Pernah dengar kisah cinta Emma perrier dan Adem Guzel? Seorang wanita berkebangsaan prancis namun bekerja di london bertemu dengan jodohnya lewat aplikasi dating online, Berawal dari Emma yang berhubungan online dengan pria bernama Ronie, ngakunya dari İtali. Tapi ternyata foto yang dipasang Ronie itu Palsu. Foto sebenarnya milik seorang model asal Turki bernama Adem Güzel. Klasik sekali di dunia maya, banyak orang memasang foto profile dengan foto orang lain dengan berbagai alasan, salah satunya kurang percaya diri. Begitupun dengan pria yang mengaku bernama Ronie tapi pasang foto profil model tampan, setiap diajak video call, selalu nyari beribu alasan. Sehingga akhirnya Emma curiga.
Dia mulai mencari tahu, memasukan foto dari model tersebut disebuah aplikasi sampai akhirnya menemukan banyak foto orang yang sama, dan pria tersebut bernama Adem Güzel, seorang model dan aktor dari Turki. Sebagai perempuan yang merasa ditipu, pastinya Emma penuh emosi, nahan marah, kecewa, karena lelaki idamannya ini hanya ada dalam imajinasinya, pria yang selama ini berhubungan dengannya di balik nama Roni, adalah seorang pria paruh baya (53 th) bernama Alan.
Niat Emma, agar tidak jatuh korban lagi,karena penggunaan foto model tersebut di aplikasi dating, dia pun akhirnya menghubungi kontak sang model lewat sosial media: twitter dan facebook. Mungkin karena banyak juga DM yang sama dari perempuan-perempuan lain di inboxnya, pesan Emma tidak langsung terbalas.

Disinilah peran semesta ada, seakan hati Adem itu digerakan, dia membalas pesan Emma dan mengucapkan terimakasih atau pemberitahuan perempuan tersebut, bahwa foto fotonya banyak disalahgunakan di aplikasi dating online, berawal dari berbalasan DM kemudian melakukan facetime, emma juga sempat menangis, melihat ‘real’nya Ronie yang ternyata bernama Adem. Dia yang awalnya mengagumi saja dari foto-foto namun tertipu, kekecewaannya terobati. Singkat kata, mereka akhirnya berhubungan dan saling jatuh cinta, dipersatukan gara-gara ada orang iseng yang menggunakan foto foto si pria di aplikasi dating, untuk kasus Emma dia beruntung lewat jalur berliku kena tipu dulu ending-nya beneran bersatu dengan pria tampan yang dia kagumi tersebut.
Nah masalahnya tidak semua bertemu jodoh seberuntung Emma perrier lewat aplikasi dating online.
The Tinder swindler
Serial netflix yang baru rilis, Tentang pria bernama Simon leviev nama aslinya sebelum ganti: Shimon hayut, pria 30tahun berkebangsaan İsrael. Dia mengaku sebagai anak pengusaha berlian dan konglomerat Liev leviev. Ngaku sebagai anak sultan main tinder?? ehmm…
Cara dia menjerat korbannya dengan modal dulu, sewa private jet, diajak liburan, menginap di hotel bintang 5 dan tentu saja sebagai bukti cinta , tidur bareng. lalu katakan cinta. Terikatlah si cewek tersebut dengan hubungan seakan nyata dengan anak konglomerat, pengusaha berlian ternama.
Korban diperdaya, kemudian mulai memainkan emosi- Simon mengaku kesulitan, dikejar musuh musuh bisnisnya, namanya pengusaha berlian ya..kan? udah gitu semua kartunya diblokir dia kesulitan transaksi, hanya bisa uang cash supaya tidak terlacak. Sudah ketebak, si cewek yang merasa sudah dipacari, ikut prihatin dan merasa harus menolong sang kekasih, mulai deh transfer transfer duit dollar.
Ternyata setelah terbongkar, Simon ‘modal’ untuk menipu cewek cewek di aplikasi dating Tinder, modalnya ya dari cewek-cewek lain yang dia kadalin juga. Nasip cewek cewek di aplikasi Tinder yang diangkat dalam serial ini tidak seberuntung Emma. Berjodoh dengan pria tampan , Sosok Simon leviev didunia nyata, kalau istilah netijen İndonesia: pria mokondo.
Jalan bertemu jodoh online tidak setiap orang sama!
