Dulu target menikah melesat sedikit, target awal 26, kemudian datangnya jodoh tepat di usia 28, melonggarkan target sebelum usia 30 tahun, afirmasi positif saja, meski dulu tidak kenal pacaran, ya kalau cinta monyet zaman putih biru, masa puber awal mengenal lawan jenis tidak sampai berpikir akan menikah dengan beliau, pacarannya bagaimana? masih kalah dengan anak SD yang sudah memanggil mamah papah, atau anak SMP zaman sekarang, waktu saya usia belasan tahun tinggal di pesantren, sekolah madrasah yang jaraknya 1 km dari asrama, naksir lawan jenis, komunikasi lewat surat menyurat, HP belum populer saat itu, kertas binder warna warni atau bergambar fidi dido menjadi saksi surat menyurat lewat kurir teman sendiri dengan bayaran traktiran.

Perjalanan asmara saya tidak semulus kulit song hye kyo (artis korea yang jadi brand ambassador produk kecantikan Mahal) banyak patah hati, cinta ga kesampaian, telat menyadari, ah ruwet. Saya tidak bisa memamerkan diri kalau dulu cukup populer dan memiliki koleksi mantan, ah tidak ada, selain masa putih biru? ya kalau itu masuk mantan, kalau engga, teman lama. Hanya dengan status ‘hubungan tanpa status’ rasanya sering, ya senyamannya aja, kalau butuh’tukang ojek’ ya ada teman jalan, teman makan, teman seru-seruan.

Lalu ketika datang fase ‘ingin serius’ artinya menikah. Ternyata pengalaman saya dengan lawan jenis minus minus, saya kenyang dengan pengalaman jadi wadah curhat teman-teman dalam urusan asmaranya, tanpa saya yang menjalani, cerita cerita dari teman tersebut menjadi dasar pengetahuan saya tentang hubungan dengan lawan jenis, ya kenapa harus terikat status pacaran dulu hanya untuk cari modal pengalaman? bisa lewat berbagai buku atau mendengarkan curhatan teman dan membantunya menemukan solusi masalah percintaan.

Mungkin konservatif?

28 tahun yang saya jalani sebelum menikah dalam jalur konservatif, bisa ya? karena tipikal manusia yang cuek, ga peduli omongan orang, lucunya ya pernah disindir , ”ga pernah ciuman dengan lawan jenis”, seakan prestasi saya NOL banget. Ajaib emang yang ngomong juga padahal berhijab. Dunia terbalik dan seakan bangga sudah melakukan itu. Kenapa dengan pilihan saya, kuno? biarin. Karakter saya emang menyebalkan, ga pernah melawan, nyuekin, kenyang kuping ini mendengar sindiran banyak mulut, hidup di lingkungan İndonesia meski saya tidak memukul rata, tapi seperti itu, usia belum mencapai 30 tahun saja, pertanyaan silih berganti datang: kapan menikah? pilihan untuk kost di Jakarta adalah salah satu pertahanan diri , Di kampung seolah olah perlombaan anak gadisnya menikah di usia awal 20 tahunan, coba kalau saya baperan, meski yang nanya dengan nada candaan.

Perjalanan cinta?

Kayaknya sudah pada hafal, sering saya bahas di Blog sebelumnya. Bertemu dengan suami adalah takdir yang manis! saya tidak pernah menyesali segala keputusan meninggalkan İndonesia, karena belum tentu di İndonesia saya bertemu dengan lelaki seperti dia!

Banyak kisah ‘miris’ belakangan ini terjadi dalam pernikahan antar bangsa İndonesia_Turki, entah karena pasangan pasangan viral İndonesia_Turki yang memiliki konten dengan jutaan penggemar, atau juga teman teman lainnya, kemudian viralnya wisata Turki terutama cuplikan adegan dalam salah satu sinema ‘layangan putus’ ada dialog tentang peri bacalari —di kapodakya ditambah Turki juga membebaskan visa untuk wisatawan İndonesia, situasi ekonomi yang buruk, Supaya ekonomi tetap jalan, ditengah kondisi dunia yang sedang melawan pandemi covid lalu ada varian baru omicron, Turki seakan menutup mata demi ekonomi. Berbondong bondong wisatawan dari İndonesia datang ke Turki. Kesempatan emas ini tidak lupa dimanfaatkan, manusia manusia berniat busuk.

Lalu datang wanita yang ingin dinikahi laki-laki Turki, rela menghampiri ke tanah anatolia seorang diri demi bertemu lelaki idaman hati, cerita cerita pilu kisah percintaan berujung penipuan. Tidak menikah resmi hanya nikah siri, nasibnya terombang ambing, dokumen tidak diurus dan berbagai cerita memilukan lainnya, setiap saya baca dari tulisan teman cuma bisa: HEH! kok mau, kok bisa! Ampun menikah segampang itu kah?

