Selamat hari raya idul fitri tahun 2022, postingan selepas idul fitri, jadi bagaimana kalau saya tulis suasana lebaran di Turki? hari pertama lebaran saya dokumentasikan dalam Vlog, bisa tonton di kanal YT cabang keluargapanda yang belum femes femess gaes, hahah, kurang menjual mungkin: kurang keyword yang mengundang viewers: Harusnya dibuat judul bombastis: Merdunya suara kentut suami Turki? hahaha

Bahas kentut mengentut, jadi ingat sepulang silaturahmi, Rabu lalu. Ketika hendak pulang kembali ke lojman, hujan mulai deras di jalan, si baba nutup semua jendela mobil dan menyalakan penghangat didalam, terus tercium bau kentut, langsung saya tuduh dia sebagai tersangka!ga terima dong! malah nuduh anaknya. Saya tutup hidung, ketika mobil sudah melaju menuju İskilip, dia buka jendela dikit, karena tercium bau kurang sedap lagi, astaga ngaku aja kenapa sih, gengsi amat sama istri! hahaha , dia trauma saya ungkit-ungkit tmungkin ya, kesalahan dia kentut sembarangan aja bisa saya jadikan senjata kalau sudah merajuk:D

Bahas hari raya, bagian Bab bahagia-bahagia saja

Sebenarnya sebagai anak yang hidup berjauhan dengan kedua orangtua di tanah seberang, setiap hari raya, bohong kalau saya bilang, hati saya baik-baik saja, melihat kedua orangtua hanya lewat layar video, ada rasa ingin memeluk, berdekatan, mencium kedua tangan mereka, melepas segala rindu. Tapi memang inilah kehidupan yang sudah saya pilih 11 tahun lalu, dengan segala konsekuensi yang dihadapi, berpisah dengan kedua orangtua dan mengikuti garis takdir dan jodoh, hijrah ke negara baru, yang tidak terbayangkan tapi sudah ada dalam suratan takdir jauh sebelum saya dilahirkan ke dunia, jodoh, maut, rezeki yang Dİa sudah tetapkan.–Stop melow–

Hari pertama, Baba dan Fatih pergi solat idul fitri ke masjid terdekat, jaraknya sekitar 2 km lebih, masjid kecil yang berada di daerah küçük sanayı. Sepulang dari masjid, langsung sarapan biasa, menu standar kahvaltı. Baba juga langsung ganti seragam, karena harus masuk kerja, tidak libur di hari pertama.

Hari kedua, dia libur. Siangnya kami pergi ke Çorum, bareng tetangga di blok B, teman kerja si Baba yang ikut nebeng ke pusat kota, karena akan silaturahmi juga ke kerabatnya.

Rumah pertama yang kami datangi adalah, rumah kemal dayı (Dayı:julukan untuk paman dari pihak ibu) Kemal dayı, adik tertua ibu mertua, Kemal dayı tipikal bapak-bapak yang bicara seperlunya, kalem. Tidak lama dari rumah beliau, lanjut ke rumah İbrahim dayı, adik ke-2 ibu mertua, İbrahim dayı, tipikal paman yang ramah dan hangat, beliau juga lebih banyak bicara dibanding paman kemal, kami juga lebih nyaman di rumah ibrahim dayı, karena tipikal keluarga yang hangat, sepertinya suami, dari kecil lebih dekat dengan keluarga pamannya ini, karena sepupu-sepupu seumuran juga. Paman terkecil Nıhat dayı, ketika kami berkunjung, beliau sedang tidak dirumah, jadinya hanya ditemui oleh yenge (istri paman) dan 2 sepupu suami, salah satunya, onur. Dia pemain bola, meski di liga kecil, dulu sempat sekolah sepakbola di trabzon spor, salah satu klub bola besar Turki.

Kami juga sempat silaturahmi ke sepupu suami dari pihak Baba, Lale abla, sayangnya si baba dengan pihak kerabat dari baba (Balcı family) terlihat tidak begitu dekat, hanya beberapa sepupu saja, sedang dengan kerabat keluarga dari pihak anne, sangat dekat. İbu mertua dekat dengan saudara-saudaranya, hingga ke anak-anak merekapun dekat semua, hal berbeda saya rasakan dari pihak keluarga baba mertua. Entahlah.

