Dari kemarin saya baca dan juga menonton video membahas tentang prediksi ditahun 2023, ‘Dunia akan gelap’ Resesi, İnflasi , ancaman perang, semakin padatnya penduduk dunia-8 milyar umat manusia, banyak yang menyarankan untuk mengantisipasi terutama dibidang finansial. Tapi kebanyakan yang saya baca, banyak juga netijen İndonesia yang menganggapnya enteng, ”Ah Ba**c*t” mana yang ngomong cici-cici sama koko-koko lagi*merujuk ke etnis cina-İndonesia. Loh apa salahnya kalau mereka melek bidang finansial dan berbagi informasi?
Pada kenyataannya tahun 2022, dimana Turki salah satu negara yang mengalami inflasi cukup parah dibanding İndonesia, kita yang merasakan kehidupan di negara ini seperti apa pahitnya, Bagaimana mensiasati harga kebutuhan pokok yang naik drastis, bahkan dalam seminggu harga bisa berubah-ubah, sedang pendapatan tetap. BBM? Tidak ada subsidi BBM di Turki, Terjadinya pelemahan mata uang lira, nilainya hampir sama dengan rupiah, tentu saja berat.

Ketika di İndonesia, BBM dinaikkan karena imbas ekonomi dunia , lihat reaksi masyarakat seperti apa? Pemerintah mengurangi ketergantungan subsidi, harga BBM İndonesia karena harga subsidi masih jauh lebih murah.
Saya masih bisa mengatakan, İndonesia beruntung karena tim ekonomi dibawah Bu Sri mulyani cukup baik, İnflasi di İndonesia tidak separah Turki.
Karena merasa aman-aman saja, jadi ketika ada yang membahas ancaman resesi 2023, dianggap hanya omong kosong dan ditanggapi dengan candaan.
–Mengantisipasi apa salahnya—
Hal ini yang kami lakukan, menghadapi kehidupan ekonomi di Turki yang berat dengan kenaikan harga harga cukup tinggi, sekarang memilah mana pos yang lebih penting, mengurangi makan di luar salah satunya, Dana darurat kami usahakan ada dan aman, minimal untuk bertahan hidup. Berhemat bukan berarti pelit dan kurang menghargai diri sendiri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun -tahun kedepan, apalagi Turki berdekatan dengan dua negara Ukraina dan Rusia, hanya dipisahkan laut hitam.
Dunia yang semakin gila
Dulu, dimasa kecil saya pernah baca sebuah buku atau komik yang menggambarkan dunia akhir zaman, betapa mengerikan. Ketika penyimpangan dinormalkan, hubungan inses, orang tidak malu mengumbar aib-nya untuk konsumsi publik, saya mikir, mungkin zaman itu masih lama.
Ternyata diusia yang mendekati kepala empat, zaman yang digambarkan cerita buku dimasa kecil sudah datang, atas nama kebebasan berpikir, hak asasi manusia, banyak yang mulai menunjukan identitas aslinya, bahkan sampai mempermasalahkan identitas diri: saya bukan pria dan juga bukan wanita, saya netral?— Gender beda dengan jenis kelamin dan istilah istilah pembenaran lainnya.
Praktek agama?—Barusan saya melihat sebuah video-seorang perempuan memakai kebaya dengan bahan kain brokat tapi tidak ada kain lapisan lagi dibalik bahan brokatnya, alhasil dari luar yang dilihat dia hanya menggunakan kaos dalam dengan kain transparan, sementara kepalanya ditutup dengan kain rapat, tapi lekukan tubuh dan lengan full terlihat semua, ‘‘yang penting berhijab dulu, karena perintah agama’‘ apa ini juga bisa dijadikan pembenaran? kalau sehelai rambut yang terlihat dianggap aurat, lalu bagaimana dengan lekukan tubuh dan kain transparan yang menunjukan dada dan lengan seksinya?
Lebih mengantisipasi 2024 daripada 2023
Tapi inilah yang saya amati di jagad sosial media tanah air, setiap hari pembahasan dari politik, pemanasan awal menjelang pilpress 2024, isu isu sara sudah dihembuskan, dari mempermasalahkan ijazah asli Presiden, lalu kasus beruntun yang dilakukan institusi kepolisian, semakin menurunnya kepercayaan masyarakat.
Ada mantan pemimpin yang juga mengingatkan tentang ancaman resesi global, dan lagi-lagi tanggapan netijen dengan candaan dan sindiran ke arah politik 2024. Seakan 2023 bisa dilangkahi saja, mengganti pemimpin adalah fokus utama, tidak peduli dunia segenting apa kondisinya.
Mungkin saya terlalu overthinking
Saya mikirnya karena terbiasa berpikir realistis, membaca situasi, Apapun di dunia memang dasarnya atas ijin Allah, sesuatu terjadi maka terjadilah, Tapi mengganggap semua ulasan menakutkan tentang kondisi ekonomi cuma candaan saja, ga patut juga. Kita diberi akal pikiran, ada sebab dan juga akibat. Untuk berpikir, diberi peringatan.
