İni dari sudut pandang saya, sebagai seorang manusia yang tidak pernah terbersit, hidup di negara lain. Saya belum pernah hidup di luar İndonesia sebelum menikah, alasan sederhana? sulit sekali dapat doa restu merantau seorang diri ke luar negeri, kecuali mungkin untuk belajar. Paman dan bibi pernah ada yang bekerja sebagai TKİ di arab saudi, itupun mereka berangkat berdua, suami istri. Bayangkan kalau saya senekad itu dimasa muda, ehm sulit! jangankan merantau untuk bekerja, mendengar kabar saya akan menikah dengan orang asing, berbagai komentar terdengar, ”nanti kalau dijual gimana?” ” banyak kasus perdagangan manusia”. ” ada yang disiksa”, pokoknya selentingan kabar buruk masuk aja ke kuping. Mau dibilang, pemikiran keluarga masih terlalu kolot, ya memaklumi saja. Sebab sebagai orangtua pasti ada kekhawatiran melepas anak perempuannya tanpa mahram di negeri orang.

Dan pertemuan dengan takdir membawa kaki ini melangkah ribuan kilometer, bukan untuk liburan ke cappadocia, tapi bertemu dia, seseorang yang sebelum saya terlahir ke dunia, di lauhul mahfuz sudah tertulis, ”jodoh”. Bertemu dengannya dan menjalani kehidupan baru, di tanah asing, berbicara bahasa asing, musim yang berbeda.

pindah karena menikah.

Pertemuan pertama dengan keluarganya di Kartal, İstanbul. Kakak pertama yang jarak usia 20 tahun, menjemput kami begitu turun dari bis bandara. Kesan pertama, hangat dan ramah. Dua keponakan laki-laki, saat itu si bungsu masih SMA dan kakaknya akan pergi wajib militer menyambut dengan hangat juga memanggil saya ‘yenge’.

Udara dingin dipenghujung musim gugur, ternyata membuat seluruh tubuh saya bereaksi, biduran saya kambuh hehehe, bayangkan seluruh tubuh merah dan bentol-bentol. Panik! seumur-umur belum pernah mengalami alergi separah itu. Alhasil saya langsung dilarikan ke UGD kartal devlet hastanesi, mendapat suntikan, infus-.-. Hari pertama di negara baru langsung ‘akrab’ dengan rumah sakit.

Singkat cerita tahun 2022 menjadi tahun ke -11 saya menetap di Turki. Waktu berlalu begitu cepat, dua anak telah lahir dalam pernikahan kami, banyak cerita, asam, manis, pahit selama tinggal disini. Ada kesan manis dan juga kisah kisah kurang menyenangkan, saya rangkum:

Emosi di jalan

4x kami mengalami kejadian kurang menyenangkan di jalan, sebagai mana media internasional menjuluki orang Turki, pengemudi yang buruk! saya bisa meng-iya-kan.

Melihat dengan mata kepala sendiri, ketika naik bis dari Pendik ke kartal, di lampu merah, ada pengemudi yang tidak terima kendaraannya hampir terpepet bis, turun dari kendaraan dan nantangin supir bis, ribut di lampu merah! astaga!! gulat:D

Ketika pergi menuju sancaktepe untuk ke rumah teman, bis yang kami tumpangi berjalan cukup lambat hingga memancing emosi para penumpang, entah punya masalah apa supirnya, terus ngambek dan ga mau lanjut nyetir, ngajak ribut dulu penumpang! waktu tempuh yang 20 menit bisa molor hampir 1 jam..tobat! bukan karena kemacetan tapi supir ‘pms’.

