Belakangan ramai tagar #kaburajadulu..

Tiba tiba konten diaspora membahas tagar ini ramai…lumayan cari engagement . Ada banyak pertimbangan dan alasan orang orang memilih merantau ke luar İndonesia, baik lewat mengadu nasip jadi tenaga migran atau jalur pernikahan.

Kalau saya? memang jalur menikah, keluar dari İndonesia dimasa akhir presidennya masih pak SBY, ya pak SBY yang terakhir saya anggap presiden:D karena setelah itu saya ga berurusan banyak dengan birokrasi dalam negeri. Pengurusan Dokumen alhamdulilah sesuai prosedur, suami sebagai sponsor visa mengurusnya dengan baik. Dia bertanggung jawab penuh urusan dokumen istri dan anak anaknya.

Pekerjaan saya? İbu rumah tangga yang hobby nulis di Blog. Memang sumber nafkah utama adalah suami, ya disyukuri saja, ga semenyedihkan narasi konten kreator kok. Saya bertanggung jawab penuh bersama suami membesarkan anak anak, ini juga pekerjaan yang terlihat menyenangkan kalau lewat postingan sosial media, tapi dibelakang layar ga terungkap semua. Menjalaninya saja , ga kerasa bertahun tahun…pahit manis ya jalani…melihat kebelakang juga ga ada untungnya, waktu ga akan bisa kembali diputar.

Pilihan saya menetap di Turkiye, bukan karena terobsesi dengan lelaki lokal, jelas karena menikah dan berjodoh dengan pria yang sekarang jadi babanya anak anak. Awal tahun 2010-an ada memang wanita İndonesia yang menikah dengan pria Turki, tapi jelas ga sebanyak sekarang ditambah banyak konten tema pasangan mix indoTurki di sosial media, dulu biasa aja. Dan masuk kategori underrated..LOL , karena kebanyakan pasangan mix itu sama pria eropa dan itu sudah dari dulu bahkan dari era İndonesia atau sebelum Merdeka, banyaknya dengan Belanda. Karena ada sejarah kolonial. Pasangan Turki, mungkin ada di era sebelum kemerdekaan-kalau ditarik sejarah era Ottoman dan hubungannya dengan salah satu provinsi İndonesia.

Di era modern, saya kenal gelin lama, sudah memiliki cucu, di kota asal suami. Lalu ketika suami bekerja di İskilip, ada tahanan anak mix-İbunya berasal dari kalimantan. Dia dipenjara karena melakukan tindakan kriminal-pencurian- memang tidak sesempurna itu, garis nasip anak keturunan juga macam macam. Ada yang beruntung jadi artis bahkan kriminal. Tapi semoga anak keturunan mix İndoTurki sekarang jadi anak baik semua, hebat hebat, sukses di dunia dan untuk akhiratnya kelak.

Menjadi perantau memang bukan hal baru bagi saya.

kaburajadulu

Sejak lulus SD tahun 90-an lalu berangkat ke Yogya untuk sekolah di Pesantren sampai lanjut saya lulus kuliah di Yogya, terbilang merantau. Karena keluarga besar dari mbah buyut saya-asalnya memang area jabotabek- Bukan kaum pendatang dari luar jawa-tapi kurang tahu juga leluhur leluhur sebelumnya-apa asli Nusantara atau pendatang-

Lalu ketika saya minta izin untuk menikah dengan pria asal Turki, sebenarnya bapak saya ga kaget kaget amat. Saya terbiasa hidup di luar kampung asal, ga betahan. Bukan karena keluarga toxic-tapi kurang nyaman dengan lingkungan tinggal- jalanan selalu berdebu, rusak, berisik..ah ga ada indah indahnya ketika daerah tinggal banyak dijadikan area pertambangan batu pasir. Ketemu kota Yogyakarta-yang jalanannya mulus kebanyakan, polusi debunya ga separah kampung saya. Berasa baru tahu ‘oh ini İndonesia ya” soalnya saya berasa lahir di pedalaman afrika-jalanan ga terurus- eh padahal ga jauh dari İbukota Jakarta saat itu (sekarang apa masih?)

Jadi apa betah hidup di luar İNDONESİA?

kalau saja saya dari dulu tahu caranya kerja di luar negeri, mungkin dari lulus kuliah pengennya keluar İndonesia, kenapa ga berani? masalahnya diperizinan–orangtua saya terbilang ‘kolot’ dan khawatir kalau melepas anak perempuan merantau lebih jauh belum ada mahram- kayaknya kuno banget ya..tapi mau bagaimana, bibi saya sempat jadi TKİ di arab saudi pun bareng sama suaminya. Kalau paman saya kuliah di kairo, karena dia laki laki. Saya ga bisa menentang begitu saja-males ribut juga orangnya.

İnformasi sekarang deras sekali, ada banyak kemudahan untuk mencari tahu sebelum berangkat merantau ke luar negeri, jangan nekad apalagi ilegal. Patuhi prosedur di negara tinggal, tujuannya: untuk keamanan diri sendiri. Kalau sakit di negara orang-masih bisa berobat dengan asuransi, kalau non-asuransi, jelas akan menguras keuangan. Kalau ada izin tinggal resmi atau visa kerja, hitungannya juga terlindungi hukum di negara rantau.