Buat yang belum paham apa itu lojman: bisa juga diistilahkan mess untuk pekerja, atau rumah dinas, dalam hal ini, saya dan keluarga sementara ini menempati rumah dinas atau lojman, sebuah komplek dengan 3 bangunan apartemen yang dilengkapi fasilitas taman bermain anak, lapangan basket, tanah luas untuk berkebun dan ada fasilitas lift, apakah menempati rumah dinas gratis? oh tidak ferguso, tetap harus bayar auto debet dari gaji suami, masuknya langsung ke kas kementerian yang menaunginya.

Kehidupan di lojman

Terkadang membosankan, makanya sering saya tulis di Blog, karena lokasi pembangunan lojman itu ga ada yang strategis, selalu terisolasi dari peradaban manusia modern, coba gitu dekat mall carsi, sekolah, pasti antriannya banyak, seperti di İstanbul. Di İstanbul juga ada, antrian untuk menempatinya panjang, meski tetap lingkungannya terisolasi dari apartemen biasa, ya tetap jauh dari peradaban, ga mungkin didekat mall heheh, karena harga sewa tetap dibawah pasar. Tiap tahun selalu saja berganti tetangga, ada yang pindah dinas dan masuk lagi penghuni baru. Saya aja jadi malas bawaannya kalau kenalan ulang terus, ya seperti si Alya yang tahun ini sedih, karena sahabat satu satunya di lojman, sudah pindah ke kota lain, awal musim panas lalu, dia jadi ga ada teman dekat lagi, termasuk saya juga! teman yang lumayan dekat semuanya sudah angkat kaki dari lojman, datang penghuni baru.

karena bukan tipikal emak emak suka gaul dan nenangga, jadilah saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah aja, masih kenal beberapa penghuni lama tapi ya segitu aja levelnya.

Kegiatan harian:

Layaknya ibu rumah tangga biasa, karena anak-anak sekolah masuk siang semua, bangun pagi tetap menyiapkan sarapan, juga buat menu untuk bekal anak sekolah, ngurusin si bungsu dan abangnya, siang mobil jemputan menunggu di depan gerbang lojman, mobil ga bisa masuk komplek, khusus penghuni saja, karena gerbang komplek itu bukanya harus pakai remote kecil, dan hanya penghuni yang punya remote ini, pembuat gerbang dan pasang remote adalah para tahanan yang ahli mekanik lapas, waktu pembangunan gerbang ini, ibu ibu jarang keluar gedung, karena banyak tahanan yang bekerja, ya kalau mau ngecengin sih ga ada yang larang, paling para suaminya yang negur heheh. Saya ingat sekali waktu ada gosip, mantan pelaku kejahatan yang udah bunuh 14 orang juga ikut kerja bakti di komplek dinas, waktu itu sedang kumpul di salah satu rumah tetangga, kita jadi pengen ngintipin keluar sambil nebak, yang mana kira -kira tahanan tersebut?

Biasanya sore, anak-anak main di taman, terus ibu ibu nge gang duduk duduk di gazebo , sambil bawa makanan dari unit rumah, duduk dan ngobrol, nge-cay dan tentu saja bergosip, iya bergosip, apalagi sih kegiatan emak-emak komplek disore hari sambil momong anak, nunggu para suami pulang kerja, ga jauh dari dunia pergosipan juga, soalnya saya ga yakin, mereka bahas saham, politik dunia, global warming, bahas nuklir korea utara.

Saya? kadang kalau diajak ya datang, kebanyakan cuma dengerin obrolan, sesekali nyautin, soalnya emang mereka bergosip, tentang mertua:P ipar..ya seputaran itu lah. Sekarang, semenjak teman teman dekat udah pindah dari lojman, jarang keluar lagi, canggung aja kalau ga terlalu dekat terus nimbrung.

salah satu komplek lojman terbesar di istanbul-silivri–modelnya tetap sama, jauh dari peradaban, ke pasar jauh, sekolah jauh..