Selain lewat aplikasi dating, perkenalan lewat sosial media lainnya juga sama, tidak semua orang bernasib beruntung. Hari ini saya baru baca kisah di FB ceritanya ini kisah perempuan İndonesia yang nekad datang ke Turki demi kekasih online-nya, datang sendiri. Sesampainya di Turki ternyata laki-laki idamannya tempramen, belum juga menikah harus menghadapi mimpi buruk jadi korban kekerasan, pacarnya memukuli dia. Hingga akhirnya teman teman WNİ dibantu staf KJRİ/KBRİ datang membantunya, menyelamatkan dia dari pria tersebut. İni kasus yang kesekian kali saya baca dan dengar! masih saja terus berjatuhan korban.
Lalu ada juga kisah lain, kenekadan perempuan İndonesia luar biasa percaya diri, kalau lelaki idamannya benar-benar single tanpa terikat hubungan resmi dengan yang lain, lalu mau aja diajak nikah secara agama, kemudian dihadapkan setuasi rumit status pernikahan yang tidak kunjung disahkan secara hukum negara. Hak hak nya tertahan atau tidak diberikan sama sekali. Yang rugi siapa? tentu saja perempuan! lagi-lagi inipun tidak jauh dari model si simon leviev: Pria mokondo. Mau enaknya aja. Udah bosan? ya tinggalkan.
Memang sih semboyan menyesatkan kadang: Kalau orang lain bisa, saya juga pasti bisa!! kalimat ini jika tidak ditempatkan dengan tepat, apalagi tipikal orang İndonesia kental sekali latahannya, begitu demam NFT Ghozali yang kemarin sempat viral, kemudian latah ikutan terjun ke NFT berharap bernasib seberuntung dia, tanpa bekal ilmu yang mumpuni.
Nah begitupun ketika pasangan pasangan interracial viral dan menjual konten keharmonisan, lalu meyakinkan diri , ada harapan yang sama akan bertemu pria tampan, bule, mapan dan suka membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, sering ngajak traveling dan mesra ke istri. Tanpa banyak mencari informasi yang berimbang, berbagai aplikasi dating online dia daftar, grup grup belajar bahasa asing dia ikuti, Lalu begitu ada yang ‘nyangkut’ pria asing inbox, disambut dengan senang hati. Apalagi ketika rayuan mulai ditebar jaringnya. Cek foto profil, ”wah tampan” kalau bandingin sama pria tetangga depan gangnya.
Bule, mata biru, hidung mancung. Fix ideal, yang penting visualnya dulu.
Soal karakter, pekerjaan, pendidikannya, bisa belakangan. Saya pernah terkejut ketika baca inbox, hanya mengenal pria online 1 bulan, udah ngajak serius, katanya didesak ibunya pria itu. si perempuan galau! hadeuh 1 bulan-.* Karena dia mengambil contoh yang sama, pasangan interracial yang beruntung, hanya kenal bilangan bulan,serius dan bahagia. Nah ini!! tidak semua bisa copypaste jalur jodoh orang. Bisa jadi orang yang dia jadikan contoh, hanya segelintir perempuan bernasib baik, pria yang ngajak dia serius emang pria baik dan memperlakukan dia dengan baik pula. Berharap yang sama boleh aja, tapi jatuhnya kayak gambling juga. Kalau nasip dia akan berakhir sama. Tanpa dibarengi kemawasan diri.
Padahal sudah jelas, jangankan pria satu negara, bayi kembar identik saja banyak pembuktiannya kalau karakter mereka tidak sama.
Cerita Emma, endingnya memang beruntung, dapat pria idamannya, tapi beda nasip dengan ayleen dan kawan kawannya di serial netflix kena tipu simon si pria mokondo.
Tentang banyaknya perempuan perempuan İndonesia yang nekad datang ke Turki demi menghampiri pacar online-nya, bisa juga karena copy paste cerita yang dia baca,dengar atau tonton, kesuksesan pasangan yang bersatu.
Tapi melupakan satu hal. Tentang garis takdir, jodoh tiap orang tidak ada yang sama. İkhtiar mencari jodoh lewat dating online, ga salah kok? tapi bekali dengan sumber informasi yang mendukung. Ketika ada sinyal red flag kalau pacar onlinenya ga beres! jalan pertama adalah: Buka mata lebar-lebar, gunakan search engine google, cari informasi akurat atau hubungi teman teman yang banyak membahas kasus scammer cinta. Di İndonesia ada ibu Fey down yang fokus sekali membahas scammer cinta. Baca segala postingan di grup atau akun beliau.
