Hari jumat, 7 oktober. Untuk pertamakalinya saya datang ke acara maulud nabi di kota sekarang tinggal, menghadiri pengajian ibu-ibu di masjid syeih muhidin yavsi, nama masjid yang diambil dari nama seorang ulama dan guru dari sultan bayezid II masa Ustmaniyah, Sejarah ulama ini erat kaitannya dengan kesultanan Ustmaniyah, Saudaranya bernama Ali kuscu adalah seorang ilmuwan, ahli astronomi dan matematik sedang anaknya, Ebussuud efendi adalah seorang ahli hukum, Hakim islam yang cukup berpengaruh besar di era Suleiman İ dan Selim İİ, dia juga bergelar Syaikh al islam -ulama besar.

Makam Ebusuud berada di İstanbul, sedang ditanah kelahirannya, makam keluarga termasuk ayahandanya yakni syeih Muhidin, dimakamkan berada di komplek masjid ini.

Undangan Mauludan

Saya dapat undangan dari grup WA kelasnya Alya, acara khusus ibu-ibu, berhubung suami lagi libur, beliau mengantarkan saya sampai depan masjid kemudian dia melanjutkan perjalanan menuju arah yayla untuk mengambil air bersih di cesme. Saya pikir, ada kenal tetangga di komplek yang datang, karena anaknya juga satu kelas dengan Alya, ternyata saya sendiri, semua wajah wajah asing. Masuk saja ke dalam masjid, mengikuti rombongan ibu-ibu yang berbarengan hadir ke majlis maulud, saya duduk ditengah-tengah, karena sekeliling tembok sudah dikuasai ibu ibu yang senderan, baiklah pasang wajah lempeng aja, senyum dikit, paling juga mereka merasa aneh, ada wajah asing ditengah tengah mereka, gimanapun wajah indonesia turunan sunda yang selalu dikira korea,jepang,cina tidak bisa dikira wajah arab yang mirip dengan wajah sebagian orang Turki, mungkin kalau wajah saya mirip mirip shireen sungkar, ya dicuekin aja, karena mirip wajah lokal Turki dengan hidung mancungnya, tapi karena wajahnya bule indonesia jadi sering dilirik beberapa ibu-ibu terus, mau nanya?..minta tanda tangan ya??**pede sekali, dikira artis***—begitulah suasana di dalam masjid.

Acara mauludan ini menjadi berkesan karena tentu saja berbeda dengan yang biasa dihadiri di İndonesia, pengajian ibu-ibu, di Turki sejauh yang pernah saya hadiri, untuk kajian ibu ibu dan bapak-bapak kebanyakan terpisah, dan acara pengajian mauludan ini meski diadakan di dalam masjid, tidak ada bapak-bapak sama sekali di dalam, kebanyakan kaum pria mengalah dulu duduk-duduk di luar masjid dan di taman, karena didalam masjid digunakan acara ini.

bapak2 yang duduk di halaman masjid, karena masjid di pakai pengajian ibu ibu

Seperti apa acara pengajian mauludan di Turki?

Karena jumat lalu, saya hadir agak telat, masjid lokasinya di pusat kota, sedang saya dari planet pluto (hiperbola dikit) Ketika saya masuk, acara sedang berlangsung. Beberapa perempuan bergamis hitam yang saya tebak mereka para hafizah pengisi acara, biasanya mereka juga bercadar, tapi karena acara ibu-ibu, cadar dibuka. Salah satu melantunkan ayat suci alquran, kemudian dilanjut pembacaan selawat, lalu ada tausiyah dari ustazah, isi materi tidak jauh dari pembahasan suri tauladan nabi, kemudian yang cukup menarik tentu saja pembacaan selawat serif yang biasa dilantunkan muslim di Turki, kalau penasaran bisa cek postingan instagram saya sempat mem-videokan, nah dulu, masa di İstanbul, saya juga sering diajak pengajian ibu-ibu di mahalle–pengajian ibu-ibu dilingkungan RW begitulah kira-kira– setiap pengajian ditutup dengan bersalawat serif ini, biasanya para jamaah akan saling bergandengan tangan ketika bersolawat, ternyata tidak demikian dengan di İskilip. Ketika kita semua berdiri menghadap kiblat, biasanya hanya duduk saja dan bergandengan tangan. Saya ikutan berdiri, kemudian bersolawat bersama para jamaah lainnya.

Selesai solawat ternyata ada tradisi unik, setiap orang saling mengusap punggung secara estafet, saling mengusap punggung layaknya meringankan kesedihan ditinggal seseorang, layaknya luapan rindu dan saling menenangkan, saya akhirnya ikut larut, mengusap balik punggung ibu ibu lain meski agak canggung, karena pertamakalinya.

Sebelum azan ashar berkumandang acara selesai, setelah pembacaan doa, jamaah pengajian maulud membubarkan diri, di pintu keluar. Ada dua ibu yang berdiri di kanan-kiri pintu membawa sekotak coklat dan kolonya, membagikan coklat dan memberi kolonya ke tangan kita, ini tradisi yang umum di Turki.

Ketika sudah diluar masjid, saya langsung telpon suami, beberapa kali melakukan panggilan, tidak diangkat ”waduh jangan-jangan lupa kalau ninggalin isterinya di masjid”.

Hingga akhirnya kecurigaan saya terjawab, suami pulang duluan ke lojman, loh ditinggal!! kemudian dia bilang melalui telpon, akan jemput saya di depan masjid. Alasan dia pulang duluan, karena mau urus pemutusan wifi di rumah, selama ini kami menggunakan TTnet-semacam produk İndehoy kalau di İndonesia, karena inflasi, ada kenaikan biaya bulanan, suami ingin beralih ke vodafone, karena lebih murah. OK ada harga ada kualitas memang, ya beginilah, situasi ekonomi negara tinggal tidak sedang baik-baik saja, kami juga banyak mensiasati kebutuhan sehari-hari, mana yang lebih prioritas dulu, kalau kebutuhan pos lain bisa ditekan, dialihkan diganti ke merk lain, ga masalah. –Kebiasaan ujungnya curhat—ya suka suka bloggernya ya:V—

Menurut saya pribadi, dimanapun kita tinggal, cukup ambil yang baiknya dan jangan ditiru prilaku buruknya, Turki secara negara sekuler dan banyak sekali kehidupan sehari-hari diperkotaan jauh dari agama, sebagian juga menggunakan identitas busana atau pelengkap semacam tasbih ya hanya aksesoris. Tapi bukan berarti ‘cahaya islam’ redup, Dimanapun saya tinggal, doa yang tidak saya lewatkan selalu meminta dipertemukan lingkungan dan orang-orang baik. Sebagai penghiburan juga karena jauh dari sanak family. Meski saya tidak mengenal satupun jamaah di majlis tersebut, ikatan ukhuwah islam itu tetap ada. Ya semoga saya, kita semua sebagai muslim tentu saja, mendapatkan syafaat dari Nabi besar Muhammad SAW di yaumul akhir, dikumpulkan bersama Baginda Rosululloh di surga-Nya. Amiin.