Akhir pekan ini, kami bolak balik ke Çorum, tujuan pertama mengantarkan Fatih untk tes beasiswa di salah satu private school, ya kalau keterima alhamdulilah, kalau engga, anggap aja pengalaman. Karena untuk melanjutkan SMP di sana dengan biaya spp 2x gaji baba perbulan, memang bukan level kami.Pilihan sekolah pemerintah, itu tahap kemampuannya karena gratis heheh.
Selesai dari antar anak ujian, kami melanjutkan menjenguk Anne di Desa, Mampir sebentar, Beliau mengeluhkan TV-nya yang rusak, suami langsung inisiatif membawa TV anne untuk dibawa ke tukang service, saya sempat tertegun ketika beliau berbicara, mengeluh sedih ga ada yang membantunya di rumah. Nah ini masalah yang masih buntu. Sedang beliau belum mau mengalah, anak mantu sudah menawarkan untuk beliau dirawat dan tinggal di rumah salah satu anaknya, tapi tetap keberatan, karena sapi-sapinya tidak ada yang urus (sapi lagi heheh) disatu sisi ya saya jadi empati, tapi gimana, jelas kesulitan bagi kami yang memiliki anak sekolah tinggal di desa.

saya sempat main ke atas bukit dan motret, yang saya lingkari, itu desa mertua ditengah ladang gandum, bangunan yang lebih besar dan banyak diatas adalah area pabrik, dipisahkan perbukitan lagi. Karena desa cukup kecil, tidak ada sekolah yang dibangun, anak usia sekolah pergi ke kota. Gersang ya.
Waktu saya turun ke kota Corum, cuaca cukup hangat, padahal jarak dari komlek tinggal kurang dari satu jam perjalanan, kontras sekali suhu- saat itu. Saya sempat motret sekitar komplek sebelum berangkat.

Berkabut tebal dan pohon-pohon diselimuti bunga es, serasa keluar dari freezer ketika menuju kota Corum dan mampir juga ke rumah mertua.
Sehari sebelumnya ambil air di cesme dan main ke sungai kecil tempat favorit saya dan anak-anak main air ketika musim panas, dan ternyata airnya banyak yang membeku.
Hari ke-dua, balik lagi ke Çorum, tujuan utama berkunjung ke rumah kakak ipar nomer 3, yang baru sembuh dari perawatan pasca operasi lututnya, seperti biasa obrolan mereka tidak jauh dari cerita anne-yang masih belum bisa dibujuk. Lalu kakak ipar juga menceritakan kabar bahagia, kalau anaknya nomer 2, baru melamar seorang gadis tetangga desa. Anak nomer-2 ini berusia 26 tahun, bekerja di pabrik mesin, penghasilannya terbilang lumayan untuk daerah kota kecil-di luar kota besar seperti İstanbul. Siap menikah.
Dan seperti sudah bisa dtebak, mereka membahas ‘mahar’ yang diminta pihak keluarga perempuan, sebagaimana adat Turki, pemberian perhiasan emas itu masuk tradisi, dan pihak perempuan yang meminta: kakak ipar sudah ada koleksi 4 gelang emas yg cukup tebal, ternyata minta lima dan satu set perhiasan tambahan- ini belum furniture rumah, menyediakan rumah-bisa beli atau sewa dulu-semua dari pihak laki-laki, pihak perempuan biasanya membantu sisanya, terutama isi kamar, dapur. İntinya dua keluarga urunan ‘membangunkan rumah dan isi’nya untuk pasangan pengantin nanti. Makin pusing lah apalagi negara ini sedang diuji inflasi yang cukup tinggi, harga emas juga naik terus.
Sang calon pengantin memang sudah bekerja dan berpenghasilan, tapi orangtua tidak lepas tangan untuk membantu terlaksananya pesta pernikahan dan ‘Modalin’ awal kehidupan anaknya– kalau dipikir-adat terkadang memberatkan, tapi ya mau bagaimana, mereka yang memutuskan. Yang pusing bukan kakak ipar saja, sebagai adik-minimal kami juga harus menghadiahkan koin emas (ceyrek) untuk keponakan nanti, tahun lalu juga membeli koin emas untuk adiknya yang menikah, tahun sebelumnya keponakan lain di İstanbul, tahun ini keponakan mau nikah lagi-meski belum pasti kapan tepatnya, Emas emang investasi ya, nanti juga mereka balikin ketika Fatih atau Alya menikah juga (masih lamaaaaa)
Pulangnya kami belanja bulanan, karena tanggal 15 adalah tanggal gajian pns se-Turki, jadilah ramai belanja bulanan, sektor swasta biasanya awal bulan, pegawai negeri dipisahkan ditengah bulan, kalau disatukan awal bulan semua, bisa padat pusta perbelanjaan dalam waktu yang sama.
Pulangnya magrib, kata suami ‘ayo cepetan’ nanti takut ketemu babi hutan nyebrang jalan hahaha…dasar orang gunung. Konon katanya sering ada babi hutan nyebrang jalan setiap malam di jalanan menuju arah İskilip, tapi sejauh ini saya belum melihat langsung, masih kurang malam mungkin pulangnya:D tapi ngapain juga nungguin bagong.

Duuuuh mbaa aku salfok Ama foto2nya yg kliatann dingin bangettttt. Winter trip kali ini aku zonk Mulu nih, pengen ngerasain yg dingin banget, tapi kok Yaa malah biasa aja. Mana salju juga ga ada hahahahha. THN ini milih liburan ke India akhir tahun, dan berharap di Srinagar dan Kashmir bakal salju tebel. Kalo masih ga juga, semoga 2024 ke Mongolia beneran dingin wkwkwkwkwkwk. Aku tuh ntah kenapa memang pecinta dingin bangetttt. Selalu suka suasana winter yang menggigit. Mending dingin deh drpd panas. Asalkan baju proper, toh tetep terasa nyaman. Kalo panas, susah 🤣.
Swasta di sana mahal juga biaya sekolahnya Yaa. Tapi dipikir2 swasta di sini juga astaghfirullah kok 🤣. Makanya anak2ku juga aku sekolahin di negeri biar gratis.
LikeLike
awal tahun ini belum turun salju tebal fan
LikeLike