Saya cerita kilas balik, waktu awal pindah ke kota saat ini, Balıkesir, **buat yang tidak tahu dimana letak kota ini. Balıkesir bertetangga dengan kota Bursa, jadi jika dihitung jarak, 3 jam dari İstanbul, biasa kami menyebrang lewat kapal ferry dari Yalova, bisa juga lewat jembatan, hanya harus memutar lebih jauh sedikit** karena dulu, ex tetangga di komplek lama, kebetulan warlok Turki memberi review negatif dengan daerah marmara dekat mediteranian ini ” mereka (orang balıkesir) sekuler loh!
Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Turki area ini terkenal dengan sekulernya, apalagi berdekatan dengan İzmir, jantung kota sekuler Turki. Suami mengalaminya sendiri, jika ada acara kumpul rekan kerja, biasa kalau musim panas, mereka berpiknik di hutan kota, bersama kolega kerja. Mayoritas menenggak Rakı (alkohol) Kalau sering nonton drama Turki pasti familiar dengan Raki, alkohol yang diminum menggunakan gelas kecil –mirip gelas khusus soju di tradisi korea, tapi versi Turki lebih panjang gelasnya, warnanya bening sering dicampur jadi seperti warna susu basi. Rekan rekan kerja suami peminum alkohol semua, ini baru pertamakali bagi beliau bertemu rekan rekan sekuler, selama bekerja di İstanbul maupun di planet pluto dulu itu, kawan kawannya jauh dari alkohol, jadi jika mereka berkumpul hanya menghabiskan Teh Turki sampai begah.
Suami, jadinya beda sendiri, disaat barbequan bareng rekan kerjanya, mereka makan daging dibarengi alkohol, dia pilih teh sendiri, Di rumah– beliau selalu minta dibuatkan teh dengan teko khususnya itu, sudah seperti jadwal minum obat, pagi-siang-malam— ya daripada beliau nyentuh alkohol, saya rela deh jadi Çaycı (tukang teh) meracik teh Turki sesuai selera–meski belakangan sering beli ceylon tea (teh import dari srilangka:D)
Selalu mendoakan semoga beliau selalu dijaga Allah dari pergaulan nyeleneh sekitarnya, katanya kan lingkungan itu bawa pengaruh. Banyak banyak didoain.
Karena imej daerah sekuler, tentunya saya juga ada perasaan khawatir dengan lingkungan pergaulan di kota ini, nanti bagaimana anak anak di sekolah? lalu bagaimana lingkungan tinggal.
Sebelumnya kami pernah mencoba cari apartemen sewa di pusat kota Balıkesir, sudah deal, tapi karena satu kondisi terpaksa harus lepas, lalu suami memutuskan untuk mengajukan apartemen dinas kembali, permintaan disetujui, karena ada unit kosong, kami diminta memilih, denah dan unit apartemen di email dari lokasi dinas barunya.
Kecewa? awalnya iya, setelah merasa terkurung di daerah antah berantah apalagi pas covid, rasanya merindukan suasana keramaian kota, nasip membawa kami kembali menjadi penghuni apartemen dinas.
Apartemen dinas di kota saat ini bangunan tua, dengan sistem pemanas masih komur (batubara) bukan doğal gaz (lpg gas alam) meski terbilang murah harga sewa per bulan, dibawah harga pasar–TAPİ ada biaya listrik dan komur, yang tidak bisa membuat dompet tersenyum:) tiap tahun ada biaya untuk pemanas ruangan selama musim dingin yang harus dikeluarkan seluruh penghuni-sekitar 9 juta all in termasuk biaya petugas yang membakar batubara di tungku khusus-nanti panas dari batubara itu menyebar lewat pipa pipa besi ke 3 gedung, biaya ini menyangkup seluruh kebutuhan penghangat selama musim dingin. Jadi kami tidak dipusingkan tagihan lagi.–Ribet emang tinggal di negara 4 musim.
Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Kutipan dari surah albaqarah ini serasa menampar saya**plakk gitu***
Saya suuzon duluan karena awalnya teringat ucapan teman, namanya Nazlı, ingetin ya.., ternyata ga semuanya sesuai omongan si nazlı ini.
Ternyata saya menemukan banyak hal baru yang lebih seru di tempat sekarang, tidak semembosankan di planet pluto dulu.
