Orang pasti menilainya ini over thinking, pemikiran berlebihan. Padahal saya ga menganggapnya demikian. Perkara kematian itu pasti. Waktu juga tidak bisa diulang, hanya lewat film atau drama-bisa kembali ke masa lalu dan mengubah keadaan-selebihnya hayalan manusia yang diwujudkan dalam karya.

Saya hidup di negara sekarang, alhamdulilah keluarga suami juga muslim, kalau terbilang taat atau tidak,–perkara ibadah urusan pribadi mereka- tapi keluarga berhaji dan umrah juga biasa- sejauh ini keluarga suami: bukan pengkonsumsi alkohol dan kehidupan bebas, kerja halal. Jangan samakan semua orang Turki berpaham sekuler, tidak tahu solat dan mengaji, keluarga suami bukan bagian yang terciprat paham sekulerisme-masih sewajarnya muslim biasa.

Kemarin saya bahas ini, ” nanti kamu sudah ga Ada, kalau saya wafat duluan” tanya saya. Dia jawab ” ya sedih lah..” –lalu lanjut ” ga kepikiran saya menikah lagi, cuma kamu” malah dilanjut ” kalau saya yang wafat duluan, jangan kamu nikah lagi, apalagi sama orang Turki, banyak yang jahat ke perempuan”, Wejangan suami, jangan menikah lagi atau kepikiran menikah lagi sama pria Turki, astaga..dia aja sebagai pria Turki ga menyarankan, lalu saya bilang ” ga minat” Udah tua mending fokus ibadah siapin bekal akhirat.

Kalau bisa sih jangan dia duluan, saya ga mau sendirian di sini tanpa dia.

Lalu kerjaan saya ngapain dong selama ini? Kadang terbersit iri dengan kesibukan orang lain, lah gue gini gini aja. Tapi sering lupa dan terlewat apa yang mestinya disyukuri. WAKTU.

Perkara rezeki yang Allah berikan lewat perantara suami, alhamdulilah tercukupi, tidak sampai kelaparan, ada makanan setiap hari. Kalau mengikuti keinginan duniawi ya emang tidak ada ujungnya. Saya punya waktu yang ga tergadai untuk duniawi semua, ada waktu yang cukup untuk membaca, untuk solat, buka dan baca alquran. İni juga rezeki yang tak ternilai, kedamaian, ketenangan. Masih ada waktu untuk menjalani hobi, olahraga. Suami yang ga banyak tingkah, jadi ga menjual untuk dikontenin ya amit amit juga sih. Ayo apalagi..biar ga kepikiran aneh aneh.

Tapi segala kenikmatan yang diberikan, bukan berarti saya menganggap enteng masa depan. Saya tetap mode ‘cerewet’ ngingetin dan ngajarin anak anak perkara agama. Semaju apapun dunia, seheboh apapun teknologi di masa depan dan pemikiran kaum kaum terpelajarnya juga makin tinggi, saya tidak ingin anak anak meninggalkan akidahnya dan menggadai jiwanya untuk dunia saja.

Saya kenalkan untuk masa bersiap, tentang ‘Kehilangan’ suatu saat itupun datang ke kami. Langkah apa, harus bagaimana, ketika diajarin alfatihah aja ngeluh, saya ceritakan tentang 3 amalan di dunia yang tidak terputus, salah satunya anak soleh dan doa-nya, karena secara tidak langsung ini bahas tentang ‘ kehilangan’–jadi dia harus bagaimana– kalau si anak seperti ini saja tidak paham dan tidak dikenalkan dari kecil, jangan jangan pas orangtuanya meninggal, cukup dikubur saja kayak bangkai hewan, sewa orang untuk mengurus dan mendoakan, karena tidak kenal agama, malah diputarkan lagu favorit orangtua nya pas penguburan-misal linkin park–amit amit.

Hidup di luar negeri kalau mati gimana?

İni pertanyaan klise, banyak saya temukan-yang tiba tiba nasionalis, ‘‘entar balik lah ke İndonesia, menua disana, wafat dikuburkan di daerah asal” –pertanyaan balik, emang umurnya nyampe? Apapun bisa kita rencanakan tentang masa depan, apa bagian overthinking? menurut saya wajar aja. Kalau kamu bukan orang yang penting penting amat- biaya pemulangan jenazah balik ke İndonesia bukan perkara murah, tiketnya ga nyari harga gledek di scycanner, dokumen yang diurus ga sebatas paspor. Ujungnya wafat dikuburkan di negara yang sedang ditinggali. Hidup matimu hanya untuk Allah, dimanapun hidup ya bumi milik Allah…Asal nanti ketika wafat diurus secara syariat..dikubur dimanapun ..nanti kumpulnya di padang masyhar bukan rumah makan padang.

Jadi kalau ditanya perkara nasionalisme saya?

udah runtuh semenjak saya memutuskan menghabiskan masa belajar dan masa muda di Yogya, bukan di kabupaten asal. Dengan jalanan rusak, berdebu, korupsi dan ketimpangan sosial nyata terlihat di depan mata. Sayangnya saya hidup 28 tahun di İndonesia, bukan di daerah yang cantik dan jadi ikonik keindahan İndonesia..tapi sebaliknya. Sulit menumbuhkan rasa cinta itu. Saya selalu rindu İndonesia seputar keluarga dan kawan lama, kalau birokrasi–terimakasih:)) meski disini juga ga lebih baik soalnya ngbandingin sama yang lebih ribet.
kalau kelak saya wafat, saya ga kepikir untuk dimakamkan di pemakaman cilancar-pemakamam keluarga–dimana saja, selama bumi Allah, bukan di Mars karena saya tidak cukup jadi milyuner untuk membeli tanah kavling ikut boyongan sama elon musk– Saya ingin dimakamkan dengan baik, secara syariat. İtu saja. Wafat husnul khotimah dan keluarga yang saya tinggalkan tidak larut dalam kesedihan panjang.

Umur saat ini sudah kepala empat–masuk separuh baya…lalu apa yang dicari..ketenaran dunia…

menyepi dan menikmati hidup yang tersisa dan jangan lalai untuk mengumpulkan bekal akhirat nanti, supaya bisa lolos screening malaikat pas ditanya tanya..dan layak masuk surga pakai fast track. İtukan tujuan utama kita sebagai umat muslim yang mempercayai adanya hari akhir, percaya adanya akhirat. Kita lurus lurus aja lah, jangan kalah lawan ego, hawa nafsu. Seakan dunia kehidupannya abadi. Padahal mati itu pasti, Goblin yang umurnya ratusan tahun aja ngarep mati (korban drakor) jadi sebenarnya ga gimana gimana kalau nulis dan bahas ini. Jadi pengingat supaya tidak terlena terus menerus dengan dunia. Akumah apa atuh….