Rasa tergila-gila yang muncul pada awal-awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri.(detik.com)
Konon hormon cinta bertahan hanya 4 tahun, menurut artikel yang saya baca setelah googling. Ada yang menulis 5 tahun pertama ujian pernikahan dimulai, apakah karena aktivitas hormon ini mulai berkurang?
Menjalani pernikahan
Karena saya sering menulis di Blog, bagaimana perjalanan hidup selepas menikah, sejujurnya tidak semua saya ceritakan detail heheh, saya membagikan yang ingin saya bagi saja, tentang sudut pandang dan opini dalam menilai sebuah hubungan, itupun berdasar pengalaman yang dijalani.
Tentang hormon cinta diantara kami?
Jujur jika penelitian itu akurat, 4 tahun awal memang masa kritis, bagaimana kami bisa melewatinya kemudian?–
Kami memandang kata Cinta, sederhana. Adanya keterikatan satu sama lain. Ketergantungan, saling mengisi.
Kami merasa ‘klik’–ada komunikasi yang selalu dibuka- Ketika dia memceritakan sesuatu, nyimak tanpa interupsi. Ketika meminta pendapat, usahakan membantu jalan keluar. Ketika salah satu diliputi emosi, beri ruang.
Selalu melibatkan peran pasangan.
Merasa dihargai saja, dia tidak akan memaksakan kehendaknya tanpa persetujuan saya, meski itu urusan untuk kedua orangtuanya. Misal perkara menginap di rumah orangtua: tanya istrinya dulu, kira kira ingin berapa hari, anak anak bagaimana?–karena ketika menikah, Ring 1 adalah keluarga inti yang kami bangun. Syukurnya kedua orangtua kamipun paham akan hal ini, tidak ada turut campur keputusan rumah tangga anaknya.
Jatuh cinta mudah saja, tapi bertahan dalam sebuah hubungan jangka panjang, butuh komitmen kuat diusahakan terus. Saya sadar diri kok, secara fisik-hanya perempuan standar saja, bukan diatas rata-rata, mungkin bukan tipikal perempuan yang bisa membuat pria jatuh cinta dalam pandangan pertama. Tipikal menjalani hubungan pelan, menjalin komunikasi dalam pertemanan dulu. Hingga akhirnya bisa nyaman satu sama lain, bisa mencurahkan segala hal untuk menjaga hubungan tetap dalam koridor. Fisik bisa memudar saya tahu itu, yang membuat bertahan karena diri kita seperti apa, terus memperbaiki diri. Jika memang salah satu berbuat salah, berbesar hati untuk meminta maaf, tanpa harus menebar kode.
Aslinya tipe pembosan! nonton drama saja jika episodenya banyak, saya ringkas langsung episode terakhir. Dulu sempat berpikir, apa bisa orang seperti saya ini menikah dan hidup dengan orang yang sama seumur hidup? Pasti gampang bosan.
Ehm ternyata saya bisa memvariasikan hubungan agar selalu menarik setiap hari, kami mencari-cari apa kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan tanpa sekatan peran suami istri. Kadang kalau baca ulasan atau mendengar ceramah: bakti istri ke suami yang berpahala surga, istri harus nurut kalau….., semua seakan tuntutan diarahkan ke seorang istri dan suami hanya butuh pelayanan. İbu adalah madrasah pertama anak, lalu peran bapaknya dimana? hanya mencari nafkah saja kah?
Ketika tahu kami itu seumuran, hanya berbeda beberapa bulan. Berpikir, sepertinya saya memang merasa lebih nyaman dengan pria seumuran, bisa berbagi peran. Tidak terlalu minta disegani karena merasa lebih tua, atau saya sungkan dengan pria lebih muda, untuk pria lebih muda–saya bukan tipikal menyukai tipe ini–entah ya mandangnya kayak adik sendiri aja. Meski pemikiran dewasa seseorang tidak diukur umur. Tapi untuk diri sendiri, antara lebih tua (masih dipertimbangkan) dan seumuran.
Dia memandang hubungan itu seperti ini:
Ketika sudah menetapkan satu pasangan, kenapa harus memikirkan yang lain? apalagi terpikir untuk memiliki lebih dari satu: yang dia pikir adalah: Apa ga lelah berurusan dengan ‘keluarga baru’ mertua dan sanak familynya (tambah personil) bagaimana dengan urusan asuransi, tempat tinggal, pendidikan anak. Membangun hubungan dari awal lagi, adaptasi lagi, menyatukan isi kepala– (ga berbakat jadi pemimpin jg mungkin) dia memikirkan segala aspek kehidupan dan mempelajari apa itu ke-adilan.
Saya tidak berjiwa sebaik Nabi, adil dalam banyak hal, apalagi orang yang mengaku ‘ustaz’.
Dia ikut terluka ketika saya menceritakan prilaku kaumnya, yang menjadikan dalih poligami, ada yang melakukannya untuk menutupi perselingkuhan saja, istri pertama baru tahu ketika suaminya sudah memiliki istri lain, artinya tanpa sepengetahuan istri pertama. Menjalankan sunnah?
Diskusi seperti ini sering kami lakukan berdua, memandang, menilai kehidupan, langkah apa yang ingin kita ambil.
—
Bukan berarti mulus saja kayak jalan tol, ada juga titik perselisihan, emosi.
Kedewasaan dalam menyelesaikan permasalahan jadi kunci.
Udahlah ngapain sih berlarut-larut…
buang energi.
Pandangan saya tentang pernikahan
Kalau saya tulis jujur: Awalnya karena ingin punya ‘rumah’. Dalam artian memang ada sosok dengan paket combo, tempat saya ‘pulang’. Saya meski cuek, dan terbiasa sendiri dan mandiri dan ngaku pembosan juga. Rasanya menyenangkan saja ada satu sosok yang ngintilin hahahha, Bagaimana peran orang tersebut bisa menjadi bagian rutinitas harian saya tanpa merasa jadi beban.
Saya menulis banyak tentang sikap dia yang kurang romantis dalam artian memberikan perhatian kepasangan secara umum seperti adegan dalam film romantis. Sudah lupakan.
Dirinya dengan paket segala keajaibannya.
Kami berusaha tiap waktu menjaga hubungan menyenangkan saja, tidak ada resep mujarab. Seperti dipostingan sebelumnya, kadang kalau gabut, menjahili beliau menjadi menyenangkan, membunuh rasa bosan dan dia jadi korban.
Hayatım arkadaşım—
Teman hidup, ya teman jalan, teman main. Apalah..termasuk teman gosip, terakhir saya belum menceritakan kalau Fuji dan thoriq putus**lah sepenting itu kah hahaha

Terima kasih untuk tulisannya Mbak Rahma 🤍
Bagian ending, mereka siapa Mbak?
LikeLike
hi ai…apakabar…
mereka tuh selebgram viral aja,ga sengaja baca, kabar putusnya sampai dibahas netijen heheh
LikeLiked by 1 person
Alhamdulillah baik, Mbak.
Mbak Rahma apa kabar?
Oh selegram, pantas sampai dibahas netijen.
Aku seneng ketemu dan bisa baca tulisan mbak Rahma lagi 🤩
LikeLike