Kursus alquran
OK dari sekian cerita diatas ngalor ngidur mari langsung ke intinya..,
Jadi Bulan lalu saya diajak tetangga yang juga teman dekat, ‘‘ayo ikut kelas tajwid” kelas apa nih? tanya saya kepo”
Lalu si teman menjelaskan tentang kegiatan kelas kuran ini, ” ya udah besok ikut kalau gitu” jawab saya, emang ‘mau-an’ banget orangnya kalau diajak ajak gini, selagi hal positif ya. Karena udah ga lanjut kelas pilates, mending cari kursus yang bermanfaat, lalu ketemulah tawaran ini. Tadinya tertarik kelas Baking kalau buka lagi, tapi belum ada hilalnya. Kursus yang saya ikuti selama ini semuanya tidak dipungut bayaran, karena memang program pemerintah kota, jadi manfaatkan saja program kursus yang ditawarkan.
Kursus alquran ini dilaksanakan di salah satu ruangan sekolah imam hatip **buat yang belum paham apa itu imam hatip, apa hubungannya sama imam s arifin? tidak ada hubungannya yaa, ini sekolahan berakar dari Turki masih dalam bentuk kesultanan Utsmaniyah, disebut juga madrasah khusus untuk calon imam atau ulama di masa tersebut.
Lalu setelah Kesultanan runtuh dan beralih jadi Republik dan berhaluan seluler..apa sekolah ini dtutup? tentu tidak. tetap berdiri, tetap dipertahankan tapi lingkupnya dibatasi,dianggap juga kelas 2-.-” sama kaum seluler. cihhh
Sekolah ini khusus untuk sekolah agama, lulusannya hanya bisa masuk universitas jurusan ilahiyet (agama) ga bisa ke jurusan umum. Emang spesialisasi untuk mencetak imam masjid, guru agama dll. TAPİ sejak dipimpin Erdoğan, mulai diberi kemudahan, karena ehmm beliau juga jebolan sekolah agama ini, sekolah imam hatip dimulai dari tingkat SMP dan SMA saja, lulusan sekolah ini bisa tetap ikut ujian masuk universitas negeri jurusan yang diminati, tidak mesti masuk UİN versi Turki, gambaran mudahnya ini MAN, MTs versi Turki yang secara umur lebih tua dari İndonesia karena sudah ada sejak era Ustmaniyah. Kira kira begitu. Mts versi Turki ini tetap mengikuti kurikulum MEB –departemen pendidikan–untuk pelajaran umum– tapi untuk materi agama dibawah diyanet, dibanding sekolah umum, layaknya madrasah aliyah atau tsanawiyah di İndonesia, muatan pendidikan agama juga cukup porsinya.
Ada mata pelajaran bahasa arab, bhs inggris, alquran, akidah akhlak ya kurang lebih sama aja, karena saya juga lulusan Mts.
Kursus alquran ini dibawah Diyanet (semacam kementrian agama khusus islam, agama lain ehm belum cari info*) sekalian numpang tempat kursus di sekolah imam hatip, semua kegiatan keagamaan diurusin Diyanet, jadi meski Turki seluler, Turki masih punya Diyanet, İmam hatip warisan dari era kesultanan yang masih dipertahankan cuma bentuk dan namanya saja diubah dikit mengikuti Negara Republik, dulu ruang gerak dibatasi, sekarang lebih leluasa.
Kursus alquran juga dimana mana dibuka, jujur memang memprihatinkan generasi boomers Turki banyak yang kurang bisa membaca alquran, apalagi tulisan arab, hasil negara dibawah sistem sekuler yang kuat. Tapi sekarang lebih dpermudah, pemerintah banyak membuka kursus alquran, mengaji dari dasar–Biasanya mulai libur musim panas, anak anak Turki dikirim ke masjid masjid untuk belajar ngaji dan solat, seringkan melihat video yang berseliweran di dunia maya, anak anak Turki berlarian di masjid, imam membagi-bagikan permen, kegiatan meriah–itu adalah kelas musim panas khusus untuk belajar agama.
