Sudah masuk bulan ke-10 atau Oktober, Cuaca musim gugur mulai datang kembali, disekitar daerah tinggal diatas perbukitan banyak sekali turbin dipasang, seinget saya, sepanjang are aegean-marmara, mediterania, banyak turbin dipasang, memanfaatkan energi angin. Berbeda sekali dengan daerah black sea atau di Turki tengah, nyaris tidak ditemukan turbin diatas perbukitan, sekarang saya mulai paham setelah 3bulan hidup ditempat baru, cuaca disini sering sekali berangin.

2 hari sebelumnya, pergi ke carsi untuk membeli kotak bekal si bungsu, kotak sebelumnya yang saya beli di Mall, malah patah. Anaknya bersedih, karena ingin pakai kotak bekal model seperti itu. Sebelumnya dia masih memakai kotak bekal sekolah waktu TK. Dengan bersepeda saya pergi ke minimarket terdekat, sayangnya sudah tidak ada kotak bekal yang mereka jual, barangnya ditarik. Menjelang tahun ajaran baru, biasanya banyak promo peralatan untuk sekolah, termasuk menjual botol minum dan kotak bekal. Berharap masih menemukan kotak bekal di rak khusus barang promo, ternyata benar-benar sudah tidak dijual.

Kemudian saya lanjut naik sepeda ke pertokoan di area carsi, ada toko alat tulis, begitu masuk saya tanya, apa beliau jual kotak bekal? ternyata masih jual, dengan perasaan senang saya akan membayar menggunakan kartu ternyata mesinnya rusak, tidak bawa cash. Kemudian saya tanya ke pemilik toko jam tutup kapan? karena saya akan pulang dulu ke komplek untuk mengambil uang tunai. Ternyata beliau mengatakan toko buka sampai waktu magrib. Lalu saya buru-buru naik sepeda kembali untuk pulang.

Nah dijalan pulang ini, angin bertiup sangat kencang, rasanya untuk mengayuh sepeda sangat sulit, karena posisi angin kencang,kalau berat badan saya dibawah ideal jangan jangan terbawa angin hehehe. Kemudian saya putuskan untuk turun dari sepeda dan menuntunnya sampai komplek, serba salah. Suami menyarankan untuk lain waktu saja membeli kotak bekal, nanti dia antar naik mobil, karena cuaca berangin, cuma karena saya merasa ga tega lihat sibungsu*lemah banget emang hati seorang ibu*** dan kalau udah punya tujuan, ga suka menunda nunda, kalau bisa beli saat itu kenapa harus nunggu nanti. Mana sudah janji sama pemilik toko untuk kembali datang setelah ambil uang di rumah. harus tepati janji, ga peduli angin kencang, siapa tahu bsa kebawa angin sampai jakarta hahahhaa, nekad emang.

Saya paksakan berangkat lagi untuk ke-dua kalinya, syukurnya kecepatan angin mulai berkurang. Sekalian bakar kalori pikir saya, karena sebelumnya saya sudah ‘bersalah’ ngemil cheetos dan minum kopi mocca , 2 kali mengayuh sepeda, lumayan lah ya, mengurangi sedikit dosa sama tubuh ini. Begitu sampai rumah, si bungsu tersenyum bahagia, babanya kaget, pikir dia saya ada di kamar dan ga jadi naik sepeda lagi ke carsi, ternyata saya ngeyel tetap berangkat. Syukurnya pulang dengan selamat.

Kehidupan di komplek dan tetangga

Saya kurang gaul, ngaku introvert saja lah. Atau mungkin karena komplek dinas saat ini lokasinya tidak terlalu diisolasi dari peradaban dibanding dulu. Warga komplek sering kali bepergian, ibu-ibunya juga sibuk jalan, mereka dibekali kemampuan nyetir baik mobil, motor atau sepeda listrik, jarang sekali saya lihat ibu-ibu nongkrong di kursi taman untuk ngerumpi seperti dulu. Saya baru kenal 1 tetangga saja namanya dan tetangga atas 1, tapi sekarang lupa namanya si tetangga atas, karena dia memperkenalkan diri dihari pertama kami sedang beberes unit apartemen, kondisi lagi repot, capek, ada yang nyapa memperkenalkan diri, kemudian lupa namanya.

