Setelah menanti 7 tahun, akhirnya keponakan ke-dua lahir, Alhamdulilah…,

Kalau dari garis Baba, Fatih dan Alya adalah cucu bontot dari pihak keluarga Turki, sebagian sepupunya sudah menikah semua dan memiliki anak, jadi mungkin tidak terlalu ‘heboh’ penyambutan mereka dulu heheh, karena cucu ke-sekian dan sudah memiliki cicit juga. Berbeda tentu saja dipihak keluarga İndonesia, Apalagi kami memiliki sedikit kenangan sedih ditinggal keponakan, cucu pertama berpulang ke sang penciptanya akhir 2013 lalu. Lalu dua cucunya menetap di Turki, sekarang alhamdulilah jadi ada dua cucu laki-laki yang hadir ditengah keluarga di kampung.

Awalnya saya kira keponakan baru ini perempuan, dari usg pertamanya-meski belum meyakinkan 100 persen, saya pede aja kirim hadiah untuk bayi perempuan, tapi ternyata yang lahir bayi laki-laki.., ehm tahu gitu mending kirim hadiah unisex aja dulu, karena msh belum yakin 100 persen jenis kelaminnya.

Lalu satu lagi keponakan berusia 7 bulan, anak dari adik saya satu-satunya, gelar saya jadi sah : uwak/bude/tante.

Video call juga, melihat emak mendampingi menantunya di rumah sakit, menjaga-nya, sekilas terbersit iri, cuma saya yang tidak dijaga si emak waktu menjalani proses melahirkan dulu: yang menjaga saya, istri dari kakak ipar waktu itu, teman wni, dan istri keponakan.

Mertua? Kami justru merasa kasihan kalau beliau harus menjaga, disamping usianya juga tidak memungkinkan, dan beliau tidak suka İstanbul, Kota besar yang membuat mereka kurang nyaman dengan keramaiannya, ketika anak berusia 3 bulan, kami yang datang berkunjung ke rumah mereka, mengenalkan cucu bontotnya.

Dulu itu sering becanda sama suami: ‘‘punya kantor cabang mertua” yakni kakak ipar no 1, kalau mertua: kantor pusat hahaha, selain secara umur, kakak yang beda 20 tahun, tindak tanduk beliau memang layaknya mertua saja, kalau kami tidak berkunjung ke rumahnya dicariin, dan mertua pusat juga mempercayakan 100 persen keputusannya ke mertua cabang.

Jadi selama kami tinggal di İstanbul, kakak ipar yang bantu-bantu kami, bantu jagain anak-anak juga, hingga sering orang salah mengira, kalau suami saya sebagai anak pertamanya dan saya dikira menantunya hahahah. Mereka yang berjasa diawal-awal kami jadi orangtua baru, Mertua ‘asli’ seringnya sebagai penyuplai makanan saja, selalu kirim hasil kebun, urusan perawatan anak, İbu mertua tidak ikut campur. Karena kata beliau, kami berdua ini pasangan dewasa, ditambah ngurus anak zaman beliau dan sekarang ilmunya beda, keren kan:D ga banyak nimbrung. Cucu dan cicit udah banyak soalnya.

Terus terang saya ikut bahagia dengan kelahiran dua keponakan di kampung, paling tidak bisa menjadi obat rindu, penyemangat kakek neneknya, karena ada dua cucu terdekat dari anak laki-lakinya semua, sedang dua cucu lagi hidup berjauhan di Turki, semoga kakek nenek selalu sehat semua, panjang umur juga, biar bisa kumpul cucu-cucunya semua nanti.