Kursus ini gratis bagi warga yang ingin belajar agama, tidak ada paksaan, pemerintah hanya menyediakan ruang, pengajar profesional, kebanyakan hafid dan hafidzah yang sudah teruji, mereka digaji resmi pemerintah, termasuk imam masjid seluruh Turki semuanya di PNS-kan negara, supaya mereka fokus ngurus umat dan ga sibuk nyari kerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kelas Alquran pertama saya
Selama di Turki saya sering diajak pengajian oleh tetangga, sebatas hadir di majlis kajian, tapi mengikuti kursus resmi justru didaerah yang katanya si Nazli adalah daerah lumbung seluler Turki. Ajaib kan, bukan dibasis daerah yang katanya lebih islami, tapi daerah yang disebut seluler.*just info** gubernur daerah tinggal saat ini dari partai oposisi bukan petahana.
Lalu bagaimana dengan teman teman kursus? Alhamdulilah mereka juga menutup aurat, berhijab, tapi ada yang menggelitik saya ketika datang pertama kali ke sekolah imam hatip ini, untuk mata pelajaran umum, gurunya dibebaskan, karena rekrutan negara–sama sama ujian dan akhirnya diangkat jadi guru pns bisa ditempatkan dimana saja termasuk imam hatip, guru tersebut tidak berhijab, dia pirang blonde, berpakaian sopan , orang ga akan mengira kalau dia guru di madrasah alias sekolah imam hatip, tapi khusus guru mata pelajaran agama kebanyakan berhijab jika perempuan. Di Turki ini ga mengikat, berhijab adalah pilihan, anak anak sekolah imam hatip juga tidak semua berhijab, ada yang tidak memakai hijab, seragam sama aja dengan yang lain menutup aurat. Umumnya memang berhijab tapi jika anaknya belum siap, dibiarkan saja, itu pilihan dia. Beda ya:D
Apa saja yang dipelajari selama kursus
Belajar tajwid kembali, hukum hukum bacaan alquran, sebenarnya saya pernah belajar juga di İndonesia, seiring umur banyak yang lupa, jadi menggali kembali ingatan masa sekolah dulu, perbedaan hanya dari bahasa pengantar saja, misal belajar tajwid di İndonesia disebut NUN MATİ di Turki disebut SAKIN NUN (nun yang tenang) *NUN di TURKİ ga mati cuma sekarat hehehe, jadi tenang kalem gitu si NUN, saya hanya butuh berpikir keras menterjemahkan ke bahasa indonesia, penulisan İKHFA –jadi İHFA, idgam malgunna–idgam meal gunna– yang mirip mirip saja sebenarnya.
Metode Ustmaniyah
Cara membaca alquran denga metode Ustmaniya, saya belajar dari dasar, bacaan alquran saya dhargai hoca karena memang ada perbedaan dengan İndonesia yang beliau anggap lebih ”tebal” alias medhok, sedang cara baca di Turki lebih ke menengah, bagaimana dengung, qolqolah yang biasa dipraktekan muslimTurki. Buat saya kelas ini menarik, İndahnya perbedaan jadi terasa sekali, saya jadi banyak tahu lebih dalam bagaimana muslimah Turki membaca alquran dengan metode ustmaniya.
Mahzab hanafi
Hoca juga membuka jadwal hafalan, tiap bacaan solat peserta kursus dikoreksi kembali tajwidnya, kami menyetor hafalan mulai dari surah surah pendek sampai bacaan solat. Karena muslim Turki mayoritas bermahzab hanafi, ada beberapa perbedaan bacaan solat:
- Doa iftitah : Dİ İndonesia karena mayoritas bermahzab syafii: ” allahuakbar kabiro wal hamdulilah kasiraa” doa iftiah di Turki sama dengan yang biasa dibaca Muhamadiyah ” subhanakallahumma wabihamdiika”
- Tahiyat : Bacaan tahiyat juga ada sedikit perbedaan.
- Kunut: Doa kunut di Turki ” Allohuma nastaiiinuka waanastagfiruka…”
- Tidak ada bacaan diantara dua sujud. Tidak menunjukan telunjuk ketika baca tahiyat.
Karena menyetor hafalan bacaan solat yang dipakai muslim Turki bermahzab hanafi, saya jadi belajar lagi menghafal qunut dan İftitah.