Mudik ke rumah mertua, seperti kejadian yang pertama, supir bis hampir nyerempet sebuah mobil pribadi, pengemudi tidak terima. Bak adegan film action, mobil tersebut menghalangi bis dari depan, memberhentikan bis. Minta supir turun, cukup lama! agak kesal juga, apalagi waktu itu saya bawa bayi! terjadi negoisasi alot. Untung ga sampai adu jotos-.-‘

Terakhir, mobil kami pernah ditabrak dari belakang, ketika berjalan pelan, karena memang sedang ada perbaikan di depan, bisa-bisanya mobil dibelakang kami, ngebut! tabrakan tidak bisa dihindari, bagian depan mobil si penabrak rusak parah! menghantam! suami sempat emosi, si pengemudi tidak mau bertanggung jawab, karena dia juga merasa mobilnya jauh lebih parah, karena pasti akan memakan biaya service lebih mahal, meminta jalur damai…ahh gemes!

Tentang orang Turki yang saya temui

Banyak juga yang bermuka dua hehehe, banyak juga yang baik, mungkin tergantung amal perbuatan kita..LOL ya namanya hidup, banyak aja ‘tetangga masa gitu’. Dulu di İstanbul, kami tinggal di lantai 2, setiap malam terdengar ribut tetangga di lantai atas. Pertengkaran suami istri, ga mau nguping tapi ya kedengeran.

Pernah diajak ipar pengajian di rumahnya, dia undang teman temannya, salah satu yang membuat saya gemas adalah kelakukan satu temannya, hamil 7 bulan dan dengan santainya merokok! ya hello! ngomong sama ipar, kata dia ‘‘udah biarin aja! emang keras kepala tuh orang!susah dibilangin” nah nulis soal rokok, menjadi pemandangan yang awalnya cukup risih buat saya, tapi lama lama jadi terbiasa. Banyaknya perempuan turki perokok! dengan santainya merokok di ruang publik! pemandangan jam istirahat di rumah sakit , ketika beberapa tenaga medis berkumpul untuk melepas penat sambil ngudud! padahalkan……,padahal…., mereka yang lebih paham tentang ilmu kesehatan, bahayanya rokok!

Selain mereka mereka yang ajaib ini, saya juga banyak dipertemukan orang-orang baik, ada tetangga yang pernah pergi haji dan terkesan dengan jamaah haji İndonesia, saya kebagian budi baik yang ditanam para jamaah haji tersebut, Pernah dapat diskon besar waktu belanja di sebuah toko karena sipemiliknya ini terkesan dengan haji İndonesia!

Selalu dipertemukan orang-orang Turki yang super baik juga, tidak terhitung! seimbang dengan cerita disisi lain. Ketika suami ikutan panik, mendengar temannya masuk UGD karena ditusuk pisau tajam oleh istrinya, mereka bertengkar hebat! karena sang istri memergoki suaminya jalan bersama ‘lidya’. Perselingkuhan berujung maut. Kalau berantem orang Turki habis-habisan! nyawa melayang, sering sekali berita seperti ini di tv nasional. Rekan satu pekerjaan, masuk berita kriminal juga. Tidak lama dia pindah tugas, lalu kejadian lagi. Kali ini rekannya wanita, punya suami polisi, selingkuhannya tentara, bertemu dan duel senjata! polisi tewas ditempat, si tentara hanya luka ringan. Kemelut cinta segitiga berakhir si rekan ini dipecat dengan tidak hormat! atau cerita ditempat sekarang, ada salah satu temannya,pernah selingkuh! istrinya memaafkan, tapi tidak memiliki kepercayaan penuh karena pernah dikhianati, dia paling malas kalau jalan sama si teman ini, hampir tiap saat siteman ditelpon, dipantau, padahal jalan sama bapak-bapak komplek. Bawaannya curiga terus.

Diajarkan suami untuk tidak asal ramah ke orang asing! disini Turki, bukan İndonesia,ujarnya! Mending pasang wajah lempeng aja. Karena terlalu ramah bisa mengundang tindak kejahatan. Baiklah. Toh saya juga dari dulu bukan orang yang mudah mengakrabkan diri dilingkungan baru, lebih sering mengamati terlebih dahulu sebelum membaur.

