Setelah lama tidak pulang, kebetulan sampai rumah magrib, saya dan anak anak menginap di rumah kakak pertama, dia tinggal seorang diri, keponakan wafat akhir 2013, dan dia juga berpisah dengan suaminya. Awalnya berpikir untuk menginap di rumah orangtua, tapi karena tidak ada TV dan juga internet, sedikit menyulitkan untuk saya, bagaimanapun kebutuhan adanya jaringan internet bagi saya cukup berarti, mengingat–saya bawa HP tidak daftar imei dan hanya mengandalkan jaringan wifi, minusnya memang sedikit kesulitan ketika bepergian sendiri tanpa kakak, mengandalkan hotspot dari hpnya.
İngin menggunakan aplikasi ojek online pun tidak bisa, karena nomer dari luar negeri, sedang kakak saya tidak biasa memanfaatkan adanya ojek online karena memiliki kendaraan sendiri untuk mobilitas sehari harinya.
Banyak perubahan di kampung
Pagi harinya saya jalan jalan di kampung, cukup kaget dengan begitu banyak perubahan, sekarang berjejer ruko ruko di sepanjang jalan, lalu banyaknya bangunan kontrakan- jujur saya menjadi ‘asing’ sendiri, karena tidak semua saya kenal, hanya tetangga dan teman teman masa kecil saja yang saya kenali, pendatang banyak di kampung saya. Di depan gang masuk rumah kakak sudah ada warung madura, lalu warung sate, minuman kekinian , toko baju, sembako, laundry kiloan, masha allah perubahan dan pergerakan ekonomi sekarang cukup pesat di kampung asal, Bahkan sudah berdiri warung kopi kekinian waralaba dari negeri xie jiping, pelanggannya cukup ramai, harga cukup terjangkau, dengan rasa manisnya-subhanallah— saya pernah pesan es kopi less sugar tapi tetap saja kemanisan.
Saya juga sering pangling, tiba tiba dijalan ketemu remaja yang salim, alias cium tangan, lalu saya coba mengingat ‘ini siapa?’– ternyata anak teman saya-.-” terakhir bertemu masih berseragam SD, lalu ibunya cerita kalau dia baru saja keterima di Uİ.., Ya Allah..saya sudah melewati banyak sekali ketinggalan cerita di kampung. Lalu ada juga anak tetangga, yang dulu saya sering lihat dia main sendirian, sedang neneknya sibuk jaga warung, seperti anak yang tidak terurus, nyatanya anak itu tumbuh jadi perempuan cantik dan mandiri, sedang menyelesaikan pendidikan tingginya. Banyak hal yang terlewatkan, termasuk kabar duka selama saya tidak pulang.
Zaman covid, uwak saya , kakak perempuan si emak, wafat. Lalu disusul adik si emak alias om saya, yang juga sakit. Tidak lama, uwak saya kembali (kakak laki laki si emak) kemudian kakak sepupu wafat, Sebulan sebelum saya pulang, sepupu si emak yang juga tetangga lama kami wafat. Lalu Ustaz yang disegani juga guru ngaji seberang rumah wafat. Ayah dari teman kecil saya wafat.
Selain kabar duka, ada juga kabar bahagia, adik saya menikah tapi saya tidak pulang waku itu, karena awal covid dulu, berita dunia sedang heboh hebohnya, adik saya punya anak laki laki 1 usia 3 tahun, jadi cucu penghibur emak saya, lalu kakak laki laki yang menantikan buah hati cukup lama, hampir 10 tahun, juga dikaruniai 2 anak balita dengan jarak berdekatan. Lengkap sudah, pulang bertemu 3 keponakan Balita. Selama mudik, anak adik saya yang cukup pintar bicara selalu jadi penghibur kami dengan celetukannya yang tidak terduga, kemana kami jalan-jalan dia selalu ikut. Bahkan saking lucu tingkahnya, biasa anak seumuran dia jika ditinggal ibu bapaknya bepergian, akan menangis, tidak mau ditinggalkan, pengen ikut jalan bersama ayah ibunya, tapi anak ini unik, ketika ayah ibunya mau bepergian, dia inisiatif sendiri, minta dititipkan saja ke rumah kakek neneknya alias orangtua saya, ”titipkan saja, ga usah diajak” ucapnya. Dia akan senang hati main di rumah kakek neneknya, bahkan jika tidak dijemput adik saya yakni babanya sendiri, dia akan senang hati untuk menginap.
Jadi cucu dari anak bungsunya ini cukup menghibur kakek nenek, tidak kesepian berdua, meski saya hidup jauh ditanah seberang. Mereka punya pelipur hati, cucu yang menggemaskan.
Saya juga bertemu teman masa kecil yang sayangnya sudah pindah ke beda kota, tiap akhir pekan dia kadang berkunjung ke kampung untuk menjenguk ayahnya. Lalu teman masa di Yogya yang sekarang jadi warga Bekasi juga datang menghampiri ke rumah. Kawan lama saya.
Saya tidak membuat itinary selama mudik 2 bulan itu, jadi fokus saya memang: ”quality time” dengan keluarga, niat ke Yogya juga saya batalkan, keinginan ke Lombok berkunjung ke rumah sepupu juga tidak terlaksana, tiket cukup mahal, salahnya saya memang tidak membuat planning yang jelas, beli tiket dadakan semua, cukup menguras kocek. Saya harus mengatur keuangan selama di İndonesia, meski suami juga membekali kartu extra untuk belanja lainnya. Waktu 2 bulan itu memang benar benar lebih banyak saya habiskan di kampung, bertemu kawan, teman blog atau lainnya tetap dilaksanakan. Tapi stay vacation tidak ada. Awalnya akan pergi ke ujung kulon di minggu terakhir, tiba tiba kawan membatalkan, yang satu sibuk urusan di gedung DPR-karena dia bekerja sebagai salah satu staf ahli disana, yang satu Dosen yang sedang sibuk sibuknya, yang satu pengusaha mainan, sulitnya menyatukan waktu bersama, padahal si kawan sudah ambil cuti, tapi tiba tiba diminta masuk kantor karena ada pekerjaan penting. Batal akhirnya. Rechedule tentu sulit, karena tiket pulang ke Turki sudah fix minggu depannya. Solusinya saya harus buat planning terperinci jika ada kesempatan pulang lagi ke İndonesia. Mencocokkan jadwal dengan kawan kawan yang super sibuk itu. Semoga bisa terlaksana, tahun depan mungkin?
Biasaya jika suami ikut pulang, kami menjadwalkan liburan tersendiri, tapi karena beliau kali ini tidak ikut…, saya terlalu santai…ga buat planning liburan yang jelas–hanya seputaran jabodetabek–, saya lebih banyak kulineran sama anak anak, mencoba aneka makanan kekinian, cafe cafe pokoknya lebih banyak jajan dan jajan:) Liburan untuk melihat laut sudah sering di Turki, maunya laut yang jauh–kalau seputar Banten, sudah sering dari dulu, tapi yaitu…İndonesia daerahnya lebih luas dari negara tinggal sekarang, siapa bilang mudik ke İndonesia murah? kalau hanya sekadar pulang ke rumah orang tua, ok lah, tapi kalau sekalian ingin liburan, tidak cukup 1 tiket pesawat.
Nanti lanjut lagi:)))

