Malam minggu lalu tragedi naas perayaan Halloween di Itaewon, korea selatan jadi pusat perhatian dunia, terutama di sosial media, menonton cuplikan videonya saja berasa ikut sesak, ditambah melihat banyaknya korban berjatuhan, makin tidak tertarik saja untuk menghadiri keramaian massa berkumpul, kampanye politik atau konser musik, rasanya energi kami sudah habis duluan hanya dengan melihat keramaiannya saja dari kejauhan.

Bercerita tentang keramaian, duh jangankan perayaan atau konser musik. Kamis lalu, saya dan suami ke Corum merkez karena ada urusan, setelah selesai dengan urusan hari itu, suami mengajak makan, pilihannya antara makan di food court mall atau cari makan di Çarsi, terus dia keingetan kalau ada restoran baru buka yang menerapkan self service ditambah harganya tergolong murah untuk kondisi saat ini, kemudian beliau mengajak saya ke lokasi restoran tersebut.

Karena kami harus jalan cukup jauh, sedang mobil di parkir di parkiran Mall, jalan yang kami ambil tentu saja lewat carsi, dimana toko-toko berjejeran kanan kiri, suasana cukup ramai dan padat, meski tidak sepadat İtaewon, segitu aja cukup menyulitkan saya berjalan menyusul dia sampai akhirnya saya kehilangan beliau diujung jalan carsi tersebut ” loh belok kemana!!”. Belok kanan atau kiri atau arah lurus, ditelpon juga tidak diangkat. Tidak berapa lama, dia telpon balik, menanyakan posisi saya, kok belum nyampe, ini yang membuat sedikit kesal juga, komunikasi ga jelas, dia tidak bilang posisi restoran itu tepatnya dimana, cuma bilang, ada restoran baru buka di carsi, ya masa saya harus ngider nyari restoran tersebut keliling carsi, suasana siang itu cukup ramai dan padat. Dia ngomel saya ngomel balik, saya sindir balik karena ungkapan kekesalannya itu pas nyampe rumah. ” Saya aries loh, tau kan pendendam” beliau malah ngakak-.-”.

”lain kali kalau melangkah itu yang lebar, jalan jangan lambat” ya Tuhaaaan, harus selebar apalagi:S apa per-langkah kaki harus semeter gitu, Problem sekali jalan sama suami, kalau ga kita gandeng beliau, bisa ketinggalan jauh dibelakang. Mungkin sudah menjadi kebiasaan manusia di negara empat musim, berjalan cepat, apalagi kalau cuaca sudah mulai dingin, saran aja sih, harus gandeng erat pasangan, bukan untuk pamer kemesraan, tapi demi tidak kehilangan ditengah keramaian, bisa ketinggal jauh. Saya tidak menyukai lagi keramaian, apalagi sampai berdesak-desakan, selepas pandemi Corona, bawaannya Suuzon terus kalau berada dikeramaian manusia, ya terkecuali kalau ibadah haji, umroh beda pandangannya ya heheh.

Balik lagi ke cerita tentang Halloween

Halloween dalam bahasa Turki disebut Cadılar Bayramı, Cadı itu : penyihir, Bayram disematkan untuk banyak perayaan di Turki, Perayaan keagamaan, negara atau ya budaya semacam Halloween yang dari akar sejarahnya tradisi pagan, Festival yang dirayakan terutama di Amerika utara, kepulauan İnggris, negara negara barat lainnya dan semakin menyebar ke negara asia juga.

Apakah di Turki, Halloween juga semarak? mungkin hanya dibeberapa titik saja, tempat -tempat orang penikmat pesta, klub-klub, bar, cadılar bayrami partisi, Mereka membuat pesta untuk kalangan sendiri, bukan dalam perayaan besar secara kultur bangsa, tidak begitu populer juga, dikalangan generasi muda perkotaan yang menyukai pesta, minum-minum, mereka juga meng-adaptasi- Festival ini.

Di Turki akhir oktober lebih semarak merayakan 29 oktober sebagai hari Republik, hari negara Republik Turki berdiri, bergantinya sistem monarki ke Republik sekuler. Rakyatnya lebih sibuk mempersiapkan acaranya Hari Republik, biasanya kalau anak sekolah, ada acara -acara di sekolahan masing-masing. Standar baju yang dipakai: Merah, Putih, ada yang bergambar bapak Republik sekulernya, atau pilih yang aman cukup simbol bendera. Secara Nasional dirayakan besar-besaran juga, biasanya kanal TV-TV di Turki, akan menambahkan grafis simbol bendera atau siluet wajah Pemimpin sekulernya.

Jadi apa itu perayaan Halloween? Mengukir labu-labu ?

oktober, labu kuning mulai banyak dijual di pasar

Untuk masyarakat Turki, Oktober adalah musim labu di pasar, banyak petani menjual hasil berkebunnya, seperti di daerah kami tinggal sekarang, banyak traktor diparkir di pinggir pasar, menjajakan labu hasil kebunnya langsung, ukurannya cukup besar, kebanyakan diolah menjadi kudapan manis khas musim semi, kabak tatlisi, bolu labu, atau diolah kolak jika kita merindukan sajian kolak khas İndonesia–ini sih yang ngolah biasanya WNİ- Belum pernah saya lihat orang Turki ngukir labu labunya menjadi ikon halloween, mubazir lah mending disantap.

Kami berdua berjodoh juga urusan pesta, bukan pecinta pesta dan keramaiannya, kalau saya bujuk suami buat joget joget di pesta pernikahan disini aja, ‘‘ngapain sih, kurang kerjaan!’ Beliau lebih pilih duduk sambil mengamati orang orang yang sibuk menari sepanjang malam.