Pernikahan kami insha allah memasuki tahun ke sebelas di 2022. Rasanya masih sama, luar biasa! Perjalanan bertahun-tahun hidup satu atap dengan manusia yang sama, terkadang 24 jam terus menerus ketika dia off kerja, apalagi masa pandemi. Obrolan dengan teman juga berkurang, pertemuan semakin dibatasi, pun dengan keluarga terdekat. Hanya dia, orang terdekat.

Apa jadinya jika seseorang yang kita pilih untuk hidup bersama tipikal membosankan? itu dulu pikiran-pikiran yang kerap kali datang, ditambah kurang mahirnya saya berkomunikasi dengan orang baru, bagaimana nanti jika ternyata…, dia sosok yang berprilaku buruk dengan pasangannya?- Wajar? saya memiliki pemikiran seperti itu. Dan jalan terakhir yang saya tempuh tentu saja, sebelum menentukan hati dengan sosok laki-laki terpilih, mendekatkan hati dengan DİA terlebih dahulu, meminta dan merayunya dalam segala rapalan doa yang terselip disetiap sujud. Saya selalu percaya kekuatan hati dalam memilih, intuisi yang tergerak, karena ada DİA yang menggerakan.

Dalam perjalanan memasuki tahun ke sebelas

Menulis…, ini cara saya merekam segala memori, meninggalkan suatu hal tentang kehidupan yang saya jalani bersamanya, kelak jika saya pergi…, tulisan tulisan ini jadi saksi. Untuk jadi kenangan abadi.

Apakah hidup saya baik-baik saja selama ini?

Pencapaian tertinggi saya, adalah menjadi seorang ibu dan istri, apa yang membanggakan? tidak semua hal bisa saya ceritakan, tapi selalu ada rasa yang terus saya syukuri, nikmat yang DİA beri. Terkadang saya ingin selesai dengan urusan duniawi? bukan.., bukan tentang ingin cepat mati. Jika diberi umur yang panjang dan berkah, saya dan suami ingin mengantarkan kedua anak kami ke gerbang masa depannya.

Saya ingin selesai dengan perkara mengejar pengakuan dunia. Tidak ingin kehidupan kami di kontrol sepenuhnya dari luar. Mungkin jika diberi amanah ketenaran luar biasa, ada rasa takut? takut tidak bisa mengontrolnya, lalu mengorbankan kehidupan yang sudah terjalani.

Ada banyak ketakutan atau bahasa yang terkenal saat ini istilah ‘overthinking’

Ketika saya membaca berbagai cerita di sosial media, tentang hubungan yang buruk, pengkhianatan, perselingkuhan, kekerasan, ada rasa takut, tapi saya harus menguasai itu semua, tidak boleh dikalahkan dengan rasa takut ini. Hidup yang saya jalani, sepenuhnya dibawah kendali diri sendiri. Tentang bagaimana saya menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.

Terus memupuk kedekatan

Sering kami berdua, membicarakan banyak hal ketika malam tiba, menemani dia menonton drama favoritnya, yang mesti diulang berkali-kali tidak membuatnya bosan, salah satunya film lawas amerika, dia jujur mengatakan sudah puluhan kali menonton film tersebut, sedang saya tipe sebaliknya, pembosan jika menonton ulang. Setelah çay danlık saya taruh di meja, dan dia menuangkannya sendiri, ya terkadang itu tugas saya, gula pasir sudah saya singkirkan dalam acara menikmati çay di rumah. Kami ingin selalu sehat seiring berkurang usia, kebiasaan buruk terlalu akrab dengan gula kami tinggalkan perlahan.

