Sore kemarin tanggal 4 april 2022, ikut mendengarkan tausiyah Habib Ja’far di acara ngabuburit bersama KBRİ Ankara, ketika beliau memberikan tips terbaik menjalani Ramadan harus seperti apa? Berpikirlah kalau kita sedang menjalani Ramadan terakhir dalam hidup kita, fokus ini bisa saja Ramadan terakhir di dunia, bisa memaksimalkan segala ibadah. Ya berpikirlah ini yang terakhir!
Tahun 2011 saya meninggalkan tanah air İndonesia, 2014 Ramadan pertama saya kembali dengan Fatih yang kala itu baru berusia 10 bulan, rasa yang tidak bisa diungkapkan bisa mudik mendekati Ramadan, setelah anak-anak bersekolah, sulit sekali bisa mudik tepat dibulan suci Ramadan, bisa saja saya pulang kampung sendiri, tapi membayangkan saja tidak sanggup, meninggalkan anak-anak sama babanya, masak saja tidak bisa-.-‘, bagaimana saya tidak khawatir, menitipkan ke mertua bukan keputusan bijak, mereka sudah sepuh. Dan entah kapan bisa pulang kampung di bulan suci Ramadan kembali. Ada kerinduan itu pasti!
Jika mengingat kampung halaman, orangtua dan keluarga, tentu rasa rindu selalu datang. Selalu berpikir, kenapa hidup jauh, kenapa tidak bisa pulang, sehingga memperbandingkan kehidupan dan suasana Ramadan yang hangat dan Ramadan dengan suasana baru, di kampung kelahiran dan di negara baru sekarang! kenapa begitu berbeda? Wajar.., saya juga pernah diposisi seperti ini, ingin mudik, rindu orangtua, suasana gema takbir. Tapi kemudian juga sadar! kehidupan yang sekarang saya jalani adalah murni keputusan sendiri! ada dua sisi, dan belajar menerima segala perubahan yang datang secara perlahan.
Belajar menerima keadaan
Sampai diposisi, Ramadan sebenarnya bukan tentang suasana, Ramadan akan selalu hidup dihati kita dan bagaimana caranya kita memanfaatkan momen 1 bulan dalam setahun, untuk setahun kedepan takdir kita ditulis kembali. Ramadan bukan sekadar simbolis. Dulu saya juga lebih banyak menghabiskan Ramadan sendiri, karena tinggal di kost dan pulang ketika weekend saja, hampir setiap hari berbuka puasa sendiri tanpa keluarga, kemudian saya pilih datang ke masjid, terutama masjid istiklal Jakarta. 2x naik busway dari kost-an, hingga sepuluh terakhir Ramadan saya tetap pilih menghabiskan sisa Ramadan di İstiklal bersama para jamaah yang tidak saya kenal. Toh nanti juga di padang mahsyar juga orang akan sibuk masing-masing dengan dirinya.
Lalu apa yang saya khawatirkan ? saya paham dengan kondisi, tidak lagi bisa membersamai hidup bersama kedua orangtua, karena keputusan untuk pindah dan menetap di negara suami, mudik tiap tahun juga masih harus melihat kondisi. Bakti saya sebisa mungkin membawa nama mereka dalam setiap untaian doa, meminta Allah selalu menjaga mereka sebagimana mereka menjaga anaknya diwaktu kecil, Tak putus doa, supaya mereka selalu dalam kondisi sehat. Sebagai anak, saya hanya titipan-Nya, dan mereka sudah mendidik dan merawat saya dengan baik, beribu terimakasih juga tidak cukup untuk membalas segala jasa baik kedua orangtua, semoga bisa menjadi amalan mereka yang tidak pernah putus di dunia, ketika kelak mereka kembali kepadaNya. Dan Ramadan ini? Adalah masa terbaik diantara 11 bulan lainnya untuk ‘membahagia’kan mereka.
