Saya juga membaca berita tentang seorang ibu yang depresi di salah satu kota di jawa tengah sampai menghilangkan nyawa anaknya. berita viral, tidak lama ulasan tentang, perempuan dan depresi banyak dishare juga oleh teman teman di sosial media. Jadi ibu rumah tangga ? Jelas tidak mudah. Beban kerjanya juga sama berat. Terlepas dari kasus yang cukup memprihatinkan tersebut, saya menulis tentang Cinta dalam rumah tangga yang seharusnya seperti apa. Adakah cinta jadi faktor pemicu?

Pacaran vs menikah

Pernah scroll di media sosial, salah satu akun yang mengulas dunia perbucin-an, rata rata remaja atau pasangan muda yang sedang menjalin hubungan asmara. Jadi teringat sebuah sound di Reel İnstagram yang sempat viral juga, kira kira kalimatnya: ” Adeeeekkkk…cinta tidak selamanya indah deeeek” ada yang pernah dengar juga? Tapi memang ada benarnya, cinta tidak selamanya indah, masih mesra bisa membuat video imut, romantis, couplegoals, ketika off camera, belum jadi jaminan 100 persen sama, ya lagi-lagi masalah pencitraan di sosial media. Pasangan sama sama goodlooking ditambah Goodrekening, lalu bisa posting video romantis dengan latar Eiffel..wow sekali. Apa mereka benar benar bahagia? dan terhindar dari tekanan mental, depresi? tidak jadi jaminan juga. Nah bisa jadi kebahagiaannya juga palsu, apapun demi konten misalkan. Bisa juga opini saya terbantahkan, atau benar adanya. Tanpa genelisir loh ya.

Kasus lain ketika saya menemukan komen seperti: ‘‘ Ya Allah capek skripsi, pengen nikah aja”, ” ya Allah capek sekolah, pengen dilamar aja” sering ga menemukan komenan seperti ini? karena trend nikah muda, nikah sama pasangan goodlooking kayak lee min ho, nikah karena good rekening, pokoknya harus ikut trend, atau nikah karena ada yang mau aja daripada diteror tetangga terus yang perhatian, apalagi keluarga besar.

Ada banyak alasan setiap orang ketika memutuskan menikah, perasaan cinta yang sedang menggebu bisa menggeser logika, nasehatin orang yang dimabuk asmara serasa ngomong sama tembok?-

Posisikan seperti ini, ketika kita ingin memiliki sahabat dekat, tentunya nyari orang yang asyik, nyambung kalau ngobrol, bisa bahas obrolan apa saja, wawasan luas, ga ada jaim, bisa ketawa bebas, iya nyari teman seringnya butuh satu frekuensi. Tapi kebanyakan orang berusaha mengubah dirinya dalam artian penampilan, atau karakternya supaya disukai, ya kesan pertama. Ga salah memang, karena pria makhluk visual, ga dibenarkan juga pertemuan pertama, datang dengan wajah baru bangun tidur, bau ketek. Penampilan berkesan tentu saja bagus. TAPİ jangan menghilangkan jati diri sebenarnya, padahal aslinya kalau ketawa ngakak kayak nunung srimulat, demi sang ‘crush’ tiba tiba berubah seelegan kate midleton, atau bak puteri keraton, Begitu menikah, pasanganya shock berat. Kok ternyata aslinya?.

Maksudnya kejujuran diawal sebelum melangkah kejenjang serius itu penting untuk saling diceritakan, misal: Punya kebiasaan bangun telat, nanti kalau sudah menikah solusinya gimana membangunkan tidurnya dan dia tidak marah-marah, harus buat kesepakatan. Sulit memang tapi usahakan membuka komunikasi pelan pelan, Apa yang disukai dan tidak disukai dalam sebuah hubungan.

Perempuan ketika jadi ibu rumah tangga rawan depresi?