Lalu kemudian berbagi pelukan hangat sambil bercerita hari itu, hingga pembahasan terlalu jauh kedepan dan tetap kami bicarakan dimasa ini. Seperti ketika saya atau dia pergi dari dunia, atau ketika dia berpikir dia meninggalkan saya terlebih dahulu. Pesannya cuma satu,’ hiduplah bahagia tapi jangan menikah lagi dengan pria Turki, karena belum tentu kamu dpertemukan dengan pria baik-baik, aku tidak ingin kamu dipukul’…, lalu ketika saya bertanya sebaliknya: Kalau aku yang pergi dahulu, apa kamu terpikir menikah lagi? ”engga! aku ingin menghabiskan waktu untuk menjelajah, sayang sekali harus membiayai kehidupan baru lagi, mending uangnya buat keliling dunia’ tapi lebih bagus jika itu kita lakukan berdua. Ya..yaaa pembicaraan seperti itu biasa saja kami lakukan, harus siap menghadapi berbagai kemungkinan. Mesti secara hati saat ini masih dipertanyakan.

Apapun menjadi bahan pembicaraan disela nonton dan ngeçay, tentang tetangga dan gosip terbaru, saya sebagai istri yang kurang update, diberi asupan gosip tetangga oleh suami. Menurut dia kondisi bertetangga Blok A adalah terburuk di komplek, hampir semua istri di blok A jarang bertegur sapa, musuhan! loh dari mana dia tahu? dari gosip bapak-bapak. Astaga! kemudian obrolan juga dengan cepat beralih membahas harga bahan pokok yang semakin mahal.

Karena dirumah, hanya sosok dia yang merangkap job: selain sebagai pasangan hidup, lalu dengan siapa saya bergosip-.-‘ kita hidup terasing, di daerah pegunungan. Ditambah semenjak pandemi, membatasi diri sekali interaksi dengan orang luar. Kalau tidak terus menjaga dan membina hubungan baik dengan teman hidup lalu dengan siapa lagi.

Marah, kesal? biasa

Saya orang terakhir yang terlelap di rumah, setelah menidurkan anak-anak atau membereskan kerjaan rumah, misal juga menulis di Blog seperti saat ini, hal yang saya lakukan sebelum tidur, adalah memegang tangannya, mencium tangannya, mengusap tangannya, lalu doakan lah kebaikan kebaikan untuknya, pria yang tidak ada ikatan darah, memegang amanah besar, menjadi sosok yang ada untuk saya dan anak-anak. Perantara rezeki dariNya.

Tidak, tidak selalu mulus perjalanan hidup bersamanya, tapi saya memilih untuk memaafkan dengan cepat selama kesalahannya masih ditolerir, bukan pengkhianatan atau kekerasan. Hanya perkara ego, berbeda argumen, pola pikir, salah mengambil sebuah keputusan, memancing emosi..,. karena masih manusiawi, masalah ekonomi yang belum bisa tergolong mapan, perkara kehidupan naik turun.

Selalu ada ruang diskusi untuk menyelesaikan semua permasalahan.

Kenapa saya bisa berpikiran sesederhana ini?

Lalu untuk apa terus memperpanjang masalah jika bisa diselesaikan sebelum terlelap, ketika bangun dipagi hari hanya ada rasa syukur.

Hidup saya tidak sepanjang manusia-manusia di zaman para nabi, menggapai angka 100 belum tentu, menggapai angka 60 juga belum tentu…, lalu untuk apa harus mengalah dengan hawa nafsu, emosi yang meledak tidak pernah menyelesaikan masalah dengan baik, mengambil sebuah keputusan dan kondisi emosi labil selalu berakibat fatal.

Saya menjalani kehidupan dengan pemikiran simpel, ingin menyelesaikan urusan dunia dan hanya ingin meninggalkan jejak baik yang menurut saya baik sih tapi belum tentu buat orang lain, semoga selalu bisa membersamai orang orang terkasih, mendukungnya dikala susah ataupun sukses, mengejar dunia tidak akan ada habisnya. Meningkatkan kualitas diri dan memiliki pencapaian yang ingin menunjukan dirinya bahwa layak dihargai, silahkan.

Hanya perkara menuliskan kata negatif ,pemikiran saya mutar mutar , hingga berakhir, saya hapus dan berpikir: lalu apa gunanya untuk saya?

Perkara cinta…

Pembahasannya panjang.

Jejak 11 tahun belum menjadi jaminan pondasi kuat, harus terus diperkuat.

Mari saling mendoakan…

—cerita dibulan merah jambu–