Ramadan dan lebih mengenal diri sendiri
Saya tidak punya banyak teman di Turki, Bukan sosok yang mudah berkawan, terkadang lebih suka menarik diri dan bicara seperlunya, frekuensi telpon teman saja cukup jarang, sehingga sering lupa jika masih ada kuota telpon. Meski sering menghabiskan waktu untuk menyapa teman di dunia maya, teman dekatpun hanya dihitung jari. Selebihnya saya berteman dengan keadaan, ada yang mau menyapa ya syukur, dicuekin ya gak apa-apa. Sisanya saya habiskan untuk mengenali diri sendiri, dan Ramadan ini saya tahu apa yang saya inginkan, bagaimana saya harus menjalaninya, semua tentang diri sendiri.
Bagaimana saya bisa konsisten dengan kegiatan selama Ramadan yang sudah saya buat sendiri, disiplin diri, membagi waktu antara ibadah dan urusan lainnya. Berbeda dengan kondisi semasa saya aktif di Yisc Al azhar kebayoran, kegiatan penuh selama Ramadan sudah diorganisir dengan baik, saya ikuti sebisa mungkin. Sekarang? untuk mengikuti kajian, saya cari sendiri seperti podcast atau kajian lewat aplikasi zoom seperti yang baru saya ikuti kemarin sore, sempat ingin ikut kegiatan khataman di grup pengajian WA ternyata full. Kalau saya malas, bisa saja Ramadan berlalu begitu saja, hanya sekadar berpuasa. Ke Masjid juga jauh, apalagi ikut acara pengajian langsung, kondisi yang tidak memungkinkan saat ini. Jujur masa-masa datang ke majlis ilmu selama Ramadan tentu sangat dirindukan. Sekarang saya menantang diri sendiri untuk bisa konsisten sampai akhir Ramadan, seperti salat tarawih yang juga saya kerjakan di rumah. Dan bersyukurlah kemajuan teknologi membawa sisi positif, bisa dengan mudah datang ke majlis ilmu secara virtual.
Persiapan Ramadan yang sudah bergeser
Belanja kebutuhan Ramadan tetap kami lakukan, syukur bisa untuk satu bulan, tapi pilih khusus jenis makanan sudah tidak saya lakukan, kecuali ketika beli cabe merah yang tidak sengaja saya temukan toko penjual sayur, Bulan april belum masuk musim panen cabe, wajar harganya mahal. saya hanya ingin ada sambal saja di meja makan.
Seperti keinginan makan sesuatu? menu favorit saya hanya asinan, mudah dibuat, dimasa kecil setiap bulan puasa dan pasti hingga saat ini, emak saya selalu membuatkan asinan sayur segar. Makanan ini mengingatkan saya dengan kenangan masa kecil, sederhana saja dan tidak kesulitan membuatnya sendiri di Turki. Untuk jenis makanan lain? saya terbiasa hidup sendiri, kenangan buka bersama keluarga lebih banyak di masa kecil, ketika lulus SD dan memutuskan masuk pesantren sampai masuk dunia kerja, waktu lebih banyak saya habiskan di luar rumah. Hanya mendekati hari raya, biasanya seminggu sebelum hari raya baru ada di rumah orangtua. Setengah hidup saya berbuka puasa dengan orang asing.
Di Pesantren banyak mengajarkan rasa syukur, menu buka puasa apa saja yang dimasak mbak-mbak dapur, makan. Kalau ingin tambah lauk beli sendiri, ada uang kiriman, gizi tercukupi, uang mepet makan seadanya. Kondisi seperti ini sudah terbiasa, kadang di dapur pesantren hanya masak nasi dan sayur lodeh plus kerupuk putih, esoknya ganti sayur terong yang bentuknya ga jelas, atau ketika ada donatur dari pabrik tempe, tiap hari menu tempe. Makan daging hanya hari besar saja.
Ketika jadi anak kost selama kuliah, andalan saya pesan makanan di ankringan, nasi kucing yang dibungkus kecil kecil dan sate usus, baceman ceker ayam, sudah cukup. Ada uang lebih baru bisa makan nasi padang, itupun jarang pesan rendang, cukup telur dadar , daun singkong dan sambal ijo, sudah nikmat dan hemat.
Kondisi makan seadanya, makan aja yang ada, jadi membentuk pola pikir tersendiri, mudah buat saya adaptasi hidup di tempat baru, karena tidak terlalu rewel dengan makanan, selama masih bisa makan sayuran, bisa membuat sambal, rasanya cukup saja! Saya bukan pecinta kuliner sejati, terbiasa hidup susah mungkin heheh, makan untuk hidup. Sesekali saja jika ingin jajanan, bisa membuat bakso sendiri. Karena sekarang daging dan juga harga tapioka mahal, sudah jarang buat. Jajanan favorit sejuta umat: bakso, mie ayam, susah nolak. Lainnya masih bisa saya kondisikan.
