Dulu semasa di İstanbul, kami juga sering meluangkan waktu jalan-jalan, apalagi tinggal di kota besar dan tujuan wisata, rasanya ga habis -habis semua tempat wisata terjelajahi, menggunakan transportasi umum İstanbul yang sangat memadai, mudah untuk bepergian meski pulang larut malam, yang paling menyiksa hanya di jam sibuk saja, layaknya Jakarta, İstanbul juga akrab dengan kemacetan. Saat itu kami belum ada kendaraan pribadi, belum jadi kebutuhan penting, apalagi apartemen yang kami sewa berada di lokasi yang cukup padat dan sempit jalannya, tidak ada lokasi parkir.
Pindah ke daerah kecil, di wilayah pedesaan, tinggal di rumah dinas yang jauh ke pusat kota, akhirnya kami membeli kendaraan untuk pertamakalinya dengan konsekuensi, mudik ke İndonesia diundur lama, lalu kehantam inflasi tinggi, makin pikir ulang hehehe.
Si Baba sudah punya SİM lama, buat di İstanbul, waktu Alya baru lahir sekitar tahun 2016, sempat ingin membeli kendaraan karena ada anggota keluarga baru si bungsu lahir, maju mundur berakhir batal, karena mikir mau diparkir dimana, saking sempit dan padatnya jalan didepan gedung apartemen dulu, hingga ujungnya uang tersebut digunakan untuk mudik sekeluarga ke İndonesia.
Baru terlaksana ketika kami sudah pindah dari İstanbul, halaman lojman gedung yang kami tinggali cukup luas dan disediakan parkiran.
Memulai petualangan

Roadtrip pertama kami yang terjauh ke İnebolu-Kastamonu, dengan minim pengalaman, kastamonu adalah kota ke-dua yang kami kunjungi setelah çankiri, sebagai supir yang belum berpengalaman, si Baba cukup banyak persiapan, dan sebagai navigator cukup berkeringat dingin duduk disamping supir, udah banyak baca-baca doa heheh, dan yang membuat semakin ciut ketika medan yang kami temui, jalanan berkelok-kelok pegunungan, pinggir jurang-.- aduh beneran rasanya nano-nano banyak istighfar minta keselamatan sama Allah, lalu lanjut juga ke kota yozgat, ke Ankara,kayseri..lah ujungnya malah ketagihan ngukur jalan, dan yang terbaru tentu saja menyusuri karadeniz area-pesisir laut hitam, Terkahir dia nyetir dari uzungol Trabzon, berangkat selepas subuh, menjelang pukul 6 pagi nyetir, sempat berhenti di kota giresun untuk sarapan, jalan di Çarsi-nya, istirahat, kemudian lanjut nyetir menuju kota Tokat yang ternyata medan jalannya luar biasa, 2 jam setengah jalanan berkelok-kelok melewati pedesaan diatas gunung, lewati kebun kebun hazel nuts warga, kacang yang emang banyak tumbuh di wilayah laut hitam, pukul 12 siang sampai di Niksar, kota kabupatennya wilayah Tokat, dan belum sampai pusat kota Tokat, Niksar ini kota yang kami temui setelah turun dari jalan pegunungan yang melelahkan, İstirahat, makan siang di salah satu gerai makanan cepat saji merk lokal.