Apa yang membuat merasa kerasan di Turki

Setiap orang tentu saja punya cerita tersendiri, berdasar apa yang saya jalani dan juga bagaimana kepribadian bawaan lahir ini, saya nyaman di Turki, karena İndividualis! loh hahahah, kok bisa:D

Keluarga Turki yang menjadi bagian hidup saya sekarang, tipe keluarga yang tidak terlalu ‘kepo’ dengan kehidupan sanak familynya, bahkan mertua juga tahu batasan wilayah pribadi anak-anaknya.

Tidak terlalu memaksakan kami untuk selalu hadir dalam acara keluarga, untuk bertamu saja, kami terbiasa membuat janji terlebih dahulu,misal akan berkunjung ke rumah salah satu kakak,sehari sebelumnya suami akan menelpon dulu, menanyakan apa kakaknya esok ada di rumah? tidak mendadak datang. Begitu juga ketika kakak dan mertua berniat datang ke rumah kami. Kalaupun mendadak, bukan tipe yang tiba tiba nongol di depan pintu, minimal 1atau 2 jam sebelumnya memberi kabar.

Saya suka dengan kultur keluarga seperti ini, ada batasan! karena bagaimanapun keluarga inti itu terdiri kami dan anak-anak, kakak atau orangtua sudah masuk ring 2, kerabat ring 3, dan mereka tidak bisa begitu saja ikut campur di ring 1. İni batasan yang kami buat.

Ok disatu sisi terkesan tidak terlalu hangat, berbanding terbalik dengan tipikal keluarga saya di İndonesia, yang amat sangat kental kekeluargaannya, tidak bisa membedakan wilayah privasi lagi heheh. kaku vs luwes.

Keuntungannya, urusan mendidik anak! sepenuhnya dipegang kendali kami berdua, kakak dan mertua tidak ada ikut campur mempertanyakan segala hal, karena mereka percaya penuh, kami manusia dewasa yang dipersatukan. Bisa belajar dari mana saja. Keberhasilan kami tidak mengenalkan smartphone ke anak-anak , lingkungan ini berperan sekali. Anak-anak ikut main hp itu saya dampingi, seperti si bungsu yang suka sekali filter di media sosial. Hp tergeletak di meja, tidak ada yang berani menyentuh. Bahkan kakak kakak sepupunya pun tidak asal memberikan HP ketika bertemu, bertanya dulu ke babanya.! Mereka diizinkan main game atau tidak.

İni hanya pengecualian, karena saya tidak mengeneralisir keluarga Turki sama seperti keluarga yang saya miliki disini, bisa saja ada yang berbeda kebalikannya, amat sangat ‘kepo’ dan sibuk ngurusin kehidupan menantunya juga. Apalagi jika mendapat gelar menantu pertama. Saya mungkin sedikit diuntungkan bersuamikan pak emus. Beliau anak bungsu dengan jarak umur cukup jauh dengan saudara-saudaranya, keponakan tidak ada yang seumuran anak-anak kami, keponakan terdekat umurnya 21 tahun, keponakan tertua hampir seumuran suami, hanya cicit -cicit mertua ada yang seumuran. itu juga jarang bertemu. Saya tidak banyak drama dengan ipar, karena mereka sudah memiliki menantu masing-masing. Kalaupun kumpul keluarga, anak anak lebih sering diasuh sepupu-sepupunya, ikut main sama anak anak mereka.

Saya punya kendali penuh atas anak-anak, dalam pendidikan,pengasuhan, lingkungan yang individualis, disatu sisi memang kadang kepikiran, anak-anak kurang banyak interaksi dengan lingkungan, tidak jarang jika ada waktu, kami selalu membawa anak-anak bermain di taman besar, dengan pengawasan penuh. Dengan lingkungan yang semakin tidak aman, baik di İndonesia maupun di Turki, berita berita kasus kekerasan terhadap anak-anak kadang menghantui kami, tidak mengizinkan anak main bebas keluar (ya beruntung juga sekarang tinggal di daerah terpencil) sekitaran komplek masih diperbolehkan karena mengenal tetangga dengan baik.

