Saya masih ingat, pernah merekam video fatih ketika bicara dengan anak petani seberang komplek dulu, namanya Melisa. Fatih masih ingat pengalaman diajak terbang ke İndonesia, bagaimana suasana Bandara, harus ngapain.

Dengan bahasa Turkinya yang lancar, dia jelaskan ke temannya Melisa, bagaimana kalau pergi ke luar Turki, kira kira kalau saya terjemahkan seperti ini,

” kamu harus buat paspor, buku kecil itu”

”nanti koper kamu masuk mesin, diperiksa”

”paspor kamu dilihat”

”udah, tinggal naik pesawat”

”nanti aku kalau udah besar mau ke Amerika, caranya seperti itu”

Saya mendengar dan merekamnya sambil mengulum senyum, Fatih kelupaan cari tiket sama buat visa dulu, belum harus ada uang jalan–oh iya, namanya juga dari sudut pandang anak kecil, tinggal naik pesawat 🙂

melissa, anak petani seberang komplek dulu…

Saya dan baba-nya tidak melarang jika kedua anak ingin merantau, sedari kecil kami kenalkan kehidupan tidak hanya seputar daerah tinggal, saya ajarkan mereka masak, mengenalkan bagaimana proses masak-memasak di dapur, dilibatkan, diusia 10 tahun sampai sekarang, dia sudah bisa masak menu yang dia suka, nonton video dari youtube, catat bahan. Beberapa hari lalu dia mau buat spaghetti sesuai resep, minta tomat. Kebetulan stok kosong, saya sempatkan beli di market sepulang pilates, karena masih musim dingin, harga tomat terbilang mahal(tomat–sayuran kategori musim panas) jadi beli ga banyak, lalu Fatih bilang butuh 10 tomat??

Padahal dia buat menu untuk satu orang:)) saya bilang, 1 or 2 tomat cukup, bukan 10, kecuali buat masak besar, akhirnya dia nurut saran saya. Berkreasilah di dapur, meski bonus lebih berantakan. İts okay-proses belajar.

Masa depan milik mereka, meski kadang saya sebal sama babanya, ”polis olacağız” kamu jadi polisi aja nanti atau tentara, atau jaksa. Saya kritik babanya, biarkan anaknya menentukan apa cita citanya sendiri, jangan bebani dengan impian dia. Sampai saat ini jika ditanya cita cita Fatih belum jelas maunya dimasa depan apa, dia hanya pernah lantang bilang: pergi ke Amerika, jerman, jepang, kadang ubah ubah tujuan, kemauannya untuk tahu dunia luar cukup tinggi, saya sempat tanya, apa Fatih mau ke İndonesia juga? dia bilang, kalau liburan suka İndonesia–dia ngebayangin pernah sakit 2x setiap mudik dan harus ke dokter-jadi beban–gimana kalau tinggal lama, lebih cocok liburan saja. İnsha Allah ya nak tiap tahun selalu masukin jadwal liburan ke İndonesia menengok tanah kelahiran anne-nya.

Berbeda dengan adiknya, sedari kecil-ya sekarang juga masih kecil sih- visi misinya jelas: Cita cita jadi Dokter, nanti punya restoran Asia juga sebagai usaha sampingan-udah bermimpi joın usaha sama Mahbub*anak tetangga*yang juga temannya sekarang-mereka mau join usaha restoran, kerja dan punya rumah mewah di İstanbul, udah besar pake hijab kayak anne, terus bisa ke mekkah berdoa didepan ka’bah. Waktu saya bilang, jadi dokter itu harus pintar dibagian ilmu eksak–dia semangat sekali tiap ada matematika, sepulang sekolah langsung kerjakan PR-karena kami tekankan kedisiplinan- PR selesaikan baru boleh main atau nonton TV. Dua hari lalu dengan cerianya dia bilang: ” anne udah diajarin perkalian di kelas”

Dua anak berbeda karakter memang, abangnya masih menebak nebak apa yang dia inginkan di masa depan, adiknya sudah buat manifest sendiri, bahkan akhir tahun lalu, dia ikut ikutan saya buat kertas karton dan ditempel gambar gambar manifest dalam hidupnya. Kapan kapan saya posting:)

Masa lalu

27 tahunan lalu, selepas saya lulus Tsanawiyah di Yogya–minggu lalu-ada reuni akbar, dan saya tidak bisa hadir-tapi ikut pesan tshirt alumni–Nanti saya ambil di teman yang tinggal di jakarta pusat.

Saya jadi mengingat memori masa remaja, pernah jatuh cinta-sebutnya apa ya–namanya juga masa puber, dengan teman sekelas. Lulus ya bubar begitu aja, sebatas surat suratan, ga sampai aneh-aneh, karena cukup kuat benteng moral kami heheh. Saya tidak pernah berpikir kalau tahun 2011 saya menikah dengan lelaki yang jadi suami sekarang. Mimpi pun tidak.

Obsesi dengan pria bule atau WNA tidak terlintas, meski paham bahasa inggris tapi untuk memulai percakapan lidah rasanya kaku. Jadi keinget dulu kursus di LİA sepulang kerja, ada teman kost yang kerja disalahsatu kursus bahasa pesaingnya. Saya capek dikritik setiap mencoba bicara bahasa inggris karena aksen sundanya:V ”kurang british”-.-‘ itu gimana, kan emang bukan native. Jadi sedikit menyenggol rasa percaya diri.