Tadinya akan lanjut ke Tokat, tapi sang supir sudah cukup lelah dan mengajak pulang saja, ke Tokat bisa lain kesempatan, Mobil putar arah menuju Amasya, salah satu kota bersejarah era Osmanli, kota dimana para calon sultan di masa lalu, menjalani pendidikannya. Sesampai di Amasya, saya menyarankan si Baba untuk menuju merkez (pusat kota) karena seingat saya, dari Merkez ada jalan yang langsung tembus ke Corum-wilayah kami tinggal saat ini- tapi karena si Baba ngerasa ‘‘gue orang Turkinya kok, lebih tahu” lebih pilih lewat jalan raya baru, supaya lebih cepat, waktu itu hp kami berdua sudah sekarat, tepatnya sih hp si Baba, kalau hp saya udah abis kuota-.-”
Perasaan saya tuh ga enak, karena itu arah menuju Samsun, setelah cek maps meski tidak ada jaringan internet, ”kannnnn!! bener! kami muter jauh” jadi misalkan si Baba ikutin saran saya, dari merkez Amasya ada jalan lebih kecil yang langsung tembus kota corum, sedang jika lewat jalan baru, istilahnya kami harus melewati 2 distrik: suluova dan merzifon, lalu muter ke arah Corum, memakan waktu lebih jauh dan boros bahan bakar hingga akhirnya sampai di Corum (rumah mertua) pukul 5 sore lewat, berkendara, normalnya 6 jam lebih dikit dari Trabzon jika tanpa berhenti untuk istirahat, dan kami 12 jam dengan istirahat,nyasar,salah jalan. Apalagi ketika ambil arah ke Tokat dari Ordu, ternyata jalan pegunungan-.-”Badan rasanya remek..eh tau-tau datang bulan pula, sempurna sekali mengakhir road trip dan lanjut menginap dirumah mertua hahahah.
Anak-anak diperjalanan seperti apa?
Alhamdulilah ga terlalu banyak drama, mereka suka juga dengan ide roadtrip, kami membawa bantal, mainan, cemilan, mereka berdua asyik bermain selama diperjalanan, lelah langsung tidur keduanya, tidak ada penggunaaan gadget untuk alasan pengisi waktu, kami biarkan saja mereka asyik sendiri dengan imajinasinya, adiknya membawa boneka mini, abangnya bawa mainan tank baja, saya sogok dengan permen jelly dan permen karet saja mereka sudah bahagia, terutama permen kenyal jelly seakan makanan haram buat anak-anak, si Baba sangat membatasi konsumsi permen untuk anak-anak demi kesehatan gigi, karena roadtrip mereka diberi kelonggaran untuk makan permen jenis ini dengan perjanjian harus sikat gigi yang telaten setelahnya nanti. Saya pikir, tidak apa-apa lah, demi kenyamanan bersama syukurnya si Baba waktu itu lempeng aja mukanya ga protes, biasanya bawel dengan kalimat pembuka: çok zarar!!!! Buktinya anak-anak bisa menikmati perjalanan.
Melakukan perjalanan seperti ini selain ada capeknya normal aja kalau capek- kami jadi merasa lebih dekat lagi sebagai keluarga, saling bergantung, ya terutama si Baba supir yang kadang buta peta hahah, saya yang lebih banyak berperan sebagai navigator, sebelum melakukan perjalanan, kami berdua pelajari rute, titik pemberhentian, lokasi yang dituju.
saya sempat kelelahan dan mengantuk, alhasil si Baba malah salah ambil jalur-.-‘ muter jauh lagi, entah kenapa idenya ingin mempermudah perjalanan selalu berakhir nyasar terus, akhirnya saya pandu lagi ke jalan yang benar, dari jalan penuh kesesatan:) Dia baru bilang: ”ya udah kamu sekarang tidur aja” itu dimana? di jalan menuju Corum, yang tinggal setengah jam lagi sampai tujuan. Merem bentar udah sampai:S jadi kalau supirnya nyetir diperjalanan jauh, mana bisa saya tinggal tidur lama, bisa dibawa nyasar ke hutan, heran tapi suami sendiri sih:V
Keinginan kami, bisa menjelajahi negara Turki setiap wilayah, Turki dibagi 7 wilayah secara geografi, ga muluk-muluk untuk keliling dunia atau eropa*kecuali ada yang mau jadi sponsor ga nolak:V** kami juga bukan youtuber yang banyak duit untuk berwisata dan membuat konten, saya kok kayak ga bisa nikmati waktu roadtrip harus ngomong didepan kamera, lebih suka foto yang bercerita. Tidak semua kegiatan kami selama perjalanan untuk konsumsi publik, kadang ga nyaman juga, ya seperti memperlihatkan isi kamar penginapan, anak dan suami dalam posisi tidur, lalu suami bangun dengan muka bantalnya dan langsung direkam kamera,, kayaknya bisa kena ocehan sepanjang jalan kenangan sama beliau:D. Tidak semua bisa nyaman dengan kondisi seperti itu, ada yang memang suka hidupnya 24 jam dijadikan konten dan menghasilkan uang, ya silahkan aja, ternyata saya masih milih-milih.