Cara orang Turki memperlakukan hewan hewan, sudah banyak cerita yang saya dengar atau melihat sendiri, bagaimana orang turki selalu berbagi dengan hewan hewan terutama anjing, kucing, burung burung, kucing liar yang gemuk dan sehat, atau cerita tentang seekor anjing yang hobby traveling naik transportasi umum di İstanbul, tentang kucing yang selalu masuk minimarket dan nunggu ada pengunjung membelikannya makanan, hewan hewan yang bisa dengan santai diterima warga.

Cara mereka berbagi kesesama, meninggalkan roti disuatu tempat ditujukan ke orang yang membutuhkan. sering saya baca tulisan disebuah restoran atau toko daging: makan atau belanja gratis untuk anak yatim terutama jika ayahnya syahid-gugur di medan perang-mereka menghargai pengorbanan salah satu warganya untuk negara, mereka membalas budi dengan menjaga anak-anak yang ditinggalkan.

Mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi dunianya kelak!

Apa saya merasa cocok dengan lingkungan seperti ini?

ya saya merasa nyaman dengan lingkungan minim interaksi, berteman bukan karena kuantitas lagi tapi kualitas pertemanan. Teman saya tidak banyak di Turki, meski itu sesama WNİ. Awal tinggal di komplek saya juga gabung arisan ibu-ibu, ujungnya yang berinteraksi sampai saat ini hitungan jari saja. Seleksi alam. Bukan seorang extrovert. Lalu apa merasa kesepian? bersyukur saya hidup dimana internet bisa diandalkan, kalau ingin ngobrol saya cukup telpon teman dekat, cerita apa saja. Tidak memaksakan lagi harus mengadakan pertemuan tiap minggu, ya tahu diri aja sekarang tinggal dimana, berat diongkos. Ada hikmahnya juga, kualitas hubungan saya dengan suami jadi lebih meningkat, secara emosional juga, 24 jam bareng terus, keluar rumah juga selalu bareng dia, belanja, jalan-jalan, ke rumah sakit, semuanya selalu bersama suami! (bilang aja belum bisa nyetir-.-‘) Bayangkan kalau tipe suaminya nyebelin, Duh nyiksa!! eh untung cinta :V adaptasi aja sebenarnya, dulu juga di İstanbul, begitu dikasih izin bepergian sendiri, saya main sama teman teman WNİ, makan-makan, piknik, curhat-curhat berbungkus pengajian..upps..sesi selanjutnya. Hanya menyesuaikan keadaan saja.

Baik buruknya …, gimanapun, ini negara yang saya tinggali, bisa jadi sampai akhir hayat, meski bersama suami kepikiran pensiun di İndonesia, masih wacana. kami ada rumah di indonesia, belum terpikirkan penuh nantinya bagaimana. Jalani saja saat ini. Ketika negara ini terpuruk, krisis ekonomi, tentu saya juga sedih. Suami sebagai tulang punggung dan mencari nafkah disini, lalu ruwetnya politik dalam negeri juga selalu saya amati, karena sekarang lebih peduli, anak-anak saya lahir dan hidup di Turki, masa depan memang belum terbayang, akankah mereka hijrah dari tanah ini. (cita-cita fatih antara amerika dan jerman:V) Agak terkejut waktu dia menunjukan catatan belajar bahasa jerman dari youtube, nonton animasi jarang sekali bahasa turki, dia pilih berbahasa inggris dengan subtitled bahasa inggris juga.

Saya menulis tentang Turki selalu berusaha dua sisi, bukan karena pro ini itu, tapi melihat dari sudut pandang berbeda.

İni tentang Turki yang menjadi negara baru saya, 1 dekade terlalui, tentang keindahan, tentang kenyamanan, tentang cinta, cerita banyaknya luka, beratnya kehidupan. İni tanah yang mungkin akan menjadi jalan saya kembali kepadaNya kelak. Pepatah Dimana kaki berpijak disitu langit dijungjung…berusaha saya terapkan. Baik buruknya negara ini, menjadi bagian kehidupan saya setelah 28 tahun…, Bumi Allah—anatolia kecil.