Jujur, kilas balik diawal kedatangan calon suami ke İndonesia 10 tahun silam, bapak saya sampai tanya : Punya tato ga? mungkin bagi kaum open minded, punya tato atau ga adalah hak pribadi seseorang, ngapain ngurusin? beda perkara karena ini bapak saya, dalam agama islam beliau adalah wali utama untuk menikah resmi. Demi mengambil hati sang calon mertua, tentu harus ada usaha, dia membuktikan kalau dia layak! Suami tanpa tato, alasannya , kesehatan dan dia pendonor darah rutin. Sesepele ini diperhatikan bapak demi syarat melepas anak perempuan terakhirnya. Apakabar kalau saya tipikal manusia super nekad bepergian ke luar negeri sendiri untuk menikah tanpa didampingi bapak? dikutuk! nama dicoret dari KK? ya dramatis belum 7 hari 7 malam kena luapan omelannya.

Menikah bukan keputusan mudah

Saya pikir, ada banyak pergulatan batin untuk siapa saja ketika siap berkomitmen untuk menikah, belum lama saya sempat nonton Vlog nya jang hansol, Korean reomit. Ketika dia membahas tentang pernikahan dengan temannya sesama Vlogger yang akan menikah, adat di korea, dimana melamar itu tidak diawal tapi ketika sudah mempersiapkan semuanya, mengajak menikah dengan persiapan perbekalan pernikahan dulu, termasuk membeli rumah atau sewa, semua dipikirkan diawal. Ya emang harusnya dengan penuh persiapan matang. Tidak modal ‘cinta’ saja, ada banyak yang harus dipersiapkan, perkara dimana akan tinggal kalau tidak dibahas sedari awal, ujungnya akan menjadi pemicu pertengkaran, ternyata tinggal seatap dengan mertua tanpa tahu kapan bisa tinggal mandiri. Bayangkan? datang sendiri ke negara pacarnya, tanpa didampingi keluarga, kenal teman WNİ pun tidak dekat, percaya diri, bahwa dia akan menjadi cinderella di dunia nyata, asal bisa hidup bersama, tidak peduli akan tinggal dimana, tahunya tinggal seatap dengan mertua dan keluarga besarnya, mimpi indah buyar, karena harus bekerja keras urus rumah tangga, melayani seluruh anggota keluarga. Kisah ini ada? banyak terjadi. Ada yang bernasip beruntung dapat keluarga suami baik, tapi jangan menutup mata dengan satu sisi lainnya, kemungkina ini ada saja.

Pernikahan ideal seperti apa

Pernikahan yang diusahakan bersama bukan dicari? pernikahan yang kita bangun dan ciptakan berdua dengan pasangan, tidak ada patokan pasti, sejatinya contoh mulia dalam memperlakukan pasangan ada dalam diri baginda Rosulluloh SAW, Tapi sayangnya hati kita mungkin tidak setegar para istri-istri beliau.Berbagi hati tapi kecondongan akan satu hati saya yakin tetap ada. Perempuan biasa kita ini, belum ada garansi masuk syurga seperti beliau beliau .

Sebuah tim yang kompak? tidak ada berat sebelah dalam memikul tanggung jawab, urusan anak maupun rumah tangga, mendiskusikan hal apapun terkait pernikahan.

Pernikahan tidak menakutkan jadi kenapa galau?

syaratnya, asal bertemu pasangan yang tepat. Berat ya, kalau masih merasa ragu, intuisi kita mengatakan minusnya terus tapi kita abaikan, abusive, pernah diselingkuhi, karena pengaruh fisiknya terlalu tampan?, lalu mikir, belum tentu ada yang mau sama dirinya lagi, ditambah selama menjalani pacaran menyerahkan segalanya, ini jadi belenggu sulit keluar dari hubungan toxic juga, tidak mencintai diri sendiri. Ketakutan tidak beralasan memilih bertahan karena takut untuk ditinggalkan.

Agama sudah benar memberi aturan

Terus terang respek saya untuk perempuan-perempuan konservatif di zaman sekarang tetap tinggi, pendidikan tinggi bukan berarti mendobrak aturan dalam agama yang sudah diterangkan dalam alquran bisa diotak atik sesuai nafsu sebagai manusia, salah satunya, tentang pergaulan bebas. Perih rasanya membaca utas atau apapun di sosial media ketika remaja zaman sekarang, menganggap keperawanan bukan hal penting lagi. Ada kontrol diri, tanggung jawab moral, meski sepenuhnya tubuhmu adalah hak dirimu, sebagai manusia yang diberi akal, dan paham akan siapa yang menciptakan, ada aturan akidah sebagai pegangan hidup untuk ‘menjaga’ diri.

Butuh proses panjang dalam tingkat pertaubatan nasuha dengan komitmen tinggi untuk kembali ke ‘track’.

Lalu hubungan apa dengan pernikahan vs pergaulan bebas?

Apa yang bisa diharapkan untuk memaknai sakinnah mawaddah warrohmah.

Memulai dengan sesuatu yang baik, pernikahan yang diiringi dengan banyak doa restu, karena saya manusia yang percaya selalu ada campur tangan Allah dalam setiap tindak tanduk kita, ketenangan dalam rumah tangga.

**Tulisan ini opini saya tentang pernikahan dan jalur bertemu pasangan yang menurut saya penting, dan saya selalu melibatkan keyakinan dalam semua keputusan.

Karena percaya, jika kita berusaha menjaga diri, Allah juga kirim pasangan yang akan menjaga diri kita dengan baik nantinya..wawlohualam.