Mumpung di İndonesia sedang İmlek, kalau disini ga ada perayaan, karena imigran cina juga ga banyak, wajar kalau di İndonesia dimasukan hari libur nasional, gimanapun imigran terbanyak tiongkok di luar negeri itu di İndonesia menurut data global. Sudah membaur dan menjadi warga lokal, keturunannya memiliki banyak julukan, cindo, cinben…tergantung dimana mereka tinggal.
Balik lagi ke topik yang belakangan ‘hot’ banget perang komen antara netizen korea selatan vs SEA (asia tenggara) dan mulai diikuti banyak netizen negara lain, ibarat ‘bisul yang mau meletus’ mereka mulai satu suara, karena merasa mayoritas netizen negara ini ras1z kemana mana.
Seperti katak dalam tempurung, banyak juga netizen sokor ini kurang paham geografi**sama ya seperti negara junjungannya amerika*** ada satu postingan netizen Turki, dia membandingkan rasa pop mie keluaran İndomie dan samyang yang dia beli, review jujur si netizen Turki bilang, masih enakan İndomie kemana mana, ditambah İndomie juga sudah masuk supermarket lokal Turki karena ada pabriknya juga disini, rasanya lebih familiar. Lalu si Netizen sokor ini nge-hate postingan itu tanpa baca detail*padahal nulis caption berbahasa Turki, malah dituduh itu netizen indonesia, dikasih paham peta negara sama bendera sama netizen +62.
Lalu merembet lagi ke İndustri hiburan, mereka dengan ‘sombong’ karena ngerasa pasar SEA itu cuma seujung kuku, tanpa penonton SEA, İndustri mereka baik baik saja:D
Netijen mulai posting, tinggalkan saja industri kpop, Kdrama, mulai sekarang ganti Dracin?
Ehm sebenarnya kalau flashback ke tahun 90-an , di İndonesia, pasar Kdrama bisa dibilang kurang? yup kurang dikenal.
Apalagi generasi milenial lebih hafal karakter bibi leung dan yoko, drama ”kembalinya pendekar rajawali” soundtracknya juga ada yang berbahasa İndonesia, dinyanyikan Yuni shara, ”siapa yang….”
ditambah legenda ular putih, pai su chen, belum Justice Bao, jangan lupa film film hongkong, taiwan juga mendominasi…
ah siapa yang ga kenal bobo ho, lalu vampir loncat loncat, vampir bisa diem kalau ditempel kertas jimat.
Dulu selain Drama cina, Jepang juga ikut meramaikan: siapa yang masa kecilnya ga kenal satria baja hitam? sailor moon, lalu versi dewasa drama Oshin, Tokyo love story.
Korea pendatang baru diawal tahun 2000-an, ketika mulai dengan misi korean wave nya keseluruh dunia.
Gastro diplomacynya juga ikutan menguat, dibanding dua negara sebelumnya disebutkan, mereka itu sebenarnya tipe OKB, mulai deh sombong selangit, mentang mentang bisa bangkit cepat pasca krisis ekonomi 97-98, ras1s ke negara SEA padahal negara – negara SEA juga banyak membantu pasar luar negeri mereka.
İstilah lebih tepat, Balik lagi ke cina setelah kesasar di korea, ibarat macan, Cina itu kayak macan tidur aja, dan belakangan mulai bangun pelan pelan.
Lihat saja industri drama vertikal–short drama–nya mulai bikin candu bapak bapak, mulai pada ngayal jadi CEO, dan ternyata Korea juga mulai ikutan terjun ke pasar short drama, karena tau potensi cuannya tinggi, lagi lagi apa? yup pasar SEA, jangan diremehkan loh ya…
warga SEA termasuk yang nyumbang Cuan gede ke industri short drama cina.
Mbak inul aja sampai kaget, mas adam ngabisin 5 juta buat beli koin nonton Dracin.
Saya ga pilih pilih tontonan, masih nonton drakor? masih aja.kalau ceritanya cocok, ..dracin iya juga, drama jepang kadang, drama thai iya juga, apalagi horornya paling favorit thailand itu, drama Turki, tergantung…
hidup sama orang Turki dan sekelilingnya aja banyak drama malah nambah nambahin tontonan
sinetron indonesia atau film? masih juga kalau kebetulan ada di platform global langganan.
Mereka (knetz) harus tau diri juga, hidup di dunia saling ketergantungan loh, İndustri maju mereka juga butuh pasar, pasarnya dihina hina, tapi duitnya mau…, berasa minum di air yang ludahin sendiri gitu.
