Ketika lulus SD, saya tidak terlalu memikirkan akan meneruskan sekolah dimana, lalu ada kerabat yang masuk pesantren di Yogya, kemudian atas inisiatif keluarga lainnya: mamang, uwak, mereka memutuskan mengirimkan anak-anaknya ke pesantren yang dimaksud, lalu emak saya juga terbujuk, akhrnya ikut mengirimkan saya masuk pesantren.
Tradisi ‘nyantri’ sebenarnya bukan hal asing di keluarga besar, kakek buyut termasuk ulama kampung, bergela kyai, lalu kakek yang datang dari daerah Banten jadi santri di kampung kami saat ini, bertemu nenek berjodohlah mereka. Kemudian jika ada anak keturunannya tergerak jadi santri, hal biasa.
Perjalanan saya masuk pesantren di usia remaja, lulus Madrasah pas masa krisis moneter dan kerusuhan 98, sepupu-sepupu ditarik balik pulang ke daerah asal, karena kekhawatiran yang cukup besar, masa masa sulit rakyat İndonesia, termasuk keluarga kami. Bapak saya terpaksa menjual mobil kesayangannya demi menutup hutang kerugian usaha. Emak saya sampai nyari tambahan jualan bakso, padahal toko saat itu didominasi jualan material, dulu terpikir untuk balik sekolah di kampung saja, tapi herannya saya pilih bertahan di yogya, emak mendukung saja, katanya rezeki anak untuk menuntut ilmu pasti ada saja jalannya, jangan khawatir.
Tahun berlalu, saya sekolah SMA di yayasan umum tapi nyambi nyantri di pesantren lebih kecil saat itu yang didominasi santri mahasiswa, banyak hal juga saya dapatkan bergaul dengan santri senior yang merangkap aktivis kampus kampus ternama Yogya. Masa remaja diisi dengan banyak pengalaman positif dan seru dari teman teman lintas umur, saya aktif ngurus mading pesantren dan majalah pesantren, tim saat itu rata rata mahasiswa, ikut juga aktif di teater, pernah pentas untuk hari jadi pesantren mewakili tim anak sekolah vs mahasiswa, alhamdulilah kita juara, naskah dan merangkap jadi sutradara.
İkut juga jadi tim ‘hore’ salah satu teater mahasiswa ketika pentas di kampus terbesar yogya, kenapa jadi tim ‘hore’ saja?karena saya bukan bagian dari mahasiswa, masih pelajar dan sering menyelundup gabung sama mereka, saking sering bergaul dengan teman teman mahasiswa, kadang saya digeret ikut masuk kuliah umum sama teman, karena seringnya diajak ke kampus mereka, malah tidak tertarik kuliah disana.
Lulus SMA saya gagal masuk kampus favorit semua, opsi masuk swasta, tapi karena saat itu kondisi keuangan juga tidak memungkinkan, terpaksa pulang dulu ke kampung. Untuk mengisi waktu, saya ambil kursus komputer di Tangerang kota, perjalanan cukup jauh tapi saya lakukan tanpa mengeluh, terus terang tinggal di kampung sendiri, saya tidak betah, alasan utama karena lingkungan yang buruk, jalanan rusak parah, berdebu. Apalagi rumah orangtua dipinggir jalan raya karena memiliki toko juga, tiap hari bertarung dengan aneka debu jalanan dari truk truk besar yang melintas. Pengalaman yang cukup saya ingat selama pulang pergi kursus ke Tangerang, pernah terjebak di angkot dan diserang anak-anak berseragam STM, membawa celurit dsb, karena di angkot yang saya tumpangi saat itu ada anak dari sekolah lain yang mereka incar, sungguh dramatis-.-‘ syukurnya tidak sampai jatuh korban, karena orang dewasa berani melerai, saya juga sempat kursus bahasa inggris masih di area Tangerang dan lagi lagi pengalaman bertemu anak-anak sekolah ‘ajaib’ disana, tawuran dimasa itu seakan jadi trend.
Semester baru akan dimulai, saya izin ingin balik ke Yogyakarta, sungguh tidak tertarik untuk kuliah di Jakarta sama sekali, apalagi harus bolak balik naik KRL ke rumah dengan jalanan rusak parah. Akhirnya orangtua mengizinkan, saya kembali merantau, hanya 9 bulan di rumah. Kuliah tertunda satu tahun, saya memulai kembali petualangan merantau di Yogya sampai akhir lulus kuliah.
