Setahun akan terlewati, ada banyak peristiwa dalam hidup kita selama 2021, bahagia? ada? sedih? ada..emosi, ada banget, kilas balik selama tahun 2021:
- Mengajukan süresiz ikamet — gagal—, karena tidak memenuhi syarat dan petugas Göç iddaresi masih kurang paham? ribet beda kota beda aturan
- Bertemu teman WNİ satu kota, dia sekeluarga pindah ke İskilip dari Ankara, kebetulan iskilip adalah kampung suaminya, asalnya dari Bandung.
- Bahas distribusi vaksin di İndonesia, kebetulan salah satu teman lama bekerja di depkes pusat dan masuk tim vaksin-
- Salju tebal diawal tahun, suhu -16 c
- Vaksin 3x
- ke Ankara
- kayseri
- Bolak balik ke yayla
- Evlik köyu, kampungnya guru muhamad al fatih, syeih aksemseddin
- Kirkkale-alhamdulilah dapat rendevu ke periodontologi
- Blog keluargapanda- ending-
- Ga ada prestasi apa-apa.
Ya ga ada pencapaian terbaik 2021, kondisi sehat walafiat saja udah alhamdulilah, saya juga kehilangan dua uwak saya yang wafat tahun 2021, salah satunya korban pandemi juga.
Kondisi ekonomi Turki dengan inflasi yang cukup tinggi, mendekati akhir tahun selalu ketar ketir dengan kenaikan harga yang luar biasa.
Tahun 2021 juga pernah berantem sama suami, ya normal sih, cuma kali ini cukup menguras emosi kami berdua, seperti biasa saya lebih ngalah ketika dia emosi tingkat tinggi, ga lama mereda dan ngerasa bersalah, saya diamkan terus seharian, jawab sekenanya, nyampe rumah, langsung meluk meluk minta maaf nangis, iya akuin saja hahah saking dibuat kesalnya.
Tahun 2021, banyak merenung, mikir, minim interaksi sama teman, jujur mungkin sedikit kesepian, karena hanya suami, suami dan suamiiiiii, saya jarang keluar rumah, beberapa tetangga kenalan, ada yang pindah, hanya dengan tetangga di lantai 2 dan tetangga satu lantai yang masih komunikasi, dibanding dulu, semenjak di komplek ini, memang lebih banyak sama suami, bosan? engga juga sih. Cuma kadang butuh obrolan sesama perempuan, palingan lewat sosial media dan telpon saja.
Umur saya juga mendekati kepala 4, meski belum tapi sudah semakin mendekat, makin mikir lagi, tentang jati diri yang masih absurd maunya apa, kadang senang-senang saja jadi pusat perhatian, lalu sering dengar ngaji filsafat Dr fahrudin Faiz tentang : lebih baik tidak banyak dikenal? wah diera sosial media justru orang semakin berlomba lomba untuk diviralkan, semakin sering di’cari’ semakin mendatangkan cuan. Nanti saya cari lagi bahasan tentang ini diulas sendiri.
Saya juga mikir-ending hidup saya seperti apa? Apa sih yang saya cari terus menerus selama ini, haus atensi? terkadang malah serasa ingin menutup diri dari hiruk pikuk jagad sosial media, tapi tanpa alat komunikasi, rasanya sulit juga, saya tetap butuh sosialisasi, terkadang ingin’nimbrung’ tapi tiba tiba bisa menarik diri jika merasa semakin tidak nyaman, Merasa terlalu idealis, sehingga selalu merasa berat untuk mengerjakan sesuatu yang tidak saya sukai,ga ada kemajuan.
Semoga 2022…hidup lebih baik lagi…