Bahasan bertemu paman-paman suami, tidak jauh membahas tentang kakak tertua mereka, yaitu:İbu mertua saya. Mereka sangat ingin kakaknya ini menikmati hari tua, sama seperti mereka yang juga sudah pensiun, menikmati hidup dengan anak cucu, tapi ya begitulah karakter seseorang, yang sulit dibilangin heheh. Suami bilang ke paman-pamannya, bahwa dia sudah menawarkan diri, agar anne sama baba bisa tinggal di komplek bareng kami, ada 1 kamar kosong, bisa digunakan jika mereka mau, tapi sayangnya ditolak: yang mereka pikirkan: bagaimana dengan sapi yang mereka punya, lalu ayam-ayam, lalu kebun? udah nyerah aja deh hehehe, kalau mereka mau, bisa juga tinggal di İstanbul dengan kakak ipar, anak pertama mereka, rumah dua tingkat, kosong. Fasilitas kesehatan lengkap juga di İstanbul? apa mau? tentu saja tidak!

Tapi untuk kami tinggal bersama lagi? jelas sulit. karena bagaimanapun pendidikan anak adalah prioritas utama, sedang di desa mertua? jangankan sekolah, warung saja tidak ada, Masih lebih sulit dibanding komplek tinggal saat ini. Sebisa mungkin, bergilir antara kakak-kakak suami untuk menjaga orangtua, yang terdekat kakak perempuannya, biasa tiap akhir pekan datang ke desa, jika si abla ini tidak bisa, sedang anne butuh diantar ke dokter, yang ditelpon tentu saja si anak bungsu, yakni babanya fatih.

Keinginan adik-adiknya dan juga anak-anaknya tidak digubris anne, dia tetap menikmati kehidupannya di desa, meski sulit dibilangin, untuk mengurangi aktivitas beratnya, karena faktor umur dan juga kesehatan. Setiap hari raya, membujuk beliau untuk sekadar mengurangi aktivitas saja sulitnya masih sama, sebelum Ramadan, suami sudah mengantar anne nya ke UGD 2kali, tetap tidak membuat beliau kapok. Jadi wajar kalau anaknya gemas. Begitulah ya menghadapi kerasnya ibu Turki:D

Sepulang silaturahmi, si baba tetap menepati janjinya, ngajak saya ke park menemani hunting foto tulip, meski hujan rintik-rintik mulai turun, dan cuaca cukup dingin. janji adalah janji! kalau urusan menepati janji, wajib dia tepati, soalnya istrinya ini bakal nagih terus.

Sepanjang silaturahmi, tradisi masyarakat Turki umumnya dihari raya idul fitri, berbagi permen, coklat dan juga uang. Untuk makanan yang disediakan, biasanya tidak jauh dari kudapan manis: baklava lalu ada juga börek, yaprak sarma. Kalau menu opor, rendang itu tersedia biasanya jika ada halal bihalal KBRİ atau KJRİ, bisa juga acara kumpul-kumpul sesama wni.

Sepulang dari silaturahmi, kehidupan berjalan seperti biasa saja, karena dirumah juga saya tidak masak makanan spesial hari raya, anak-anak malah nagih indomie hehe, untuk kue kering, babanya pilih beli saja di toko kue, itu juga sudah habis sebelum hari raya, dicemilin fatih alya. Siangnya saya sempat masak ayam bakar kecap, itu juga pas si baba masuk kerja, daripada dia komplain ga bisa makan.

10 x lebaran, sudah jarang merasakan hari raya seperti di İndonesia, terakhir 2018, ketika hadir di acara halal bihalal kjri istanbul, lama-lama terbiasa saja dengan momen hari raya seadanya, hanya mengikuti keseruan hari raya di kampung via video call.

Meski telat, saya ucapkan selamat hari raya idul fitri, maaf-maaf jika banyak tulisan di blog kurang berkenan, atau sayanya jarang blogwalking ke teman teman blogger, sebisa mungkin pas luang di depan pc, saya usahakan.