Semalam suami dapat telpon sepulang kerja, abangnya telpon, Beliau meminta adiknya ini untuk antar anne-ke rumah sakit lagi, kebetulan esoknya suami masuk kerja malam, jadi ada waktu di siang hari.

Pagi-pagi dia sudah rapih tanpa minta dibuatkan sarapan, kemudian langsung mengendarai mobil menuju Corum dan pulang ke rumah Anne, jarak tempuh dari lojma 1 jam perjalanan, tanpa bertemu kemacetan karena jalan pegunungan.

Dan hari senin ini, saya disibukan lagi mengurus dua anak yang akan berangkat sekolah, keduanya masuk siang. Fatih setelah absen satu minggu karena sakit, Alya yang mulai membaik, menyiapkan bekal untuk di sekolah dan tidak lupa bawa sekotak kue kering untuk acara yerli malıAcara tahunan untuk mengenalkan produk lokal Turki–Biasanya anak-anak, terutama wali murid, berbagi tugas membawakan aneka kuliner, seputar makanan khas Turki, buah-buahan, dengan tujuan mengenalkan kekayaan kuliner dan hasil bumi juga produk buatan dalam negeri.—-

Menjelang sore, tepat setelah pukul empat lewat, Alya pulang lebih dulu, tidak lama Babanya juga pulang, membawa seplastik roti dibungkus dengan plastik dari Bim market, membeli ikan hamsi setengah kilo, membawa 2 liter susu segar dalam wadah plastik dan juga mentega sekotak ukuran es krim 1 liter.

Setelah berganti pakaian, dia langsung membersihkan ikan yang dibeli, untuk urusan membersihkan ikan hamsi, itu sudah tugas dia di rumah. Setelah dibersihkan baru diberikan ke saya untuk diolah, cukup dengan dibaluri tepung jagung dan bumbu garam, sedikit perasan lemon, saya susun ikan hamsi di wajan khusus dengan dilapisi kertas minyak, tujuannya supaya wajan tidak meninggalkan bau ikan saja.

Kondisi Anne

Sebelum memasak untuk makan malam, menyempatkan bertanya ke suami tentang kondisi Anne, kemudian dia cerita. Dokter meminta anne untuk melakukan tindakan operasi lutut kanan-nya, 9 tahun lalu lutut kiri-nya dioperasi, sekarang diminta untuk lutut kanannya, kata dia: Anne terang terangan menolak untuk masuk ruang operasi lagi! duh.

Saya sering ya menulis sebelumnya, kisah anak mantu yang meminta beliau untuk mengurangi beban kerja, kalau bisa pensiun, istirahat, kurangi pekerjaan berat, sapinya dijual, beliau beli lagi sendiri! selalu melakukan pekerjaan berat di rumahnya, membuat keju, itu ga mudah! karena harus mengangkat susu berliter-liter, belum memerah sapi, mengurus kandang- Bukan uang memang yang dicari, hanya menyibukan diri. Dan sekarang vonis dokter datang lagi, lututnya kembali bermasalah. Suami menceritakan tentang ibunya itu antara raut wajah sedih, kasihan, juga sering memendam sedikit kesal..bukan bermaksud mau jadi anak durhaka, rasanya setiap bertemu ibunya untuk melarang ini-itu selalu tidak digubris. Hanya meminta ‘kurangi’ pekerjaan berat, karena fisik tidak sekuat dulu.

Disini kadang saya baru paham kata: inatçı- orang Turki itu memang mendarah daging. Kedepan entah bagaimana, Mertua ini tidak terlalu suka rumah bentuk gedung bertingkat-apartemen, sangat tidak membuat dia nyaman. Lebih suka rumah dengan halaman luas, bahkan untuk menginap di rumah anak-anaknya di pusat kota saja, sulit dibujuk. Mungkin kita yang akan sering bolak balik ke rumah beliau menjenguk gantian. Karena beliau lebih menyukai rumahnya sendiri, ada hewan ternak, ayam ayam peliharaan, kucing yang selalu setia menunggu di depan pintu meminta jatah makan. Memaksa mereka untuk tinggai di kota demi kemudahan ke fasilitas kesehatan, perkara sulit.

Maunya kita, Beliau dimasa tua menikmati hidup, layaknya manula lain, ibu ibu merajut, atau membuat kue, pekerjaan yang menyenangkan saja, bukan kerja menguras tenaga lagi, membuat keju dll, anaknya saja gemas, sebagai menantu ngikut anaknya saja, menggemaskan memang. Tugas anak mantu membujuk beliau untuk operasi lututnya lagi, entah bisa luluh atau tidak, doakan ya.