Semenjak menikah teman yang benar benar dekat bisa dihitung jari, dunia saya memang banyak berubah, fokus urusan anak dan rumah tangga, sesama pasangan mix hanya sebatas kenal, teman senasip.

Lalu ketika pulang ke İndonesia, mencoba kontak beberapa teman, meski tidak seperti dulu lagi,–terakhir bisa kumpul lebih banyak. Mudik lalu, hanya sempat dua orang dari teman teman semasa bekerja di Jakarta.

Di lain waktu, Ada teman masa kecil yang berjanji akan bertemu, tiba tiba membatalkan. Lalu bertemu teman lainnya, dua orang, diwaktu yang berdekatan. Dulu kami bisa kumpul ber-empat, tapi sulit sekali saat itu, saya hanya sempat bertemu 2 orang juga, yang satu lagi sulit bertemu.

Teman masa kecil lainnya, karena sudah pindah kota, ini jauh lebih sulit. Meski akhir pekan dia sering mengunjungi ibunya, yang seharusnya mudah bagi saya untuk ketemu satu teman ini, tapi ternyata sulit juga. Waktu kami tidak pernah cocok.

Lalu janji dengan teman masa sekolah di Yogya, akhirnya bisa bertemu berempat juga, ngobrol panjang sampai akhirnya memutuskan untuk liburan bersama ke ujung kulon, sayangnya mendekati hari H rencana buyar, karena dua teman lainnya ada tugas mendadak dari kantornya masing masing, padahal salah satunya sudah dapat cuti tapi tetap harus balik ke kantor. Begitulah, mereka dan kesibukan masing masing. Dulu.., ya duluuu..bahkan tanpa rencana yang matang, hanya bermodal sms kami bisa kumpul dan liburan bareng, semua siap sedia, diawal karir dan belum berumah tangga. Semua terasa mudah dan bisa diatur saja.

Bertahun tahun tidak berkunjung ke İndonesia dan hanya tahu kabar lewat sosial media, sudah banyak yang berubah. Pertemanan tidak sehangat dulu…,

İni bisa jadi karena saya memang tidak pernah punya teman yang benar benar dekat layaknya belahan jiwa, bukan berarti tidak ada teman sama sekali, tapi memiliki teman yang benar benar amat sangat dekat-sudah tidak ada. Entah mereka yang menarik diri atau bawaan saya yang menutup diri.

Lalu ujungnya hanya suami jadi ‘kumpulan teman yang dibutuhkan’ itu. Disatu sisi saya bahagia dan bersyukur ada pasangan yang selalu hadir untuk saya, disisi lain terkadang merindukan kehangatan obrolan seru semasa muda, obrolan hangat tentang masa lalu, masa sekolah, kalau ini cerita dengan suami, dia hanya menjadi pendengar dan pembanding, karena dia belum ada dalam hidup saya ketika remaja, negara kami berbeda.

Lalu bagaimana dengan pertemanan diaspora? Pertemanan baru semenjak menikah ini penuh warna dan drama, kadang saya menarik diri supaya tidak terseret terlalu dalam, rasanya tetap beda dengan pertemanan yang kita temukan dimasa muda dulu, ketika sosok diri belum berstatus ibu, istri dan menantu. Ada beban moral, ada rem yang harus ditekan untuk tidak sembarang mengumbar dapur rumah tangga, mungkin hanya permukaan atau kisi kisi nya saja, tapi ada ‘tabir’ untuk menjaga mereka tidak terlalu dalam mengetahui cerita hidup saya, ya seperti menulis di Blog ini misalnya, bagi kawan lain bisa jadi ajang komersil menjadi cuan, bagi saya yang masih bertahan ditengah kemajuan sosial media dan Aİ, menulis tetap menyenangkan meski terkadang typo(* kebiasaan tidak melihat keyboard tapi layar**) jari jari sudah hafal posisi huruf, kadang kepleset ngetiknya. Semacam ruang penyembuhan jiwa, mengeluarkan apa yang berkecamuk dalam pikiran, meski absurd dan kayak orang pesimis.

Saya ini tidak pintar berbicara didepan umum, rasanyanya mulut berat untuk berucap, lalu pilih jadi pendengar saja, tidak menjadi pusat perhatian. Tapi disatu waktu saya bisa berubah, lebih kritis dan tidak berhenti bicara untuk mengungkapkan pendapat. Terkadang orang yang belum mengenal baik akan kaget ‘eh kukira pendiam’‘ setelahnya.., jika energi merasa terkuras, lelah

saya kembali ke mode diam.

İbarat baterai, kekuatannya hanya tahap menengah, tidak terlalu full tapi juga tidak kosong.

Mudahnya saja, jika energi saya sedang ok, kadang menulis cerita tersendiri di stories sosial media, jika energi sedang kritis hanya posting tanpa caption, pelit sekali jari ini untuk mengetik kata-kata, padahal ketika hendak tidur sering kesulitan memejamkan mata, dipikiran–menyusun skenario cerita yang panjang entah berapa paragraf yang ingin diketik, itu membuat kesulitan tidur. Kepala ini berisik sekali. Tapi ketika membuka akun, saya malas sekali untuk mengetik.