Dua ayat terakhir Al baqarah, yasin, beberapapa doa lainnya. Setoran dibuka tiap kursus, lalu ada ujian tertulisnya juga. Ya lumayan otak saya berasa ‘ngebul’ karena ada 3 bahasa yang digunakan: Bahasa arab-Turki-bahasa İndonesia–untuk saya pahami sendiri**, apalagi ketika diajarkan belajar tafsir ayat ayat alquran, wah ini….., mana didikte pakai bahasa Turki, takut saya salah nulis, saya sering nyontek teman, kalau tahu bagaimana sistem pondok pesantren mengaji kitab kuning, dulu pakai arab pegon ini pakai bahasa Turki, dan bahasanya sedikit berbeda dengan biasa dikenalkan di kelas kursus bahasa Turki umumnya, banyak istilah baru yang saya dengar. Gampangnya, jika kita membaca alquran dengan terjemah, dan kita baca terjemahannya, bahasa yang digunakan lebih baku dan indah bukan? bukan bahasa yang sehari hari kita pakai, nah kira kira begitu pas hoca menjelaskan terjemahan terjemahan versi bahasa Turki, kadang saya akui ‘lost in translation” jadi pilih nyontek teman dan dia bantu jelaskan dengan bahasa Turki yang lebih mudah heheh.
Kursus seminggu 3 kali, sekali pertemuan 3 jam, sebagaimana umumnya orang Turki yang dikenal peminum teh, biasanya kami disediakan teh juga oleh orang kantin sekolah. Alhamdulilah.
Bedanya HOCA dan USTAZ di Turki
Sekadar berbagi pengetahuan, istilah Hoca biasa disematkan untuk orang berilmu–Guru baik guru sekolah, guru agama, pengajar alquran, dokter, dosen, guru gambar semua dipanggil Hoca, untuk Usta: lebih spesifik orang yang memiliki skill khusus, misal koki selain dipanggil sef juga usta, montir dipanggil usta, ahli listrik juga usta, Baker juga usta, untuk guru pengajar di kursus alquran ini juga kami panggilnya hoca, kok buka ustazah?
Turki juga ada kata ‘ustaz‘ sama sama serapan dari bahasa arab, tapi gelar ustaz tidak untuk sembarang orang, gelar Ustaz hanya diperuntukkan ulama besar, kalau di İndonesia levelnya seperti pendiri Muhamadiyah, NU baru di sebut ustaz, biasa punya jamaah dan karya kitab tersendiri, Ustaz besar yang dikenal salah satunya syeikh Said Nursi ulama era ustmaniyah yang mengarang kitab risale nur–seseorang yang unggul–pemuka agama dengan keilmuan tinggi–master— seperti sosok Alm KH Maimun Zubair baru layak disebut Üstaz kalau di Turki. Kalau untuk istilah Habib ga terlalu populer, mereka hanya akan digolongkan: hoca dan üstaz lepas benar atau tidak keturunan nabi, kalau akhlaknya ga masuk suri teladan, ga dianggap. Salah satu contoh ex ketua partai seluler disini keturunan nabi, yang biasa disebut habib kalau di İndonesia, sayangnya dia lebih cenderung syiah.
Terimakasih sudah membaca cerita ngalor ngidul seperti biasanya:)

waaah jadi tahu sistem sekolah agama di sana mba. Sedih juga pas masih di sejajarkan kelas 2, dan hanya boleh kuliah di jurusan agama yaa. Untung nya skr ada kemudahan. Wajarlah yaaa kalau dari segi bacaan ada berbeda sedikit.
Indonesia memang medhok bangettt, aku aja kadang susah ngikutin. Kaget aku pas tahu boomers di sana banyak yg ga bisa Alquran. Tapi aku mikir gini, jangan2 Indonesia sama aja. Semoga sih ga 😫.
sebenernya yg benar itu Sekuler atau Seluler? Aku biasa bacanya sekuler. Soalnya baca tulisan ini banyak dipakai istilah seluler.
Jadi inget pas trip Turkiye trakhir, guide lokal dari sana, muslim sih, tp boro2 sholat 😂.
LikeLike
sekuler yg benar, cuma plesetan aja:))) tapi salut jg skrg, banyak ibu ibu turki terutama boomersnya meramaikan kuran kursu belajar ngaji lagi, dulu pas muda mereka ga ada kesempatan belajar, keinget cerita ibu mertua, dia belajar solat saja modal baca buku tata cara solat sendiri, saking di zaman itu alergi sekali sama praktek ibadah
LikeLike