berharap keberuntungan dari mesin ciptaan manusia
Nah tujuan pernikahan beda bangsa juga, makin kesini kadang saya mempertanyakan, pondasi dasarnya apa…, jodoh yang dipaksakan ??–kalau baca kasus dia minta cerai sama suami indonesianya lalu nekad datang ke Turki demi dinikahi pacar gelapnya” Artinya dalam pernikahan dia sendiri sudah berkhianat.
Pelarian? karena trend Kaburajadulu, sempat trending di sosial media, mau jadi diaspora, mau hidup di luar negeri, merasakan salju, ada banyak tujuan. Nikah yang penting ada yang mau ngajak aja, sebab awal chatting sudah merayu bertubi tubi, karena dia kurang kasih sayang, jadinya baper.
Pernikahan jadi kayak main main…
Padahal dalam agama jelas semua diterangkan..
bagaimana caranya dapat jodoh yang baik, kriterianya semua dijelaskan dengan baik, kalau ragu minta pertimbangan langsung sama Allah.
Jangan dipaksakan jika akan membawa kemudharatan.
Jawaban basi ” nanti dia juga berubah kok kalau udah nikah” ini adalah bom yang ditanam dan akan meledak diwaktu yang tidak bisa ditebak.