Jadi kepikiran, dengan bahasa asing yang minim gimana bisa dapat jodoh orang asing. Tapi kok rasanya sulit sekali dekat dengan pria lokal. Sekali dekat ternyata suami orang, ngajak poligami–astaga, 3x nasip saya didekati pria beristri. Jadi langsung -cut- Yang bujang sulit mendekat kenapa yang agresif malah pria beristri-rasanya apes banget, ngadu sama Allah..Sehingga dapat jawabannya: babanya anak anak, bujang tulen, ga ngerokok, ga kasar, pendidikan setara-cuma waktu itu belum mapan- sekarang pun masih dilevel ikhtiar terus, Ga ada pria sempurna–tapi dia pilihan terbaik insha allah.

Pilihan saya, mempertaruhkan karir yang juga sebenarnya jalan ditempat. Ada diskriminasi gaji dan etnis, ga asing kok di İndonesia, hal ini terjadi juga. Saya pilih resign dan menikah, Saya tidak punya tabungan cukup-sebagai generasi separuh sandwich– uang gaji tidak saya nikmati sendiri, selain untuk biaya hidup-ngekost sendiri- saya juga masih senang hati ngasih emak, jajanin keponakan. Gaji UMR (waktu itu)lebih dikit, hidup di Jakarta. EH menikah sama pengangguran–kan kurang nekad apa.

Suami resign juga demi menikah, karena tidak dapat izin sebulan, Karena kampungnya dipinggiran komplek industri-dia mikir-”banyak orang dalam” bisa ngajak dia kerja lagi di Pabrik. Dan memang terbukti, sebulan setelah hajatan di kota asalnya, ada kawan lamanya nawarin kerjaan lagi. Kerja sebulan keluar lagi demi bisa tes cpns terakhirnya– Hidup kami emang penuh kenekadan- Perencanaan tetap matang kok sebenarnya- dulu juga kami sempat buat ancang ancang, kalau tidak lulus cpns, udah ada formulir kerja pabrik lagi ditawarin kawan yang lain. Belum sempat diserahkan, alhamdulilah namanya lulus, ada dideretan orang orang yang keterima tahun itu. Sehingga inilah kami sekarang.

Terkadang mempertanyakan sendiri, kok jalan hidup gini amat ya? kok bisa…,

Melihat teman teman lama di Yogya reuni, saya juga kangen-rasanya ingin punya ‘Pintu kemana aja’ punya doraemon, lalu ketemu mereka, berbagi energi positif, candaan khas dari masa lalu-saya friendsick–kangen kawan kawan lama, yang mengenal masa muda saya.

Ketika menikah dan hidup di negara baru, semua seperti di ‘reset’ kehidupan baru, Berkawan dengan teman lokal tidak bisa disamakan dengan cara kita berkawan dengan teman sekolah. Berkawan dengan sesama diaspora, meski sama sama orang İndonesia, drama juga banyak. Berapa kali dengar cerita sesama diaspora musuhan, sampai bawa bawa polisi–yang terbaru kasus diaspora di jerman dan swiss sampai lapor polisi.

Waktu baru pindah ke kota saat ini, saya aja kena digosipin-padahal demi Allah ga kenal sama si penggosip, namanya Hilda, bentukannya juga saya tidak tahu, tapi dia bisa menggosipkan saya dengan penilaian negatif-Katanya saya pilih pilih pertemanan-hanya dengan orang kaya:V wow apakah kawan saya disini jutawan semua apa milyuner, gosip yang membuat saya tertawa terbahak bahak karena fantastis sekali penilaiannya, saya dan kawan kawan diaspora yang tinggal sekota langsung ngakak bersama, karena bukan saya saja, teman yang lain juga sama digosipin berjamaah oleh orang bernama hilda ini-yang entah dimana hidupnya juga kami tidak tahu.

Sampai sekarang untuk dibilang adakah sahabat terdekat selama hidup disini? saya jawab: belum ada, semua saya anggap teman biasa, tidak ada yang benar benar dekat, sekadar teman ngumpul, cerita , tapi untuk cerita lebih dalam-saya membatasi diri, apalagi sudah menikah. Tidak semua bisa diumbar ke orang terdekat.

Kadang hanya ingin ngoceh saja, tapi saya kalau bicara panjang belibet juga, sekadar untuk mengeluarkan uneg uneg, menulis emang salah satu solusi terbaik, kalau buat konten bijak ala konten kreator video reel-duh–ada rasa kurang percaya diri, lihat muka sendiri ngomong sok bener hehehe, tulisan juga kayak orang bener aja ya hahahah.

Saya sering kok kesepian, apalagi tidak pandai membawa arah pembicaraan, bedanya ini sama suami. Dia pintar ngobrol, kalau saya suka kebingungan nyari topik obrolan,sering juga jadi ‘obat nyamuk’ kawan lokal, kalau ngobrol, biasanya tukang nyimak dan cuma sesekali menimpali-bukan yang jadi pusat-obrolan- kayak lelah gitu, nah ada kabar terbaru—Suami ngajak anne baba untuk ramadan bareng lagi tahun ini.

Saya ga masalah aslinya, kalau saja mertuanya kalem, masalahnya beliau suka sekali ngobrol-.-” saya ga suka diajak ngobrol lama lama , mau seperlunya. İni menguras baterai energi saya, Sabar sabarin sebulan, ujian bulan puasa:)))