Dan emang imbas situasi geopolitik dikawasan sini saja, setahun ini cukup kerasa, saya sampai pikir ulang hanya untuk membeli tapioka saja, ga nyambung ya? disambunginnya karena harga bahan baku impor naik drastis, kemampuan untuk membeli berkurang, karena harga 5 kg tapioka bisa untuk membeli 30 kg beras, mana yang lebih penting? 30 kg cukup untuk makan sekeluarga 3-5 bulan, atau 5 kilo hanya untuk memuaskan saya makan cilok dan sebangsanya. Jadi harus memilah kebutuhan utama rumah tangga atau sekadar memuaskan lidah satu anggotanya saja.
Ummat akhir zaman
Kita hidup sebagai ummat akhir zaman, tantangan begitu besar, sebagai manusia, anak, lalu sebagai orangtua. Dunia terlalu kejam jika kita tidak memiliki perbekalan cukup dari sisi mental, finansial.
İnternet? salah satu penemuan terbesar manusia modern, untuk menghubungkan antar manusia melintas waktu dan wilayah dalam waktu singkat, memiliki sisi gelapnya sendiri. Di dunia maya, orang bisa jadi apa saja, dari berwujud malaikat sampai iblis.
Orang dengan mudah mencaci maki seseorang dibalik akunnya, kata kata makian, kasar, bahkan ditujukan ke orang orang yang dituakan, adab itu hanya pepesan kosong, Bahkan menfitnah juga dijadikan ladang penghasilan, apalagi mendekati tahun politik, isu apapun yang akan membuat situasi masyarakat tidak kondusif akan di’panas’kan terus.
Orang juga tidak malu membuka aibnya sendiri, padahal Allah sudah menutup aib nya dengan rapat, tapi tanpa tahu malu dibuka sendri -diakun base-(istilah akun di twitter-yang biasanya dijadikan akun utama untuk bercerita, seseorang akan mengirim ceritanya lewat DM atau anonim.Menceritakan aktivitas pergaulan bebasnya, karena merasa aman berlindung dibalik akun anonim.
Ah Dunia memang sudah setua itu
Kadang ketika bangun tidur, saya berpikir, terimakasih ya Allah, masih merasakan bangun tidur dalam kondisi tenang, damai, bukan dibalik tenda pengungsian dengan backsound suara senjata bersahutan, mungkin kalau meminjam istilah netijen yang membuat cerita suasana minggu pagi dengan backsound suara dangdutan, tetangga motong keramik, motong rumput, atau tetangga ribut, suara abang sayur manggil-manggil, masih ada yang harus disyukuri: karena pertanda kehidupan yang sedang dijalani masih normal, roda ekonomi masih bergerak.
Saya?entah siap atau tidak dengan kondisi mental jika peperangan besar terjadi, apalagi di zaman serba maju. Semoga tidak sampai mengalaminya-.-”
Ketamakan, keserakahan manusia selalu ada, nafsu berkuasa, merasa harus menaklukan bangsa lainnya, sampai akhir zaman persaingan itu selalu ada.
Sudah bulan ke-sepuluh di tahun 2022, saya tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun depan, dengan situasi ekonomi saat ini, hanya berusaha semampunya mengantisipasi, menghindari jeratan hutang besar, hidup semampunya. Pikiran pikiran mengerikan itu semoga tidak terjadi, umat manusia tetap damai, sama sama bahu membahu melewati tahun yang berat, menjaga bumi, rumah kita bersama, karena jangan lupakan juga tentang pemanasan global, semua saling erat terkait—

Mungkin yang bilang jangan terlalu panik resesi supaya tidak ada panik banyak orang nahan belanja. Jadi uang tidak berputar. Bila itu terjadi beneran banyak usaha kolaps dan bisa resesi karena uang tidak berputar. Sementara yang bilang bentar lagi resesi berbagai finplanner ya mereka memang usahanya juga disitu, jadi harus dipilah-pilah supaya lebih bijak….
LikeLike
Aamiin mba, semoga 2023 walopun dibilang gelap, tapi ga gelap2 amat Yaa. Aku juga ga mau terlalu terlena banget, ga percaya kalo akan suram, resesi, gelap dsb. Optimis sih boleh, tapi ttp harus hati2 dan prepare untuk yg terjelek. Cash is king sih. Makanya aku agak menahan diri utk naro semua uang dalam investasi. Bbrp investasiku di P2P ada yg ngalamin gagal bayar. Perusahaannya pailit. Untungnya di cover asuransi 90%. Mau bilang gimana lagi. Itu aja udh tanda kalo memang ekonomi sedang ga bagus.
Tapi bukan berarti bakal takut, trus kekep uang trus 😄..palingan aku mau beralih beli2 di UMKM dan tetangga sekitar yg jualan, supaya setidaknya perekonomian bergerak lah. Kurang2in dulu belanja di minimarket asing. Mending di tempat orang lokal atau pasar tradisional sekalian 😁.
2023 aku masih percaya Indonesia ga terlalu parah. Dan semoogaa aja ini Negara2 yg sdg ribut bisa nahan ego dan mau gencatan senjata Yaa. 😦
LikeLike