Terakhir saya membaca twit dari mba deny, salah satu blogger di Belanda, tentang cerita 10 tahun lalu yang dia tulis dan menjadi kenyataan, dari sana saya jadi teringat betapa kuatnya sebuah ucapan atau impian bisa terealisi. Teringat masa ketika masih sendiri, duduk menemani si emak menonton televisi, libur lebaran dan tradisi mudik, hampir semua stasiun TV menyiarkan laporan tentang arus mudik. Kemudian saya dengan nada bercanda mengatakan: ”ingin merasakan mudik kayak orang-orang, kalau nanti menikah dengan orang beda pulau” dalam bayangan saya waktu itu, : wah siapa tahu dapat orang Batak, nanti anaknya mendapatkan marga ayahnya, hahaha impian sederhana ini karena teringat dengan sahabat masa di pesantren dulu, dia memiliki marga siregar tapi orang semarang, terbiasa berbahasa jawa. İbunya jawa asli, sedang ayahnya Batak. Mereka menetap di kota semarang. Lucu kali ya anak -anak nanti memiliki nama keluarga. Sebagai orang sunda keturunan Banten, nama keluarga tidak umum bagi kami.

Selang beberapa tahun kemudian, pembicaraan dengan si emak ini menjadi terealisi, ketika datang jodoh dari Turki, lalu si emak mengingatkan kembali, obrolan lama kami: ” dapat beda pulau juga ya, tapi ga kira-kira jauhnya”. Mungkin doa nya kurang spesifik, benar-benar terkabul jodoh beda pulau yang jaraknya ribuan kilometer.

Tentang impian?

Lalu apa impian yang belum tercapai? Bolehkah menulis di Blog sebagai pengingat saja, siapa tahu diaminkan, tidak ada maksud lain, riya-takabur.., hanya mimpi yang ingin saya gapai, semoga semesta merestui…,

Saya itu manusia peragu, saya menyesali memiliki sikap seperti ini, terlalu banyak pertimbangan. Saya ingin berubah!

Tahun 1995 saya masuk madrasah setingkat SMP/ Tsanawiyah, diakhir tahun. Saya ikut wisuda juz amma juz 30, karena syarat di sekolah, jika ingin ikut ektrakulikuler seperti drum band, oh ya saya ikut drum band di Mts. Harus hafal juz amma, murid diprioritaskan untuk mengambil extrakulikuler. Kelas satu Tsanawiyah selain sibuk di sekolah, di asrama juga sibuk untuk memperbanyak hafalan. Syarat untuk ikut wisuda khataman, setor hafalan ke ustazah yang ditunjuk, syarat terakhir dan cukup berat: setor hafalan di mushola pondok puteri dengan menghafal juz amma lewat pengeras suara dan seluruh penghuni pondok puteri mendengarkannya, waktu yang dipilih adalah setelah dhuhur sampai menjelang ashar, biasanya santri puteri bergantian jadwalnya. İni test terakhir, banyak ayat yang keliru, biasanya mbak mbak hufaz (para penghafal quran) akan silih berganti mampir sambil mengkoreksi hafalan, Benar-benar nguji mental saat itu.

Kelas dua, saya belum sanggup khataman bin nadzri, baru kelas tiga ikut khataman bin nadzri, saya masih ingat di panggung kita membaca surah al jumuah. Lulus dari Mts, masa saya galau! apa lanjut ke Madrasah Aliyah atau SMA, dulu sempat kepikiran ingin lanjut pesantren di jawa timur, tapi tidak mendapat izin orangtua, yah saya sadar, masa masa sulit 1998 pasca kerusuhan, ekonomi keluarga belum sepenuhnya stabil kembali. Hingga saya bertahan di Yogyakarta, terpikir malah ingin lanjut SMSR, sekolah seni rupa, ini juga tidak direstui paman, waktu itu beliau yang bantu urus urus sekolah saya. Masa anak pesantren lanjut sekolah seni, mau jadi apa nanti? ya klise lah….