Apa ada kemungkinan dimasa depan setelah naiknya Aİ lalu ada teknologi pembaca pikiran.

Jadi hanya menghadap layar HP, tanpa bicara, teknologi bisa otomatis menuliskan apa yang sedang kita pikirkan..wow ga kebayang ngerinya juga sih.

Saya juga mencoba journaling, sebagai pengingat…, menulis apapun yang mengganjal, membuat dan menulis kata kata motivasi untuk diri sendiri.

Life after mudik

İni juga ga mudah buat saya, saya kadang benci harus pulang, bukan karena tidak kangen keluarga, saya benci harus menghadapi perpisahan kembali. melihat dan bertemu kedua orangtua yang semakin tua, mendengar cerita mereka, keluhan sakit, dan cerita cerita yang tidak sempat kakak saya bagi tentang orangtua. Hidup terus berjalan, waktu tidak berhenti. Disisi lain saya ingin waktu berhenti lebih lama atau diulang–supaya bisa membersamai keduanya lebih lama, bisa sempat membersamai mereka di rumah, saya menikmati sekali ketika membuka tutup saji meja makan, tinggal makan masakan emak, saya kembali jadi anak rantau yang pulang, posisi sebagai anak melekat. Keasyikan hanya sesaat sebelum tiba tiba anak saya datang, posisi itu menghilang dan menyadarkan saya, sekarang saya juga orangtua bagi dua anak.

Lalu mengunjungi pekuburan keluarga, bertemu nisan nisan kerabat yang sudah berpulang.., di dada saya sesak. Apa yang telah saya lewatkan.

Saya dan pilihan hidup pergi menjauh, dan menjalani takdir seperti ini, dimasa sekolah, saya tidak bercita cita hidup di negara luar dan menikah dengan salah satu warganya. Bahkan saya belum punya gambaran rumah tangga seperti apa yang akan dijalani.

Dulu hanya mengagumi pria sekadar: dia cerdas, dia berprestasi, senyumnya manis, perlakuannya gentleman-sekali, sudah cukup membuat hati saya yang rapuh itu jatuh hati, tapi bodohnya saya juga paling ahli menipu diri, seakan baik baik saja, tidak akan mengakui perasaan itu terang benderang, menyimpannya dalam hati rapat, bersikap cuek, lalu ketika keberanian itu muncul saya sering terlambat, mereka tidak peka atau sayanya yang masa bodo klise–tapi memang percintaan saya lebih banyak tipe unrequited love. Sehingga sampai dititik Allah mempertemukan dengan pria random yang endingnya jadi suami. Jauh dari segala tipe dimasa muda dulu. Dan karena pengalaman asmara seabsurd ini, akhirnya dapat pasangan yang terkadang 24 jam bersama pas dia libur, kemanapun kami pergi bersama, dulu haus perhatian, sekarang siap sedia. İya harusnya saya bersyukur…,

masih aja mencari apa ini yang membuat kosong jiwa, Terkadang saya malas mengobrol dengan teman senasip sebagai perempuan menikah baik dengan teman diaspora atau teman lokal karena obrolan tidak akan jauh tentang keluarga, lingkungan, kondisi politik, ekonomi.., sekolah anak, makanan.

Sumpah saya lelah.., ada teman komplek mengundang untuk ngobrol dan ngeteh, obrolan sudah bisa saya tebak. Seputar itu saja, padahal sehari hari saya juga sering mengobrolkan hal yang tidak jauh berbeda dengan suami, seperti mengulang saja.

Terkadang saya mencari teman ngobrol versi lain, semisal bahas drama cina atau drama korea, sudah cukuplah bertemu teman yang menceritakan drama kehidupan dan pamer pencapaian terus.

Apalagi kalau buka sosial media semacam facebook isinya obrolan drama rumah tangga mulu..hahah makin makin…,

Waktu mudik saya juga bertemu kawan lama, teman jalan seru (dulu**) tapi ketika bertemu obrolan sudah banyak berubah, dia dan dunianya, kebetulan kedua teman ini sama sama bergelut dibidang pendidikan, ada obrolan obrolan yang jujur tidak terlalu saya pahami, karena saya tidak bergelut dibidang yang sama dengan sistem indonesia, ujungnya hanya jadi pendengar.

Sesekali saya merindukan masa dimasa obrolan bisa lepas tanpa dibayang bayangi beban hidup yang berat dan kondisi lingkungan yang buruk baik ekonomi maupun politik terkadang obrolan selalu nyerempet ke bahasan ini terus. Tapi kalau bahasan berita dan gosip publik figure juga muak, kemarin saya perhatikan bahasan influencer yang digosipkan akan bercerai ramai sekali, perdebatan dikolom komentar tentang siapa yang salah dalam rumah tangga influencer itu membuat sibuk netijen, mereka yang sedang belajar jadi konten kreator mulai ”riding the wave” .sekali saya buka, ramai ramai membuat konten pembahasan cerainya si influencer cantik berdarah arab ini, berharap menghasilkan pundi pundi rupiah dari platform sosial media serba Pro itu. Ahhh adakah yang lebih menarik, ujungnya saya buka video serba kucing dan hewan lain yang kadang absurd kelakuannya, lebih menghibur.

.