Lalu masuk ke perkara: Perempuan ketika jadi ibu rumah tangga rawan depresi? Karena pekerjaan rumah tangga juga berat. Ada tidak solusi dari calon suami? apa dia akan membayar upah ART untuk meringankan pekerjaan rumah tangga, atau dia sendiri ikut turun tangan membantu istri? Bisa loh dibicarakan dari awal sebelum memutuskan menikah.

Ketika sang calon suami bersiteguh kalau urusan domestik rumah tangga itu pekerjaan istri sepenuhnya sebagai ‘bakti’ dengan iming-iming pintu surga? sedang hati kecil kamu tidak puas dengan pemikirannya dan tanpa solusi, kalau mengedepankan ‘cinta’ saja, dan berharap keajaiban doa bahwa kelak ketika menikah dia akan berubah menjadi ringan tangan bantu istri, ya bermimpi saja, siapa tahu memang terjadi, dapat ‘hidayah’ ? atau bibit awal depresi yang akan ditemui nantinya, Red flag yang berusaha dianggap tidak akan terjadi.

Cara saya mengelola stress dalam rumah tangga

Mbak kamu beruntung, mbak kamu rumah tangganya harmonis ya?” ehmm doa baik saya amiinkan dulu. Tipsnya? tidak ada tips yang dijamin akurat untuk setiap orang. Saya hanya membagi cerita tentang sekelumit perjalanan cinta hingga berumah tangga.

Bukan perempuan yang terbilang mudah dapat pacar? iya, cukup tahu diri kalau mandang fisik? Bukan perempuan feminim, lemah lembut, gemulai, atau sesuai kriteria cowok umumnya. Penampilan cenderung tomboy meski sudah berhijab sejak Mts, pakaian selalu kasual. 3x mengalami patah hati karena one sided love, ya mungkin bukan tipe mereka saat itu. Dari kesakitan kesakitan itu banyak pelajaran, dulu karena merasa ‘dekat’ saya banyak belajar tentang karakter karakter mereka.

Saya juga ga malu selalu jadi orang ketiga sebagai ‘obat nyamuk’ nemenin teman pacaran, asal perut kenyang dijajanin, dijadikan tameng izin buat jalan ke orangtuanya. Saya mengamati mereka yang sedang pacaran, memantau sambil makan bakso. Mental saya cukup tangguh dibilang manusia cuek. Kenapa harus malu? lah dapat makan gratis, jalan jalan gratis (maklum motto anak kost dijamannya ya kaaan) Kemudian dijadikan tempat curhat ketika mereka patah hati juga, sambil belajar menganalis sebab musababnya hubungan sang teman berantakan. Pengalaman ini yang jadi modal saya ketika ngerasa siap berhubungan dekat dengan seorang pria. İbarat mau melamar pekerjaan, CV saya cukup bisa dipertimbangkan, Percaya diri memang perlu:D

Dan dasarnya memang sudah tiba datangnya Jodoh, Allah pertemukan dengan pak emus ini, orang yang tidak keberatan atau ilfeel ketika saya banyak nanya, obrolan jadi berwarna, ketika muncul ketertarikan, dia jujur ngerasa ‘nyambung’, tidak obral kata manis bak scammer cinta, seni seviyorum…vb. Dan saya juga jujur dengan kehidupan saat itu sebagai anak kos, nyuci setrika bayar orang, ga masak sendiri, tiap weekend biasanya kumpul sama teman, kadang pulang ke rumah orangtua. Saya tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah, pulang ke rumah orangtua, paling cuma disuruh nyapu halaman dan dalam rumah. Seringnya cuma itu, masak semuanya si emak, kadang bantu nyuci piring, kalau nyuci baju gantian. Terbiasa di kost, maunya kalau pulang istirahat, karena 5 hari kerja. Orangtua paham.

” Dek cinta tidak selamanya indah dek..tapi cinta juga harusnya ga bikin depresi”

Dengan kondisi seperti ini bagaimana? artinya saya tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pekerja kantoran, dia paham karir saya waktu itu, ada yang saya korbankan jika menikah dengannya, ada imbal baliknya atau tidak? oh jelas ini saya pertimbangkan penuh.