Kemudian karena merasa salah masuk sekolah, mau pindah saja, tapi lagi-lagi karena faktor ekonomi, orangtua minta saya bertahan sampai lulus. Saya masuk SMA swasta karena nilai NEM saya tidak cukup untuk masuk SMA negeri di wilayah kotamadya, syarat masuk cukup tinggi, angka di NEM saya kurang 3, biasa terlempar di SMA kabupaten atau kecamatan, seperti Bantul. Tapi di SMA swasta, dianggap nilai saya cukup tinggi dan dimasukan kelas unggulan: 1a, 2a dan 3 İPA porsi belajar 3 tahun lebih banyak MİPA dibanding pelajaran sosial ekonomi. Dan saya merasa salah jurusan, meski menikmati sekali pelajaran biologi tapi kimia, fisika dan matematika, kriting rasanya.

Kurang menikmati masa masa SMA, teman dekat tentu saja ada, saya harus membagi waktu karena sekolah di luar tapi tidak tinggal di kost, melainkan pesantren kembali. Waktu saya cukup sibuk di masa remaja, membagi antara jam sekolah dan jam belajar pesantren, sepulang sekolah, selepas ashar masuk sekolah diniyah. Dan saya aktif juga menjadi pengurus majalah pesantren dan pengurus mading pesantren. Dua bidang yang selalu saya pegang di pesantren tidak jauh dari dunia menulis. Saya bukan anak remaja pecinta rebahan dimasanya, terlalu padat jam belajar, healingnya cukup menjadi penyelundup komik dan novel saja ke kamar, yang sebenarnya ilegal.

Apa sudah menemukan impian sebenarnya?

Sampai detik ini, belum!

Masa SMA ada reuni di pesantren lama, biasanya karena acara wisuda khataman al quran, waktu itu beberapa teman Mts saya, menyelesaikan al quran dan wisuda jadi tahfid dan tahfidzah, apa saya iri melihat mereka berhasil? jujur iri dalam arti sebenarnya, iri dengan pencapaian mereka yang tidak menyerah. Sedang saya memilih menyerah, hati mengembara, ingin sekolah seni, ingin sekolah umum saja yang tidak banyak pelajaran agamanya, Ada rasa penyesalan! kenapa saya tidak konsisten seperti mereka.

Di Pesantren kedua, saya memiliki sahabat yang saat itu juga sedang menghafal alquran, entah kenapa saya tidak tergerak, hati masih berat ke duniawi. Masih ingin menikmati masa masa remaja seperti anak di luar pesantren, masa di persimpangan, belum memantapkan tujuan sebenarnya. İni pertarungan dalam hidup yang harus saya hadapi sendiri.

Usia mendekati 40 tahun, rasanya ingin menangis mengingat kata-kata bapak saya waktu itu:” kalau kamu hafal alquran, nanti bapak hadir pas khataman janji mau naik pesawat untuk melihat kamu” Sampai saat ini belum terealisi, Bapak saya juga tidak memaksakan. Tapi ini menjadi lubang terdalam dalam hati saya sampai detik ini.

Lalu apakah impian masa remaja saya bisa terwujud? Doakan..entah bagaimana jalannya, saya berharap, perlahan jalan dan langkah ini terbuka.

Saya masih babak belur bertarung dengan keduniawian, masih jauh hati ini dari kelapangan dari sikap seorang muslimah yang layak untuk kalam kalam ilahi melekat dalam ingatan. Tapi saya ingin! ingin sekali. Tidak sekadar melekat dalam ingatan tapi juga terwujud dalam tindakan. Kata kata masih sering menyakiti saudara sendiri, tindak tanduk masih jauh dari layaknya muslimah bersikap. Allah menutup aib aib saya…,ada dosa yang dilakukan secara diam-diam. Bisakah melangkah…

Mewujudkan impian yang tertunda, menghadiahi emak bapak sebuah hadiah terindah.

Sampaikan umur saya untuk merekam kalam kalammu Ya Robb dalam ingatan..

**Tulisan di Blog ini sebagai pengingat buat saya, apakah ini sebenarnya jawaban dan isi hati. Hidup yang selalu merasa ada lubang tersendiri di hati. Ada mimpi yang tertunda** Apakah saya mampu melanjutkan…**