Kebanyakan tetangga kami berprofesi tentara-jandarma- hanya beberapa yang seprofesi suami, lalu ada juga di gedung C keluarga polisi, mereka juga dibolehkan tinggal di komplek dinas ga membatasi profesi selama masih abdi negara atau pns, kalau kepala lapas mengizinkan, mereka bisa menyewa komplek dinas. APa komplek terbilang aman? bisa dikata seperti itu, parkiran bebas motor, mobil tidak ada yang berani masuk untk mencuri, jangan jangan pencurinya trauma sendiri sama para penghuninya, masuk area komplek, palang gerbang hanya bisa dibuka oleh penghuni yang dibekali remote kecil selain itu hanya bisa dibuka dari pos jaga tentara, disatu sisi ada keuntungan buat saya dan anak-anak, tidak terlalu khawatir ditinggal si baba jaga malam. Komplek sejauh ini terbilang cukup aman.

Melihat potret bahagia orang yang bebas

Karena tidak diizinkan untuk mendokumentasikan, jadi cerita saja. Dikomplek saat ini posisinya di pojok, jadi urutannya: pos tentara, asrama jandarma, lapas, baru komplek dinas. Berbeda dengan di tempat lama: komplek dinas dulu baru lapas, memang bisa melihat aktivitas pengunjung tapi dari kejauhan.

Ditempat sekarang, jika saya keluar bersepeda, lewat gerbang kecil, lalu lewat pos tentara, ada marka jalan semacam blok disisi kanan kiri, ada parkiran mobil di pinggir jalan seberang pos tentara, ada halte dan khusus halte taksi, lalu cafe kecil untuk pengunjung dan masjid (masjid ata mescid dalam bahasa Turki lebih cenderung mirip musola ya kalau di İndonesia, untuk masjid besar kata yang dgunakan adalah: Cami (jami) bukan mescid(masjid) semisal sedang di Turki di Mall atau di ruang publik ada tulisn: mescid itu artunya musola, tempat lebih kecil, kalau cami itu masjid masjid besar seperti masjid biru, (suleymeniye camii)

Nah setiap saya lewat, jika dihari kunjungan tahanan, ramai sekali. Sering saya melihat orang yang baru dibebaskan, mereka membawa semua barang yang dimiliki selama di lapas, karena tidak cukup 1 tas, ada yang memasukkannya dalam plasik besar, isinya macam-macam, banyak juga yang isinya tumpukan buku, ada kulkas kecil, tv kecil, baju baju ditumpuk saja dan disatukan dalam plastik besar.

Jika mereka masih memiliki tujuan, yakni keluarga yang menjemput, biasanya keluarga mereka yang membantu membawa barang barang tersebut, tapi sering juga saya bertemu dengan orang yang baru bebas, tidak ada yang menjemput, dia duduk di halte menunggu taksi atau minibus sendirian, membawa tas. Siap pergi menuju terminal utama atau ke pusat kota.

Lalu sering juga tidak sengaja berpapasan dengan pengunjung yang gayanya heboh hahahah, duh kalau ini, jangankan saya, pak tentara yang berjaga juga mungkin tercengang atau sudah terbiasa. Jadi dsatu hari saya pernah berjumpa dengan pengunjung ke lapas, seorang perempuan muda, menggunakan mini shirt atau apa ya namanya, semacam gaun ketat, panjangnya diatas lutut, warna merah cerah ditengah siang bolong, saya melihatnya mirip sekali dengan penyanyi dangdut di konser balai desa, dengan percaya dirinya berkunjung, memang sih tidak ada aturan berpakaian yang jelas, tapi melihatnya mirip sekali dengan penyanyi yang akan mengisi sebuah acara, kebanyakan berpakaian wajar saja, tapi ternyata ada juga yang suka jadi pusat perhatian:D cuaca terik dengan pakaian warna gonjreng saya nyebutnya..silau mbakkk.

Besok lanjut cerita lagi…