Bagaimana pandangan dia tentang berumah tangga dengan perempuan seperti saya. Kesepakatan dibuat, pekerjaan rumah tangga diurus bersama. Deal!

Meski orang bilang saya ketemu jodoh di internet dengan super nekad, saya tetap tipikal manusia penuh perencanaan dikepala selalu ada plan A dan Plan B, terlihat nekad, aslinya semua dipikirkan matang. İngat dalam rumah tangga modal cinta saja tidak cukup. Dibutakan kata cinta karena pasangan good looking saja, tapi minim tanggung jawab, atau pasangan yang meromantisasi ‘dalil dalil surgawi’ tapi memperlakukan istri bagai pelayan saja. Tidak! saya tidak akan luluh, pernah dijuluki bani israel gitu dimasa sekolah, karena ngeyelan plus rebel, tidak mudah tunduk sama aturan sampai bisa saya nilai masuk akal, untuk aturan sekolah sih ya:D lalu Hasilnya?

Memasuki tahun ke 11 pernikahan, Beliau tidak banyak berubah selain kemajuan perut depannya, tetap membantu pekerjaan rumah, dia tahu tugasnya apa saja. Kami tetap melakukan kerja bakti berdua untuk mengurus rumah dan anak-anak. Saya juga terbuka untuk segala keluhan, misalkan, mendekati PMS, udah memperingati suami, kalau nanti keluar kata-kata ketus, omelan ga jelas di dapur, ngoceh sendiri di kamar, atau tiba tiba saya teriak melihat anak berantem, dia tidak usah menanggapi. Cukup diam, atau menghindar saja, atau cukup sediakan kuping saja mendengarkan istri nyerocos, meski ga semua dia pahami, terkadang menggunakan bahasa sunda atau İndonesia.

Ketika mens pertama datang, saya laporan, dia spontan mengatakan:” elhamdulilah Çok sükur” heheh, Mood saya biasa membaik dan maunya rebahan, hari pertama, badan lebih suka diistirahatkan. Pernah juga kita ngobrol perkara mens perempuan, karena saya cerita bagaimana kondisi emosi ketika pms, rasanya tidak jelas. Dia malah menghubungkan dengan cerita kerabatnya: ” apa si abla gara-gara pms juga ya, kabur dari rumah?’‘ ujarnya. ” hah si abla B kenapa?” tanya saya. Lalu dia mengatakan :” kemarin dia telpon sedang kabur ke rumah paman, gara gara berantem sama suaminya” . ” lah itu sih belum tentu pms, emang dasarnya aja sama sama keras berdua” iya juga ya. Lalu saya nyeletuk ‘‘ besok besok kalau pms pengen kabur juga ke İndonesia, lumayan mudik tiap bulan” spontan dia bilang ” para var mi? lalu ketawa berdua, menertawakan isi dompet yang kering.

Keterbukaan

Saya tidak malu untuk bilang ”sıkıldım” mengeluh sama suami sendiri, daripada sama suami orang huhuh, saya bilang kondisi sedang tidak baik-baik saja, dia paham, kemudian ngajak saya keluar menghirup udara segar, ke yayla misalkan, atau sekadar jalan berdua di carsi. Kalau tidak memungkinkan biasa dengan pelukan. Menyalurkan energi positifnya, tidak gengsi untuk berbagi pelukan saya atau dia yang memulai pertama. Begitupun ketika dia mengeluh hal sama, selelah apapun kondisi saat itu tapi mental saya lebih stabil, saya luangkan waktu untuknya, menawarkan minuman hangat , pelukan , pijatan atau telinga untuk mendengar keluhannya, atau menawarkan lebih dari ‘itu’. Kenapa harus canggung? sama sama manusia yang memiliki kebutuhan biologis. Bukan sesuatu yang tabu dibicarakan dalam rumah tangga, dan hal ‘itu’ menurut penelitian pun diakui bisa meringankan tingkat stress, bisa membuat lebih rileks ketika hasrat tersalurkan– apa saya harus kasih rate+20 keatas—supaya memahami tulisan kode ‘itu’ hahahaha.

