Tanggal 10 Oktober, diperingati sebagai hari kesehatan mental dunia #WorldMentalHealthday. Semakin berkembangnya teknologi, banyak orang mulai menyadari penuh tentang kesehatan mental itu penting, ya mungkin selama ini ga terlalu dipikirkan, malah dianggap hal biasa dan sudah berlangsung lama, seperti beban kerja seorang ibu rumah tangga itu seperti sudah disetting turun temurun, kalau ngeluh dianggap kurang bersyukur atau diberi pembenaran–pahalanya surga-loh, jadi bersabarlah. Padahal sebagai manusia biasa, orang itu punya batas kesabaran. Seperti waktu saya baca komentar netijen yang tulis, harusnya si A sabar, namanya juga rumah tangga, pasti ada ujiannya, padahal kasus yang sedang diperbincangkan itu cukup serius KDRT, sabar ada batasnya ya, kalau sampai hampir menghilangkan nyawa?
Semakin maju dan mudahnya akses informasi di era saat ini, kesadaran mental juga jadi banyak yang lebih peduli, orang mungkin selama ini ga nyadar kalau dia lelah secara mental tapi seolah baik-baik saja, dan berusaha bertahan sekuat apapun.
Mencari pelampiasan supaya tetap waras
Saya tidak akan menyebut diri sebagai extrovert yang pandai bergaul, karakter saya beda sekali dengan kedua kakak yang emang pandai sekali bergaul, lebih asyik sendiri dan kadang menyendiri, kadang juga seperti kasat mata**maksudnya apa ni, hehehe** Segala emosi, segala isi kepala ingin dikeluarkan, butuh tempat cerita, seperti umumnya kaum pria, cerita sama suami, emang nyaman, tapi namanya pria, sering harus di –Reply– beberapakali, rahasia terjamin karena mereka sering lupa apa yang diceritakan pasangannya, biasanya kalau saya mau cerita ulang, selalu memulai dari Bab pendahuluan lagi-padahal seminggu lalu juga pernah cerita yang dia suka nanya: ini masalah yang mana ya?…, mulut berbusa, bercerita satu halaman koran, ternyata yang dia ingat hanya satu paragraf. Kadang ya…
Blog adalah tempat bercerita
Salah satu terapi agar mental saya sehat, adalah menulis, menulis, menulis…, Ada banyak cara orang untuk ‘‘healing” mengistirahatkan pikiran, menepi dari rutinitas, daripada kesehatan mentalnya semakin terganggu.
Buat saya menulis di Blog adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental.
kataemakpanda*
Jujur saya lupa pertama kali nulis Blog itu kapan? zaman kenal friendster, saya punya akun Friendster, dan ada kolom Blog, saya juga sering menulis ngalor-ngidul di Friendster, kadang nulis puisi, lirik lagu, apa aja ditulis. Kemudian kenal Blogspot sekitar 2008, Multiply juga, kemudian WordPress, Tumblr tidak saya jelajahi. İsinya ya curhatan aja, apalagi zaman kerja, Blog adalah tempat saya keluh kesah sebagai karyawan kantoran, berhubung orang kantor juga ga tau saya punya Blog, saya menggunakan nama samaran.
Ketika sudah menikah apalagi hidup di negara baru, lingkungan yang asing, Blog juga jadi teman terbaik di rumah, ketika bisa meluangkan waktu untuk menulis, ya saya buka akun blog, rasanya lebih menyenangkan ngetik, bisa angkat kaki, tidak mempedulikan penampilan yang heboh, beda kalau mau curhatnya di tiktod gitu, mba mba yang nyanyi ”Reyhan” aja dandan rapih kan, glowing juga wajahnya. Ya dibalik layar Blogger itu bisa dikondisikan sesuai keadaan, jadi diri sendiri intinya. Mungkin ada juga yang ngetik sambil ngupil kan ga tahu wkwkwk.
Menulis untuk mengeluarkan segala kata dan jumlahnya ribuan, konon katanya menurut penelitian perempuan mengeluarkan kata 20 ribu perhari sedang pria 7000 saja, ya karena saya tidak pandai bicara didepan publik, kata-kata hasil terjemahan isi kepala saya tuangkan dalam tulisan di Blog. Setelah semua apa yang ingin saya ungkapkan sudah keluar, ya lega saja.
Menghibur diri, kadang juga dapat Feedback dari pembaca, atau baca cerita dari blogger lain yang menginspirasi.
Saya peduli kesehatan mental, sekarang sudah ditahap menerima segala konsekuensi apa tindakan saya, beberapa waktu lalu, saya anggap sebuah teguran waktu saya menulis cuitan yang kurang baik, ya saya terima kalau apa yang saya ketik emang keliru, tidak lagi merasa harus ngeyelan seperti zaman SMA, usia dewasa emang berperan besar juga, segala hal jadi harus dipertimbangkan dengan matang, jangan asal nge-gas. Tidak ada dendam atau pemikiran yang berlebihan. Ketika ada teguran, masukan, ya saya terima. Usia muda (berasa tua-kan:( …maunya kadang harus didengar terus pendapat saya.
Jika saya lelah, saya ga pendam sendiri, saya bicarakan dengan teman hidup saya itu. Kami ingin sama sama waras dalam menjalani kehidupan rumah tangga, butuh hiburan ya kita menghibur diri, dia ga akan negur kalau rumah berantakan, atau saya malah asyik nonton drama. Karena dia juga sudah paham, peran suami tidak hanya urusan nafkah. Kalau saya udah bilang ‘sıkıldım” yukk jalan…, sederhana aja, yang penting menghirup udara bebas di luar.
Ya begitupun diposisi beliau, sebisa mungkin saya juga ambil peran ketika dia ngerasa sedang tidak baik-baik saja, ketika dia minta untuk sendiri–saya ga akan mrepet seperti petasan cabe—mrepetnya pindahin ke Blog dalam bentuk ketikan aja hehehe—-
Menawarkan waktu dan kuping untuk mendengarkan dia cerita, memasakkan makanan favoritnya. Memberi semangat, tapi jangan bayangkan saya jadi cheerleaders aja.
Selamat hari kesehatan mental dunia.

Aih sdh hari kesehatan mental saja..hutang tulisan deh…nice
LikeLike