Ramadan ke-29 menjadi hari yang sulit kami lupakan tahun ini, tepat 28 maret di hari jumat pukul 20:40 baba mertua dinyatakan meninggal dunia.
Tahun ini, kami mengundang dua sejoli untuk menghabiskan Ramadan di rumah kami kembali, setelah tahun 2024 lalu. Kondisi baba memang menurun belakangan, saya sempat ragu ketika suami bilang ingin mengajak orangtuanya untuk Ramadan bersama di rumah kami lagi. Untuk memastikan kondisi dua sejoli, suami menanyakan ke abangnya, waktu itu memang bisa dibilang ‘lumayan’, meski ada sakit, beliau bisa diajak berpergian, kalau Anne, setelah operasi lututnya kembali, sudah terbilang lumayan. Dan beliau ga menolak untuk datang kembali ke rumah kami. Sejujurnya dua sejoli suka saja diundang bepergian, apalagi semenjak dilarang memiliki sapi sapi, jadi berasa ga ada yang harus diurus kecuali ayam-ayam saja. Jadi Ok saja ketika diminta datang kembali.
Selama Ramadan di rumah kami, seperti kebiasaan tahun sebelumnya, saya menyiapkan ruang tamu untuk kamar tidur mereka, karena model sofa di Turki kebanyakan multifungsi bisa dijadikan tempat tidur, sangat terbantu jika ada keluarga menginap dan memiliki keterbatasan ruang tidur. Menyiapkan yorgan (selimut) bantal bantal—umumnya orang Turki selalu punya ‘cadangan’ sengaja disimpan untuk tamu menginap.
Setelah semua siap, suami menjemput dua sejoli di terminal kota, mereka datang menggunakan bis malam, karena keduanya manula, abang ipar menitipkan mereka ke petugas bis, jaga jaga jika istirahat di rest area, butuh ke toilet ada yang mengantar.Biasanya kami berikan ‘uang extra’ untuk pegawai bis sebagai upah menjaga orangtua selama perjalanan.
Waktu awal datang, baba mertua dengan tongkatnya memang jalannya sedikit lebih pelan dibanding setahun lalu. Tapi kebalikan dengan istrinya yang terlihat lebih gesit diusia 80 tahun, sedang baba setahun lebih muda (79) tampak kepayahan.
Tahun ini, karena usia dan ada sakit, si baba tidak bisa berpuasa, beliau tetap bangun sahur, lalu siang, karena harus minum obat jadinya buka puasa lebih awal, sebenarnya tidak berpuasa, tapi juga ga memilih untuk makan sesukanya.
Mendekati pertengahan Ramadan kondisi beliau mulai memburuk, setiap bersendawa dadanya terasa sakit katanya, suami membawa babanya ke dokter, setelah diperiksa dokter mengatakan kondisi beliau normal saja, jalan nafas tidak bermasalah. Lalu suami memutuskan untuk dibawa ke RS swasta, langsung ke dokter spesialis, karena kalau ke RSU pemerintah, mesti harus ambil jadwal dulu (rendevu) dan tunggu dapat jadwal. Dua kali konsultasi ke dokter spesialis.
Menjelang akhir Ramadan konsultasi terakhir, karena rencananya, hari selasa setelah Hari Raya, Dua sejoli akan pulang kembali di Kota asal, jadi suami mengajak kembali kontrol kesehatan sebelum pulang. Hasil Lab juga langsung keluar hari itu, kondisi jantung dalam keadaan baik, jadi dokter memberi jaminan, tidak ada kendala jika akan melakukan perjalanan jauh pulang ke kota asal selepas hari raya.
Hari terakhir Baba
Pulang sore dari rumah sakit, saya sempat menelpon suami, dia bilang masih dalam perjalanan menuju rumah, karena waktu İftar juga semakin dekat, saya sudah masak sup jamur, ayam kentang dan pilav, hanya tinggal menunggu mereka datang bertiga.
Tidak lama, bel rumah berbunyi, saya membuka pintu, tampak anne sedang memapah baba yang kesulitan jalan masuk rumah, kemudian inisiatif ambil kursi dari dapur, membantu Anne untuk memapah baba duduk di kursi dulu sebelum masuk ruang tamu–karena ada jarak sekitar 2 meter lebih ke ruang tamu.
Setelah baba duduk di kursi yang saya sediakan, bersender juga di tembok, jadi saya pikir Aman. Anne juga butuh ke toilet, sedang saya mau ambil HP di kamar tidur, karena baru di charge-. Di dalam kamar ada si bungsu yang emang suka banget main di kamar orangtuanya, tiba tiba kami berdua dikagetkan dengan suara helaan yang cukup keras dari depan, suara Baba. Karena penasaran, saya langsung hampiri Baba.
Beliau terjatuh dari kursi dan tidak sadarkan diri. Saya reflek panik dan langsung berusaha menarik beliau, memanggil nama beliau keras, tapi tidak ada respon, teriak kencang manggil si sulung, anne dan juga suami, yang pertama datang si sulung, berusaha membantu menyadarkan kakeknya, lalu suami yang baru masuk ke dalam rumah, berusaha tampak tenang, kemudian anne.
