Minggu lalu, 25 september 2023, kami pergi ke kota Manisa, jarak dari lokasi tinggal saat ini sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kami berangkat dari rumah selepas subuh. Pertama saya menyiapkan bekal makanan untuk di perjalanan, 3 roti tost isi coklat, beberapa buah dan sebotol air minum. Tidak lupa kamera kesayangan, Hp full batere. Anak-anak tetap semangat dipagi hari, karena tahu kami akan jalan jalan ke kota Manisa.
Pukul 6: 30 menit, kami baru keluar dari komplek, hari masih pagi, karena sudah masuk musim gugur, dijalanan masih belum begitu terang, anak-anak melanjutkan tidurnya di dalam mobil. Jalanan cukup lenggang, sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan.
Sekitar pukul 9 kurang, kami sudah sampai di kota Manisa. Berbekal petunjuk google maps, mulai mencari parkiran. Karena hari Ahad, hari libur. Parkiran cukup penuh dipinggir jalan. Syukurnya kami berhasil menemukan tempat parkir dibelakang pemakaman umum. Parkir gratis. Sebenarnya ada tempat parkir berbayar milik pemda letaknya di pusat kota, cuma karena waktu itu kami kesulitan mencari jalan, ya sudah, seketemu tempat parkir saja, yang penting aman.
Langkah pertama, begitu sampai di pusat kota, karena masih pagi. Tujuan pertama tentu saja mencari tempat makan. Kebetulan waktu kami baru keluar dari kendaraan, lalu berjalan ke arah jalan utama, kami bertemu rombongan pemuda wajib militer–para pemuda Turki yang sedang menjalani wajib militer di daerah Manisa—-mereka mendapat hari libur, kemudian dengan diantar pembimbingnya, berpakaian seragam Jandarma, mereka jalan jalan di pusat kota. Acara bebas.
Tips cari makan murah di Manisa
Karena menurut suami, yang juga alumni wajib militer di Manisa. Cara termudah ketika jalan jalan di kota kota Turki, begitu ketemu rombongan pemuda wajib militer yang sedang liburan di pusat kota, ikuti saja mereka. Dİjamin mereka dan pembimbingnya tahu tempat makan enak dan murah.
Teori suami benar adanya:D, meski kami jadi mirip penguntit. Lalu ikut masuk ke tempat makan yang mereka pilih. Terbukti! Makanan di kedai pide yang kami datangi cukup enak, mengenyangkan dan murah. Waktu itu suami pesan tir pide 2 porsi: 30 lira, sedang kami bertiga pilih roti pide bulat mirip pizza, perporsi 25 lira. Saya pesan toping jamur dan keju, Fatih pesan toping daging giling, sedang si bungsu pilih toping sucuk, harganya sama. lalu 2 gelas teh panas ukuran mug, 2 jus kotak total kalau dirupiahkan hanya 100 ribu rupiah!! untuk 4 orang. Suami kaget, eh murah..dan tentu saja senang dan tenang dompet heheh. Memang terbaik ikutin rombongan pemuda wajib militer:)) kalau kami tidak tahu lokasi tempat makan enakd an murah, bisa saja seorang menghabiskan 100 ribu, tapi ini 4 orang:))
Dengan hati senang, perut juga terisi cukup kenyang, kami mulai perjalanan singkat hari itu menusuri kota Manisa. Jadi mari kita kenalkan dulu kota Manisa:
Sejarah singkat Manisa
Kota manisa dijuluki: Sehzade sehri, kota sehzade, terjemahannya: kota pangeran, kota manisa di era Utsmaniyah-Bernama Saruhan sancaği: adalah kota administratif, kota pusat pendidikan dan politik para pangeran Ottoman, terutama antara tahun 1437-1595. Termasuk Sultan Fatih yang sempat Menetap di Manisa tahun 1443-1444 kemudian datang kembali tahun 1446-1451. Tidak heran banyak peninggalan khas Ottoman di kota Manisa. Salah satunya Masjid Muradiye di pusat kota Manisa, Bangunan masjid karya arsitektur Mimar sinan, wajib masuk list untuk didatangi. Lalu Manisa kalesi-kastil, lokasinya diatas bukit. Lalu Ağlayan kaya (weeping rock)
Legenda Batu menangis (Ağlayan kaya)

niobe rock
Ditengah pusat kota Manisa–karena posisi secara geografisnya kota Manisa berada dibawah kaki gunung Spil, Gunung ini berada sekitar 25 km dari pusat kota, pemandangan Gunung ini sangat terlihat dengan jelas dari pusat kota.