Ramadan? saya hanya masak apa aja yang ada dan sudah dibeli, mau masakan Turki terus menerus, masih bisa saya makan selama bisa dikombinasikan dengan sambal. İya beruntung sekali kan pak emus itu, istrinya tidak terlalu rewel soal selera makanan nusantara. Jadi pengeluaran bisa dialokasikan ke liburan, ngukur jalan, karena beliau sudah paham kalau istrinya lebih suka diajak jalan jalan ketimbang makan makan. Saya juga rada payah untuk mendeskripsikan rasa, menulis review makanan tidak seahli teman blogger, Fanny:)
Menu makanan yang saya buat selama Ramadan,menu harian saja, tidak ada kudapan khusus seperti es campur? saya sedang belajar mengurangi makanan manis, hanya kurma atau buah-buahan, meski membuat kudapan manis, karena anak-anak dan babanya yang minta. Untuk diri sendiri cukup air putih, kalau ingin teh, saya membuat teh chamomile, semalam saya sempat juga menyeduh kopi instan, karena mata lelah dan mau melaksanakan tarawih, kopi instan yang saya buat jenis cappucino, mencampur rasa baru sering saya lakukan, nah semalam saya tertukar antara toples jahe bubuk dan bubuk kencur, yang saya masukan adalah bubuk kencur, nah kebayangkan rasa kopi cappucino mix kencur hahahah, tapi daripada mubazir saya tambahkan jahe bubuk juga, jadi serasa minum kopi jamu.
Sekarang persiapan Ramadan lebih fokus ke diri sendiri, mempersiapkan diri untuk bisa lebih banyak mengisi Ramadan dengan kegiatan positif, urusan lain hanya pendamping saja. Sesekali masih menonton drama jika sedang menunggu masakan matang di dapur, alhamdulilah ga pernah sampai gosong, porsi untuk urusan ibadah harus lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Bagaimana manajemen waktu bisa berjalan dengan baik sampai akhir Ramadan.
Buka puasa bersama sudah jarang dilakukan, sudah tidak melakukannya lagi semenjak pandemi dan berlanjut karena tinggal di lokasi terpencil. Bersama keluarga inti saja. Dulu kami juga sering reservasi tempat di restoran pinggir laut İstanbul untuk berbuka puasa, hanya ‘beli’ suasana saja, makanan sebenarnya biasa saja, cuma karena lokasinya cantik.
Saat ini menikmati saja kondisi yang sedang dijalani, suatu saat insha allah pindah ketempat yang lebih baik, bisa merasakan salat tarawih berjamaah lagi di masjid, atau mengantar anak ke kuran kursu. Ramadan tetap bisa dihidupkan dengan cara tersendiri.

Sebenernya kita ada kesamaan mba, kalo hanya sekedar makan sehari2, aku tipe ga rewel dan ga mau ribet 😄. Yg penting ada sambel dan lalapan, udh cukup. Kalo ga ada anak dan suami, pake tahu, telur, itu aja pun jadi 😁. Dulu zaman kuliah, terbiasa untuk makan roti Mulu malah, saking males ribet wkwkwkw. Padahal aku juga beli kalo makanan. Tapi kan hrs jalan agak jauh. Kalo roti tinggal beli deket rumah 😅
Tapi memang beda cerita saat traveling. Baru deh, aku fokus Ama kulinernya 🤣. Untung lidahku terbiasa semua jenis masakan, jadi ga rewel kalo diajak kemanapun 😄. Seaneh apapun makanannya pasti aku coba, yg penting bukan haram aja. Kalo ternyata ga enak, ya sudah, asal udah tahu kayak apa 😁
LikeLike
nah ini bedanya fan..km lbh fokus kuliner jg pas traveling, kl saya ga terlalu peduli ..asal ketemu makanan aja:D
LikeLike
Semangaaat mamak 💪💪..
LikeLike
hahah thank you rayaaa:*
LikeLike