Karena menurut dosen yang saya hormati, untuk bekerja di Yogya, UMR tidak meyakinkan, terkenal dengan UMR yang cukup rendah, dosen menyarankan saya mengadu nasip ke ibukota, toh bukan daerah asing buat saya, karena lahir dan keluarga besar tinggal di pinggiran Jakarta. Lagi-lagi saya balik ke rumah orangtua. Mendapat kerja di Jakarta selatan, memungkinkan bisa pulang pergi naik kRL setiap hari, kemudian saya pindah kerja ke jakarta utara lalu jakarta barat, capek juga bolak balik , memutuskan kost di dekat kantor.
Terbiasa ‘ngebolang’
Untuk orang sunda yang terkenal betah tinggal di kampungnya sendiri–bukan tradisi suku perantau– saya dan beberapa sepupu ada juga yang berinisiatif mendobraknya, pergi dari kampung halaman. Rasanya pengalaman merantau meski levelnya lokal, tidak sampai jadi tenaga migran di negara orang. Cukup menguji mental untuk bertahan hidup, bertahun tahun jadi anak kost, santri. Ketika takdir membawa saya merantau lebih jauh lagi karena pernikahan, Kemudian saya mikir: bisa jadi pengalaman jatuh bangun hidup di Yogya dulu adalah cara Allah menyiapkan saya untuk tantangan hidup yang lebih besar lagi.
Ternyata hidup saya masih pindah pindah saat ini. Bedanya dulu enteng cuma bawa barang sedikit zaman kost, sekarang seiring umur dan berkeluarga apalagi ada anak, hahahhahaha tantangan juga jauh lebih besar, perencanaan harus lebih matang lagi.
Meskisebenarnya tidak terlalu membuat saya terkejut diberikan ujian sebagai keluarga pengembara (saat ini).
Disaat hampir terlintas ingin mengeluh, kemudian muncul kalimat yang mengingatkan saya tentang hakikat hidup itu sendiri: Hidup adalah pengembaraan jiwa, hidup hanya sekadar menunggu waktu, hidup hanya numpang lewat, karena perjalanan sesungguhnya juga masih panjang. Apalagi banyak sekali kalimat motivasi tentang ‘perantau’.
Dan tidak lupa ayat kitab suci yang mengobati kegalauan:
Al-mUlk ayat 15: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
Lalu tidak lupa: surah Al-hujurat ayat 13:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti.
Ada memang khawatiran tentang urusan rezeki, seperti: ” nanti kalau pindah lagi gimana? bayar ini-itu” seakan disentil sebuah hadist:
Dari Umar bin Khattab ra berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah Subhanahu Wata’ala), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah)
Ya udahlah.
Setiap keputusan apapun selalu beriringan dengan kata sebab-akibat. Apapun yang akan kami lewati dan hadapi, selama percaya Allah maha segalanya, langkah akan terasa mudah dan baik baik saja.
Jadi akhirnya pindah kemana?
Tunggu nanti ya hehehe

Iya juga ya mba. Kalo dipikir2 begitu kadang kita baru sadar, kenapa dulunya dikasih ujian begini begitu, ternyata utk menghadapi tantangan yg lebih besar lagi. Tapi setidaknya mental kita udah siap saat itu . Aku belajar utk ga mempertanyakan kenapa begini kenapa begitu takdir.
Pas awal kuliah di Aceh, Diksh ujian yang gede, trus Ama papa dipindahin secara paksa ke Penang. Sempet nangis, sempet berantem hebat ma ortu, tapi baru 2 tahun kemudian aku tau hikmahnya apa. Tsunami menghancurkan Aceh, termasuk tempat aku tinggal. Rata Ama air.. di situ baru sadar, coba seandainya papa ga keukeuh mindahin aku, seandainya aku ngelawan tetep ga mau pindah, mungkin aku juga tinggal nama skr…
Baru sadar, kalo jawaban dari Tuhan kadang ga saat itu juga datang. Jadi skr ini, tiap ada ujian, masalah, cobaan, ya sudahlah… Terima dan jalanin aja. Mungkin hikmahnya ga datang saat itu, tapi masih bertahun-tahun lagi. Dan terkadang hikmah yang datang justru menguntungkan kita… 😊
LikeLiked by 1 person