Di rumah terus

Selama fasilitas mendukung, diam di rumah terus, kadang keluar cuma seminggu sekali, kalau ada kebutuhan mendesak ke carsi, keluar rumah cuma nungguin mobil jemputan anak sekolah, selebihnya kehidupan nongkrong di taman atau gazebo udah jarang dilakukan. Cari kegiatan sendiri aja di dalam rumah, kadang ngobrol dengan teman via hp, atau melakukan panggilan video call dengan keluarga, sisanya kegiatan ibu rumah tangga saja, disambi motret, nge Blog, buka sosial media, nonton drama dan kegiatan lainnya, bisa dibilang sepanjang menetap di lojman, kehidupan saya ga jauh dari interaksi di dunia maya.

Ditambah kondisi ekonomi yang kurang baik, ongkos atau biaya BBM naik, untuk sering berkunjung ke rumah teman WNİ juga jadi pikir ulang, biasanya sekalian dengan urusan lain. Kalau bisa sekalian bertemu.

Tahun depan jatah 5 tahun menempati lojman sudah batas akhir, antara pindah kota atau pindah ke carsi sementara, untuk pindah jauh, si Baba mempertimbangkan karena kondisi orangtua di köy, jarak tinggal kami saat ini 1 jam perjalanan, jika ada apa-apa, si baba lebih mudah menjenguk orangtuanya, berpikir untuk ikut ujian kenaikan pangkat saja belum ada, karena otomatis akan dipindahkan.

Kenapa tidak mengajak mertua tinggal bersama? mereka berdua menyukai hidup di pedesaan dengan halaman luas, memiliki hewan ternak, sedang kami hidup di gedung bertingkat, yang hanya memiliki balkon. İbu mertua pernah datang ke İstanbul untuk pengobatan 3 bulan, beliau cukup stress terkurung di gedung bertingkat, tidak menyukai rumah tipe apartemen. Sedang kami tidak memungkinkan tinggal di desa, karena tidak ada sekolah sama sekali, jangan dibayangkan tipe desa di İndonesia dan pedesaan di Turki kadang kontras, penghuni desa mertua kurang dari 100 jiwa, kebanyakan penghuninya usia tua, tidak adanya fasilitas pendidikan, karena emang kecil sekali desanya, kalau dibanding kampung saya di İndonesia, ukurannya cuma wilayah RT saja, dulu si Baba pilih tinggal di kota untuk sekolah, menetap di rumah kakaknya dan kemudian tinggal di asrama, karena bolak balik desa, cukup jauh.

Lebih nyaman tinggal dimana

Terus terang, komplek lojman itu nyaman sekali, ukuran unitnya juga besar 3+1 : dua balkon, 1 dapur dan satu balkon utama, 1 toilet jongkok dan lavabo-khusus untuk tamu, 1 kamar mandi utama, 1 kamar mandi dalam untuk kamar utama dengan harga sewa jauh dibawah pasar, tapi lokasi terpencil yang artinya untuk mobilitas penghuni, ya kita keluar biaya lebih besar, anak-anak sekolah menggunakan mobil antar jemput, jarak ke market juga cukup jauh, kerasa sekali ketika harga BBM naik.

Meski nyaman secara fasilitas, tapi sebagai orangtua yang memiliki anak usia sekolah, tinggal di lojman tidak ideal, gimanapun pastinya sebagai orangtua ingin memfasilitasi pendidikan anak yang terbaik, sekolah berkualitas salah satunya, lalu apakah sekolah berkualitas dibangun di antah berantah? pastinya tidak. İnilah yang selalu jadi pertimbangan para tetangga di lojman sering bongkar pasang tiap tahun, apalagi jika anaknya semakin besar, mereka lebih pilih menetap di tengah kota demi sekolah anak. Biarkan baba nya yang kerja di daerah terpencil, toh ada mobil antar jemput juga untuk babanya.