Ada lokasi batu besar yang disebut Ağlayan kaya– Lokasinya persis sebelum menuju Manisa kastil dan jalan menuju taman nasional.
Kisah NİOBE
Menurut Mitologi yunani: Niobe putri dari Raja Lydia (Tantalus) yang memerintah diseputar gunung spil (sipylus—) didaerah Phyrigia –(untuk di zaman modern, wilayah ini masuk di daerah anatolia Turki, lokasi gunung sipylus menurut legenda yunani kuno kebetulan di era modern adalah kota Manisa yang kami datangi ini) Niobe menghabiskan masa kecilnya di wilayah ini, Leto adalah teman masa kecilnya.
Niobe tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menarik, kemudian dia menikah dengan Amphion raja Thebes, seiring berjalannya waktu, mereka kemudian dikarunia 12 orang anak, 6 perempuan dan 6 laki laki, tapi ada sumber lain mengatakan jika anak Niobe 14 orang, 7 perempuan dan 7 laki-laki.
Niobe hidup bahagia bersama suami dan anak anaknya. Tapi kemudian masalah mulai muncul, akibat kesombongan Niobe sendiri, dia membanggakan dirinya sebagai perempuan subur dan memiliki banyak keturunan, Mulai menyombongkan diri termasuk terhadap teman masa kecilnya Leto yang hanya memiliki 2 anak yakni Apollo dan Artemis.
Niobe mulai julid (bahasa anak gaulnya hehehe) mulai pamer ke leto, kalau dia ngerasa lebih segalanya dari Leto yang cuma punya dua anak, ”hah cuma dua anak saja!!” lihat aku, yang bisa punya anak banyak, subur,bahagia tentu saja.. bahkan kematian pun tidak bisa merenggut anak anakku hahahahahha kamu tuh apa, cuma mampu dua anak saja, dih**bergaya antagonis sinetron striping plus takabur lah si Niobe ini, heran Dewi kok takabur ck..ck..ck** Kesombongan nyai Niobe ini udah diawang awang, dia terus membandingkan kehebatan dirinya dan Leto, Niobe menjelek-jelekan Leto dibelakang. Sampai Akhirnya kabar itu sampai ke telinga Leto, Sebagai seorang İbu, kesabaran Leto juga ada batasnya kalau terus menerus dipancing, karena dihina terus menerus. Leto sangat marah kemudian memanggil kedua anaknya Apollo dan Artemis untuk membalas dendam ke Niobe, Kedua anak Leto ini menuruti perintah ibunya, berbekal busur panah, mereka mulai membunuh ke 6 putera Niobe yang sedang berburu di lereng berbatu dan curam kemudian menjatuhkan mereka, Mendengar ke 6 saudara laki-lakinya tewas dipanas, ke 6 saudara perempuannya menyusul, Naas mereka pun dipanah oleh Artemis. Sehingga semua anak Niobe meninggal dunia.
Niobe menangisi jenazah anak-anaknya selama 9 hari, tidak ada yang berani menyentuh jenazah anak-anaknya, di hari ke 10 baru semua jenazah anak anak Niobe dimakamkan oleh para Dewa. Niobe harus membayar semuanya, akibat kelancangan mulutnya dan kesombongan, anak anaknya menjadi korban. Niobe juga salah pilih lawan, meski Leto adalah teman masa kecilnya, tapi Leto adalah sosok Dewi yang kuat dan dihormati banyak orang. Bukan Dewi rendahan. Niobe sendiri yang memancing terjadinya prahara berdarah tersebut.
Niobe mengalami penderitaan hebat (mungkin istilah zaman Now: depresi) menjadi makhluk pendiam, membisu, tenggelam dalam kesedihan yang sangat dalam akibat kehilangan semua anak anaknya. Dewa Zeus melihat penderitaan Niobe yang teramat dalam malah mengubahnya menjadi batu??—Masuk akal ga sih Zeus.., eh terserah Dewa aja lah.
Ağlayan kaya–dikenal juga dengan nama Niobe Rock, siluet dari Kumpulan Batu besar ini mirip dengan siluet wanita yang sedang bersedih, Air yang mengalir diantara bebatuan dianggap ibarat air mata Niobe yang bersedih.
Untuk kisah Mitologi Leto, lokasi sisa peninggalan kuil Leto berada di kota Muğla, Beda kota dengan lokasi kampungnya si Niobe di Manisa, kira-kira 3 jam perjalanan darat.