Saya kadang berpikir juga : Apa banyaknya berbagai kasus perempuan perempuan indonesia yang super nekad datang ke negara asing demi pacar onlinenya salah satu efek dari rendahnya literasi di masyarakat kita sendiri. Malas mencari tau, malas membaca, hanya menginginkan suguhan kisah cinderella saja, drama drama romantis. Ya ga heran sih sampai pernikahan publik figure saja bisa ditayangkan live di TV nasional, rating tinggi. Mudahnya mencari viewers kanal youtube jika memberi judul: prank pacar bule, prank suami bule, suami bule romantis, suami bule suka jengkol! pertama kali nyicip masakan indonesia. Giliran teman saya membahas sisi lain pernikahan beda bangsa, banyak korban KDRT, viewersnya sepi, selalu andalannya: Tidak semua seperti itu! ya memang! itu juga berlaku sebaliknya.
Pesan saya selalu sama: bekali informasi sebanyak-banyaknya tentang kehidupan di negara calon pasangannya, mulai dari produk hukumnya, adat istiadat masyarakatnya, ciri khas orang orangnya, imbangi informasi seimbang. Antara yang manis dan pahitnya. Jangan terlalu percaya diri, Terkadang realita tidak semanis apa yang orang buat demi konten , baca juga berbagai berita terkini. Gimana kondisi ekonomi yang tentu saja akan berpengaruh besar.

Aaah, setujuuuu banget. Ini akibat dari males mencari tahu, malas research, males baca, cuma percaya Ama katanya katanya ..dan ngeliat yg indah2 doang . Mungkin aku terlatih utk ga gampang percaya dengan orang, jadi segala sesuatunya aku selalu cari sisi jeleknya dulu. Baru setelah itu sisi bagus.
Aku belum nonton nih serial Netflix itu, tapi udh aku masukin ke MyList. Penasaran 😄.
Sbnrnya ga abis pikir sih mba, kok bisa Yaa ikutan aplikasi dating gini, tapi pake foto orang lain. Tujuannya apa.. jadi ga bisa FaceTime, ga bisa ketemuan Krn si pasangan langsung sadar kan orangnya beda. Atau cuma ngandelin kata2 manis, dan berharap bisa nipu si pasangan yaaa. Serem ..
Aku ga pernah pake aplikasi dating ini Krn jujur aku ga bisa kenalan Ama orang baru via web/chat/aplikasi. Hrs ketemu langsung hahahaha. Dan aku ga pernah suka, even Ampe skr yg namanya video call. Suami video call aja aku reject 🤣. Harus nelpon biasa atau chat, baru aku respon. Jadi memang aplikasi dating ga cocok buatku dari dulu.
Kasian sih kalo baca korban2 yg masih kena tipuan gini. Tadi baca di FB yg mba share, ttg WNI yang tertipu saat datang ke Turki. Duuuh sedih, ikut marah banget pas di bagian polisi aja juga seolah mempermainkan mentang2 si cewe ga bisa apa2 :(. Mau dikutuk cowonya, tapi si cewe ada andil salah juga…
Bener sih mba, semua harus berawal dari ortunya dulu. Kasih perhatian ke anak, kasih nasehat ttg bahayanya ketemu orang asing yg blm pernah ditemui. Supaya anak2 kita aware dari dini ttg bahaya yg begini.
Apalagi aku juga punya anak cewe.
LikeLike
Masih ada di list tuh tinder swindler…btw itu penipu ternyata jadi batu loncatan Emma ketemu jodoh ya wkwk. Beneran “batu loncatan”. 😂
Selama ini tdk terlalu sreg dgn aplikasi online karena lebih suka ketemu langsung. Pengalaman kopi darat ngeforum mengajarkan apa yg ada di dunmay nggak sama dg di RL. Nggak ada yg bisa kalahin pengamatan gestur, ekspresi, dan perilaku langsung serta saling kenal lama. Kl ada yg jodoh di apps ya memang udah jalannya aja 😅
LikeLike
Ketemu si bb ga via app ..tp fb🙊 nyasar gitu fan page nya DeBu..haruskah berterimakasih sm mustafa debu😅
LikeLike
Kalo menurutku, yang paling penting adalah self esteem dari si perempuan, sehingga ybs tau batasan2 atau bisa mengenali red flags.
Mau bertemu langsung atau online, pastilah ketemu banyak yg tidak sesuai.
Tapi bagi saya pribadi (yg masih single ini, ehem promosi), online dating benar benar membantu terutama kondisi pandemi beberapa tahun terakhir.
LikeLike