The power of smartphone, tadi baca tulisan ini yang intinya, karena 1 alat canggih bernama telepon genggam yang bisa menghasilkan atau merugikan, semakin tipisnya dinding privasi seseorang, siang hari atau malam hari setiap orang bisa terhubung dengan mudah, dan menjadi sebuah celah..,

Zaman sekarang membaca berita perselingkuhan begitu mudah, kemarin pagi hari begitu saya buka twitter, ramai membahas reza arap dan adam levine, terkait berita perselingkuhan keduanya, urusan dapur rumah tangga yang entah akurat atau masih menjadi kabar burung, begitu cepat menyebar dan hangat diperbincangkan netijen, lalu teman teman yang jomlo mempertanyakan kesetiaan semua pria dimuka bumi., (iya mungkin ya, soalnya ga survey keliling dunia)

Kalau menurut Raditya dika, ngutip dari salah satu podcast:generasi sekarang dalam mencari cinta tantangannya terlalu berat, Kita hidup di zaman banyaknya opsi yang tersedia, terlalu banyak pilihan yang membuat diri sendiri sulit untuk milih?–ehm bentarrrrrr..., dalam konteks pencarian pasangan mungkin ya, orang masih galau untuk memilih mana yang terbaik yang akan diajak serius untuk sampai tahap pernikahan, tapi kalau sudah MENİKAH?—maksudnya kok masih bisa selingkuh? Dia masih bingung dengan pilihannya, dia belum punya prinsip yang kuat. Orang yang sudah paham dengan prinsipnya, dia tau apa yang dia mau, dia punya indikator atau tolak ukur, kontrol diri yang tinggi, masalahnya bukan karena banyaknya pilihan, tapi mindsetnya orang tersebut. Merasa cukup dengan satu hati, karena apa yang dia inginkan sudah ditemukan dalam satu sosok? Rasa syukur yang belum tertanam cukup dihatinya, sehingga selalu mencari celah kekurangan apa yang sudah ada disampingnya.

Tidak semua pria sama

Bosan juga jadi netijen disuguhi berita perselingkuhan terus, membuat sebagian besar orang yang sedang berusaha mencari pasangan jadi mempertanyakan kesetiaan. ‘‘istri secakep itu aja diselingkuhi’!

Lalu banyak istri yang tidak percaya diri, menjadi lebih curiga dengan suaminya sendiri. Ada bentuk keraguan yang tercipta dan menumpuk, salah satu penyumbangnya bisa jadi dari sosial media, telepon genggam yang setiap hari menemaninya, membaca berita perselingkuhan idola kesayangan.

Pentingnya ‘seleksi’ dari awal

Bibit perselingkuhan bisa terdeteksi dari awal pendekatan juga, ketika pacaran sudah diselingkuhi, lalu memaafkan, yakin akan ada perubahan menjadi setia. Bisa berhasil disekian orang tapi tidak bisa menjadi tolak ukur semua berhenti untuk main hati ketika menikah.

Ah ruwet emang hubungan manusia itu, ada juga insting ketidak puasan akan sesuatu yang muncul dan dia tidak bisa menekannya dengan prinsip dan kecukupan dalam arti bersyukur.

Mencegah perselingkuhan

Saya bukan pakar percintaan, untuk urusan hati seseorang sulit terbaca dengan jelas, hanya menjalankan apa yang menurut saya bisa menguatkan sebuah hubungan: Komunikasi dengan pasangan harus lancar, usahakan selalu ada waktu berkualitas berdua disela kesibukan dia kerja dan kita urus rumah tangga, kadang hubungan memang bisa saja bertemu titik jenuh, lalu bagaimana caranya untuk kita ‘menghangatkan’ kembali, jangan terlalu monoton. Telepon genggam juga bisa jadi sisi yang menguntungkan selain membaca kisah perselingkuhan terus, Mencari referensi bacaan tentang hubungan harmonis dalam rumah tangga, banyak juga ilmu ditebar lewat media sosial.

Kita mencari bahagia berdua, jangan hanya satu pihak: saya akan membahagiakan dia, lalu bagaimana dengan diri sendiri? kita harus sama sama bahagia menjalani sebuah hubungan, menguatkan dikala kesusahan, saling meredam dikala kepung amarah…, Hubungan jangan dibuat semakin hambar, dibutuhkan bumbu bumbu penyedap yang kita ciptakan sendiri, jangan sampai mencari bumbu penyedap dari luar, itu saja.

Ah udah ya..