Pernikahan bisa melewati tahun tahun genting saya ucapkan syukur alhamdulilah, apalagi jika melihat atau membaca cerita kehidupan rumah tangga yang dijadikan konten, baca curhatan dari berbagai netizen yang meninggalkan jejak di kolom komen, kisah hubungan dengan mertua, ipar, suami.., sepaket yang mewarnai kehidupan barunya, belum kisah perjuangan mengurus buah hati. Lalu kisah orang ke-tiga, bacanya suka dibumbui emosi.
Dunia pernikahan dan liku likunya. Kami pun tidak atau belum mendekati ideal, tapi selalu berusaha untuk saling menyesuaikan diri dan menerima segala kondisi, terkadang isu sensi memicu obrolan dengan penuh emosi, seperti ketika membahas sulitnya saya tembus permanent resident sedang teman teman di İstanbul banyak yang lulus, padahal syarat yang diajukan sama, lalu letak kurangnya saya dimana? Permasalahan di memur/ petugas bagian imigrasi yang masih gagap sama system. Untuk informasi: Awal saya menetap di negara ini, urusan ke imigrasian diurus oleh kepolisian, setelah tahun 2014, Turki baru membentuk Badan tersendiri bernama Göç idaresi–semacam kantor imigrasi juga. Merekrut ASN untuk mengisi Badan ini, ditambah ‘lucu’nya di negara ini, ya memang sistem bernegara tidak sama. Berdasar pengalaman suami, ketika lulus CPNS, menunggu penempatan lalu langsung aktif bekerja, Pelatihan baru 3 bulan kemudian inipun tergantung instansinya. Jadi banyak yang masih ‘gagap’ juga dengan aturan kerja.
Kasusnya, tiap provinsi jadi seperti beda aturan, atau dipersulit , petugasnya males ngurusin. İntinya saya sedikit kesal kenapa nasip saya tidak seberuntung kawan lainnya. Seperti biasa saya ngeluh sama suami, Dia dengan sabar mendengarkan berujung adu nasip hahahaha. Tapi yaitu seru-nya, lepas dari kekurangan kami, dia bisa menjadi sosok teman bercerita juga, ga peduli ceritanya kadang gak jelas.
Dia paham, emosi saya lagi jelek. Kemudian menawarkan saya untuk ikut pergi ke sanayi-komplek perbengkelan, menemani ganti oli. Sambil menunggu mobil di service, ditawarkan segelas teh hangat oleh montirnya, Hal yang umum disini sebagai bagian budaya masyarakat, Minum teh kapanpun dimanapun. Sementara saya duduk di ruangan pemilik Bengkel, suami memantau di luar beserta montir.
Selesai urusan service kendaraan, berkeliling komplek sanayi, saya minta diturunkan di İrem lokanta-war-teg versi Turki, dengan menu komplit, saya pesan seporsi Nasi campur tumis hati sapi dan seporsi tumis jamur dengan olive oil, meski tumisannya berminyak, tapi itu minyak zaitun semua. Dİrupiahkan sekitar 104 ribu, lumayan mahal ya, mengingat ditumis minyak premium, affirmasi diri–”ayo jangan perhitungan sama tubuh, makanannya sehat kok” Biar ga merasa berat kalau makan di luar:))
Selesai makan, tidak lama suami menyusul ke lokanta, saya memanggilnya begitu dia masuk, karena meja yang saya pilih dekat pintu, dia langsung pesan menu makan, tidak lama dia membawa semua pesanannya, karena lokanta menerapkan self service. Dia duduk, saya pergi ke toilet sebentar, meninggalkan hp disampingnya. Selesai urusan di toilet, dia menawarkan puding sutlac, saya tidak tertarik. Kemudian mengobrol kembali sambil menemani dia makan, Saya ceritakan jika di Avlu tanggal 17 nanti ada pameran buku, seketika dia tertarik dan merencanakan untuk mengajak anak anak juga ke pameran buku akhir pekan nanti, sekalian saya pergi ke On On cafe, Akhirnya niat mau ngopi di On On hari itu setelah dari Lokanta dibatalkan, mikirnya sekalian saja nanti pas datang ke pameran buku. Selesai makan kami putuskan lanjut pulang, tapi.., pas di jalan, saya scroll sosial media lagi demi memastikan tanggal, Ya Allah..ternyata 17 Oktober bukan 17 september hahahahah, artinya bulan depan. Oh usiaaaaa, mata mulai kesulitan melihat tulisan yang super kecil-.-”
Lalu saya bilang, ” mampir ke A101 dulu yuk” (A101 nama minimarket**) kemudian dia putar balik menuju daerah paşa alani, kami mampir minimarket ini. Tujuan utama mencari meja incaran, sehari sebelumnya kami ke minimarket di daerah tinggal, kehabisan barang promosi ini. Sayangnya di minimarket ini juga habis, adanya meja plastik, harga memang murah, sekitar 120 ribuan saja, ya udahlah daripada tidak ada! kami putuskan untuk membelinya. Meja untuk bersantai di Balkon apartemen.
Hubungan saya dan suami
Pernikahan itu penuh dengan tanggung jawab, pernikahan harus sama sama saling membahagiakan. Tidak ingin berat sebelah, hanya salah satu mengupayakan, lalu satunya abai.
Cerita klise diatas murni terjadi hari ini, saya sebagai manusia biasa, kadang suntuk, jenuh, berusaha untuk tidak peduli, tetap punya kesulitan tersendiri untuk mengabaikan, pikiran itu muncul…,
Suami inisiatif ngajak saya jalan meski itu cuma perkara ke bengkel, dia juga ga banyak bertanya, membiarkan saya dengan pikiran saya sendiri, seperti butuh ruang untuk bernafas, sepanjang perjalanan menikmati pemandangan saja, melihat kuda kuda yang sedang merumput di pinggir jalan, melihat kesibukan para pekerja yang sedang meng aspal jalan, montir di bengkel. Orang berlalu lalang di area sanayi.
Hari ini kami sarapan di luar, membebaskan saya dari urusan dapur, mengajak saya berkeliling..sederhana saja bukan.
Tapi saya amat menghargai inisiatifnya, dia paham kondisi emosi saya sedang jelek, terkadang keluar kata pesimis dan kalimat yang nyelekit, tapi tidak dia masukkan ke hati. Hanya membantu dengan cara meringankan.
Lalu biasanya, hari berlalu begitu saja dan saya melupakan, memandang dia kembali..
Terimakasih Tuhan, meski perjuangan bertahun tahun ini tidak mudah, meski masih jauh dari kata ideal…, dia baik, dia pasangan yang baik. Semoga Engkau selalu menjaganya.
Komitmen bersama yang kami sepakati didepan penghulu, semoga selamanya terjaga sampai menua..bersama.

