Beberapa kali cek grup di WA, anggotanya teman teman Turki yang tinggal di lojman, Ramadan lalu mereka lah teman mukabele-tadarusan- meski yang aktif baca antara saya dan teman yang ditunjuk jadi ustazah, sisanya menyimak. Setelah Ramadan berlalu, anggota grup masih aktif bertukar kabar, lalu berujung mengadakan ‘oturma’ alias duduk-duduk sambil ngobrol, minum teh dan makan cemilan, bahasa kerennya–diskusi-musyawarah–rapat dewan tapi isinya ibu ibu komplek aja:))

Saya cek isi grup, tapi belum tertarik untuk gabung lagi, disatu sisi menguntungkan untuk memperlancar bahasa turki sebagai bahasa obrolan sehari-hari, tapi kadang saya selalu tidak tertarik isi obrolan tersebut, ya bisa ditebak obrolan seputar ibu rumah tangga haahhaha.

Akhirnya saya pilih untuk tidak datang saja, suami juga mewanti-wanti agar tidak terlalu ikut nimbrung obrolan kalau berujung ghibah heheh, baiklah pilih di rumah saja, menghabiskan waktu beres-beres, netflixan, kadang ya telpon teman WNİ. Sebenarnya sebagai ibu rumah tangga ya tidak ada waktu yang benar benar nganggur, herannya ada aja kerjaan:D Terbiasa multitalen, netflixan saja , tangan sibuk melipat baju baju yang baru diangkat dari jemuran, bolak balik ke mesin cuci karena ternyata di keranjang masih banyak cucian, lalu jemur lagi, cek diswasher, lupa belum ngevacuum, sedang suami kerja, anak sekolah, rehat dikit kembali mikir menu untuk makan malam ketika seluruh anggota keluarga pulang ke rumah.

Biasanya saya buka PC, buka blog buka sosmed dengan batas waktu yang ditentukan, jangan bablas sampai anak anak pulang sekolah.

Hari cerah tapi di rumah aja

Ada alasan kuat, kenapa musim semi saya tidak seperti teman teman lain yang menghabiskan waktu di luar ruang menikmati keindahan bunga tulip bermekaran? atau minimal keluar rumah daripada didalam rumah terus?

Saya biasa keluar bareng suami berkendara, dulu sih sering jalan seputar komplek, interaksi dengan keluarga petani terdekat, sekarang mereka sudah pindah. Nah berhubung sudah banyak warga lapas kembali beraktivitas, mereka mulai bekerja menggarap kebun, di sekitar komplek banyak perkebunan yang memang dikelola, disatu sisi jadinya kurang nyaman jalan jalan sendiri melihat aktivitas warga binaan bertani, jadinya saya pilih tunggu suami ngajak jalan keluar komplek saja.

Hidup berpindah pindah, jadinya sedikit sekali pertemanan awet, apalagi tinggal di lojman, serasa numpang mampir saja, karena sudah dipastikan semua pindah hanya tunggu waktu. Semakin dewasa dan berumur, seiring jalan pertemanan pun terseleksi dengan sendirinya, tertinggal hanya satu ,dua. Sampai sekarang saya hanya sering aktif bertelpon dengan 3 orang saja dari İstanbul, lainnya bertukar sapa di sosial media, seperti itulah seleksi terjadi. Jadi akhirnya saya juga mengaminkan jika pertemanan diusia saat ini utamakan kualitas saja. Masa masa banyak teman, maksudnya yang sering ngajak jalan kesana kemari, ngebolang, saya tuntaskan dimasa single, sekarang masing masing sudah memiliki kesibukan sendiri, karir, keluarga. Jika mudikpun tidak yakin bisa terjadi ‘reuni’ seperti orang orang.

Karena kondisi saya dulu, menghabiskan masa sekolah lebih banyak di Yogyakarta, dan teman teman datang dari berbagai daerah di jawa maupun luar jawa, untuk reuni ketika mudik sulit sekali terwujud, paling hanya sempat bertemu satu atau dua teman saja yang kebetulan masih satu daerah. Ya semuanya tergantikan lewat sosial media, mempermudah bertukar kabar.