Saya minta segera telpon ambulan, suami langsung menelpon ambulan–10 menitan kemudian ambulan datang, langsung ditandu dibawa masuk ke ambulan, waktu itu anne masih berusaha mikir positif: mungkin karena gula darahnya rendah, jadi pingsan, beliau cuma makan poĞaca (roti isi) dan air mineral saja, kata anne. Perut beliau kosong sebelum periksa ke dokter dan setelahnya hanya makan roti isi dan minum air.
Tapi feeling saya sudah jelek waktu itu, karena panik juga, saya telpon kakak ipar perempuan, padahal anne bilang jangan kabari anak anaknya yang lain.
Setelah İftar yang terus terang jadi kurang berselera, karena kami baru mengalami kejadian tidak terduga, lalu solat maghrib. Menunggu kabar dari suami yang menemani Babanya dibawa ke Rumah sakit terdekat. Dan kabar buruk itu datang juga, suami dengan suara terbata bata mengabarkan: ”Baba ölmuş…,” baba wafat, kata suami. Saya pelan pelan memberitahu Anne, tapi anne juga punya feeling.
Wajahnya langsung sayu, terdiam, mulai mengeluarkan air mata, saya berusaha menghibur beliau, ga lama kakak ipar langsung telpon, saya sodorkan ke anne.
Yang membuat kami terkejut adalah hasil pemeriksaan dokter, baba wafat karena serangan jantung?– Padahal baru pulang dari pemeriksaan di Rumah sakit, kondisi jantung beliau dinyatakan baik.
Lepas dari segala kebingungan kami, selebihnya kami pasrahkan pada Allah yang memberi Hidup.
Waktu si Baba di dunia memang sudah selesai, Menyalahkan takdir juga ga elok, menyalahkan kenapa harus datang ke rumah kami.
Maut menjemputnya di rumah kami, bukan di rumah dua sejoli, wafat disaksikan anak menantu dari anak bungsungnya, si bungsu yang mengurus akhir hidup babanya. Semua sudah Allah tetapkan.
Malam sebelumnya, Beliau yang pendengarannya sudah berkurang dan sedikit bicara, ketika kakak ipar dan anak anaknya video call, tumben sekali menyapa dan mengobrol panjang. Diperjalanan ke rumah sakit juga, kata Anne, biasa banyak diam–hari itu ngajak ngobrol terus.
Waktu sahur, saya membangunkan anne, karena tidur pulas- Si baba yang sudah terjaga, ikut membangunkan anne untuk sahur, Biasanya beliau juga ikut sahur, tapi malam itu beliau bilang, tidak makan.
Seminggu sebelum wafat, porsi makan baba mulai berkurang, tidak selahap biasanya. Beliau juga tidak pernah menolak untuk makan makanan İndonesia buatan saya, rasa apapun beliau coba selama tidak pedas, bakwan jagung jadi favoritnya.
Saya masih ingat, pertengahan Ramadan juga, beliau tiba tiba menghampiri saya dan memberikan uang seribu lira, katanya buat jajan. Kenangan kenangan terakhir yang saya rangkum.
Beliau tidak banyak omong, kebalikan dengan anne, jadinya saling melengkapi. İstri yang nyerocos terus dan suami pendengar yang baik, menikah lebih dari 60 tahun. Maut memisahkan.
Pemulangan Baba
Baba dipulangkan ke kota asal pagi, setelah suami mengurus suami proses administrasi, Alhamdulilah bisa diterbangkan ke Ankara, Almarhum dimakamkan di kota asal. Proses dipermudah semua , mulai dari mobil jenazah yang membawa ke bandara izmir, ambulan baik di kota sekarang maupun dari Ankara, pesawat kargo semua ditanggung pemerintah dari uang pajak. Kami keluarga mendiang sama sekali tidak dibebankan biaya pemulangan, pengurusan pemberangkatan jenazah ditanggung semua.
Yang awalnya sempat kepikiran, gimana memulangkan jenazah ke kota asal, bertepatan dengan libur hari raya, dimana arus mudik juga berlaku disini. Ketika jenazah sudah diterbangkan, suami bersama Anne langsung berangkat menyusul dengan mobil, menyetir 12 jam lebih. Saya dan anak anak tidak ikut mengantar kepergian baba di pemakaman.
Selamat jalan Bahri baba..
semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan melapangkan kubur..
diterima segala amal ibadahnya selama di dunia.
Allah rahmet eylesin
mekkanin cennet olsun.

Potret Baba mertua ketika baru selesai wajib militer tahun 1964***

Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, atas meninggalnya Baba. Semoga beliau diampuni dosa-dosanya, dan dilapangkan di alam kuburnya. Aamiin.
Sehat-sehat untuknya Anne-nya, Mbak dan keluarga.
LikeLike
Rahma, aku ikut terharu baca cerita ini. Rasanya ikut kebayang setiap detik momen terakhir Baba, bagaimana semua keluarga ada di sekelilingnya, dan betapa tak terduganya kejadian itu. Pasti berat sekali menerima kenyataan, apalagi baru saja pulang dari pemeriksaan dan dinyatakan sehat. Tapi di sisi lain, indah sekali beliau bisa menghabiskan Ramadan terakhir bersama keluarga, dan berpulang di rumah anak bungsunya.
Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga Baba mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan. Tulisanmu ini jadi pengingat berharga bahwa hidup memang penuh kejutan, dan kita hanya bisa bersyukur atas setiap waktu bersama orang yang kita cintai.
LikeLike