Semua dimulai dari langkah awal sebelum menuju gerbang berumah tangga, mengabaikan berbagai kemungkinan negatif, bisa jadi bibit yang terpupuk, Pemakluman sikap calon pasangan yang sebenarnya sudah terlihat: lebih suka mendominasi, atau kadang mengintimidasi, maunya hanya didengar tanpa mendengar….inget kan: ” Deeeekkkk cinta tidak selamanya indah dekkk’ atau pemakluman lain karena bersampul agamis, tapi pemikirannya lelaki jahiliyah pra islam, ini juga bahaya. Karena sejatinya pria muslim yang paham ajaran Rosululloh SAW akan mencontoh suri tauladannya bagaimana cara baginda nabi memperlakukan istri istrinya. Begitu ya…,

Meminimalisir, karena tiap orang pasti juga mengalami stress, butuh waktu untuk sendiri, meringankan kondisi stress, butuh teman bicara, jangan sampai berujung depresi, Kepedulian pasangan mutlak sekali. Ya kalau asal ‘comot’ siap siap saja dengan berbagai kejutan,tidak dapat restu orangtua juga melangkah terus,: syukur kejutan bahagia karena memang dia yang dipilih sesuai ekpektasi, kalau kejutan karakter yang nambah stress? Berujung depresi, Cinta harusnya membahagiakan, bukan membuat depresi.

Tulisan opini pribadi saja, begitulah pemikiran saya..semua kejadian tilik balik ke langkah pertama ketika akan memulai…, Kalau terlanjur depresi? dan pasangan tidak bisa diharapkan, saran terbaik adalah datang ke tenaga profesional, Psikiater. Saya bukan ahlinya. Akui diri butuh pertolongan, jangan menyangkal terus. Seakan baik-baik saja, Pedulikan diri, tutup telinga, ambil sikap cuek, tolong diri sendiri dulu, selamatkan diri sendiri dulu. LOve your self. Ketika diri tertolong, dan bisa berpikir jernih tinggal ambil langkah terbaik nantinya, mengubah keadaan. Berpisah dari pemicu, jika sumbernya: toxic relationship yang tidak tertolong lagi dan hanya bertemu jalan buntu.

Saya juga tidak sempurna amat, banyak hal dalam rumah tangga terjadi, memicu stress juga, ujungnya kalau udah bisa mengatasinya, paling kita tertawakan, kadang ya saya tulis juga di Blog, curhat ga jelas. yah gitulah kehidupan, ritmenya ga kayak naik odong odong di pasar malam, kadang seperti naik kora-kora, ontang anting, kicir kicir, halilintar, arung jeram, dan hidup ya kayak bianglala juga, memutar bak roda, dari bawah lalu menuju puncak tertinggi turun lagi kebawah, Duh jadi pengen ke Dufan-.-‘

Semua bisa kita jalani meski riak gelombang bak tsunami asalkan ada pasangan yang bisa saling menggengam erat jiwa, memahami satu sama lain, ketika ada dititik nadir, ada dukungan tak kenal menyerah, tidak ditinggal sendirian. Cinta itu membahagiakan, pahit asam manis tujuannya agar tetap kembali menemukan titik bahagia dalam kehidupan, Cinta yang membawa diri ke sumber Dzatnya, Semakin mendekati-Nya, tidak terkurung kelam dalam penjara jiwa, seakan hidup tidak berharga sama sekali, menyalahkan diri sebagai penciptaanNya yang tidak berharga, seonggok daging yang bernyawa saja. Tidak! kita Makhluk terbaik yang Dia ciptakan, berakal! Bangkit dan yakinkan diri bisa keluar dari keterpurukan, sebab kita berharga, untuk jiwa jiwa yang merasa kosong…,