Apa saja yang terkenal dari Manisa
Selain dikenal sebagai bekas kota tua ottoman, tempat para pangeran menjalani pendidikan politik, Manisa juga dikenal sebagai kota penghasil Anggur berkualitas. Anggur sultan.
Anggur non biji dan manis legit, lalu Mesir macun, sejenis pasta dengan aroma herbalik, mirip permen gulali tapi beraroma herbal. Kemudian juga memiliki makanan khasnya kebab, kami tidak sempat mencicipi, karena kadang menurut lidah saya, rasanyanya hampir mirip semua heheh, saya bukan pecinta kuliner garis keras, kadang ketika traveling, seketemunya makanan saja.
Tujuan lain yang belum sempat didatangi adalah museum utama, Manisa museum, lokasinya mudah dicari, karena berseberangan dengan Mall utama di Manisa. Sayang kami datang ketika museum tutup dihari ahad.
kami hanya sehari saja di kota manisa, pukul 4 sore kami meninggalkan kota Manisa dan pulang kembali ke daerah tinggal, karena hari Ahad, tidak terlalu banyak yang bisa didatangi, seperti tujuan utama: museum Manisa. Tapi sempat juga masuk Darussifa (karena sekomplek dengan Masjid bersejarah) Darusifa atau pusat kesehatan di era kekhalifahan islam. Lebih tepatnya rumah sakit di era tersebut. Beberapa foto dan ceritanya saya bagikan di insta stories, peninggalan alat alat medis yang digunakan para tabib, apalagi dimasa itu belum dikenal suntik anestesi, melihatnya sudah cukup membuat meringis. Terutama peralatan yang digunakan untuk membantu proses melahirkan seorang ibu (pas melihat alat alat tersebut dalam hati saya bersyukur hidup di era modern) kebayang gimana rasa sakitnya.
Banyak hal menarik di museum rumah sakit ini, salah satunya terapi musik yang dilakukan untuk pasien kesehatan mental, di era ottoman, sudah diperkenalkan terapi musik untuk para pasien gangguan jiwa, ada para terapis dan pemain musik yang akan melakukan sesi terapi untuk pasien, mereka memainkan musik dihadapan pasien.

Karena perjalanan sehari di Manisa cukup singkat, bahkan nyari magnet kulkas pun sulit sekali, karena pertokoan di area carsi banyak yang tutup, semua libur.
Minusnya.. yang membuat kami sedikit kurang nyaman dengan kota Manisa:
Banyak yang parkir sembarangan
Bayangkan jalanan sempit lalu ada yang parkir 2 lapis kendaraan, dua mobil parkir berjejer dipinggir jalan, sehingga hanya bisa dilewati setengah jalan oleh satu mobil saja, hahaha gila banget, banyak yang asal parkir dan makan bahu jalan. Suami cuma geleng2 kepala melihatnya, butuh kesabarn extra agar tidak bersenggolan saking rapatnya.
Kotor
İni yang agak mengecewakan ketika kami mendatangi tempat bersejarah, bahkan di seputaran masjid, banyak tong sampah penuh dan tidak diangkut, kemudian sampah berserakan di seputar taman, belum kotoran anjing-.-‘ sampai heran, kemana petugas kebersihannya? apa karena hari libur, jadi angkut sampah juga libur, kalau diarea pemukiman warga saya masih bisa maklum, tapi ini area wisata sejarah, banyak sampah, bahkan di Ağlayan kaya diatas bukit, banyak sampah, pecahan botol bir, bekas bungkus snack, kulit kuaci, sampah plastik, aduh dan itu nyebar dimana mana.-..-‘ sumpah agak kecewa, kenapa ga terjaga dengan baik. Gimana mau dikunjungi lebih banyak wisatawan asing, kalau tempat wisatanya penuh sampah, ga heran kalau grup tour wisata lebih pilih kota İzmir, kota tetangga. Manisa sebenarnya juga menarik, cuma pas kami datang ..kok kotor.
Cukup sehari , mungkin lain waktu kami kunjungi Manisa ilçe-nya , kota kota kabupaten, ibarat kalau di İndonesia, yang kami datangi ini kota pusat provinsi, lain waktu kami datangi ke kabupaten-kabupatennya saja, banyak juga tempat yang menarik dan bersejarah. Ya tiap jengkal tanah Anatolia menyimpan sejarah menarik dariberbagai bangsa yang pernah hidup diatasnya.
Next kemana ya…