Membagikan moment pilih pilih
İni agak lucu sebenarnya menurut saya, suami mengizinkan saya unggah foto perjalanan tapi dengan syarat, statusnya disembunyikan dari keluarga Turki hahahah, karena ada saja yang ‘kepo’ dan mempertanyakan, kenapa kami sering traveling? ada gitu? ada banget! kadang dipertanyakan sumber uangnya:P dipertanyakan motivasinya, ajaib tapi ya ada aja kelakuan orang Turki yang ajaib-ajaib gini.
Kalau dipikir, untuk apa iri dengan kami, rata-rata keluarga si Baba, sudah mapan secara materi, memiliki rumah pribadi, kendaraan, kebun, koleksi gelang emas ga cukup satu, hanya kami yang masih terbilang seadanya, kalau iri ya tinggal jalan jalan aja, uang juga mereka punya. Prioritas mereka berbeda, sedang kami ya sambil menikmati hidup gitu lah, kerja keras tapi ga bisa menikmati waktu, ujungnya sakit, uang habis untuk berobat. ”mending kalau punya uang ditabung” pernyataan yang sudah kebal ditelinga kami. Bodo amat! kalau kata si Baba, solusinya hanya membagikan moment dengan keluarga yang lebih terbuka dan ga ‘kepo’.
Karena si Baba juga belum pernah keliling negaranya sendiri, dimasa remaja pernah ke beberapa kota, ya keinginan dia ketika berumah tangga bisa mewujudkan ide roadtrip seperti ini, pelan pelan ya pak..kita wujudkan impian, sebanyak mungkin melakukan perjalanan impian, tidak hanya Turki, İndonesia dan insha allah dunia”:) Setiap orang akan ada ‘waktu’nya sendiri.

Mbaaaa, kita samaaaa deh, yg soal memvideokan perjalanan, aku ga bisa blaaaassss 🤣🤣🤣. Lebih suka bercerita lewat foto. Itupun kalo di foto, aku jarang mau foto diri sendiri. Pasti lebih suka foto tempatnya, atau fotoin suami dan anak2 😄. Ga nyaman dan ga biasa juga kalo harus bicara di depan kamera.
Aku dan suami sukaaaaa bgt road trip. Pertama kali kami road trip itu kliling hawa 2013. Sampe ke Jawa timur. Seru, dan aku beneran banget pengen ngulang lagi. Trus road trip ke Sibolga dari Medan. Itu lebih gila rutenya. Kecil, jelek, 2 jam nonstop berliku2 dari tarutung sampe Sibolga, tapi seru. Cuma anak2 ga kuat, mereka muntah mabok darat padahal udh pake Antimo 🤣. Kalo yg Jawa mereka ga pernah muntah.
Aku juga selalu jadi navigator mba. Tapi bedanya aku ga bisa tidur kalo sedang road trip 😄. Nah kenapa ga bisa kepejam mata kalo sedang di jalan. Bisa jadi karena kuatir, apalagi jalanan di Indonesia begitu, ga bakal tenang mau tidur 😅
Pengen banget road trip lagi . Tapi blm tau kapan 😁. Kalo target, kami sekeluarga udh planning road trip pake campervan di NZ. Tapi mungkin tunggu kondisi bener2 aman dulu. Apalagi tiket masih gila2an.
LikeLike
wah ide campervan seru itu…kmrn jg banyak yg bawa karavan kayaknya emang lbh asyik, di sepanjang garis pantai turki itu ada lokasi camp alanı–kyk yg ditulis ini–tahun dpn mau nyoba lg insha allah pengen area mediteraniannya, semoga bs terlaksana yg ke NZ ya
LikeLike