Waktu begitu cepat berlalu ya, dulu awal nge-Blog masih tinggal di rumah mertua di köy, kerjaan saya setelah beres cuci piring, vacuum, ambil laptop, duduk di ruang keluarga, nyalain laptop. Sementara ibu mertua dan baba sibuk pergi ke ladang, ngurus ternak, kebun. Kok ga bantu? ga bakat hahhaa, duh menantu idaman emang:D Pokoknya dalam ingat saya selama tinggal di rumah mertua kerjaan saya itu: nyuci piring, nge vacuum, nyuci baju juga kadang kadang, masak? beliau yang masak, pernah diajak nyuci karpet di halaman rumah sama keponakan, bayarannya dibeliin beliau sekotak es krim ampe begah.
Kerja berat? ga diizinin sama suami, katanya mertua nyari mantu buat anaknya bukan pembantu. Jadi terhitung dari bulan oktober sampai juni awal, tinggal seatap sama mertua, biasa aja, cenderung bosen karena lebih banyak ga ngapa-ngapain, sesekali bantu metik sayur di kebun depan rumah, tapi kalau saya bilang capek, ya udah, ga bakal diomelin. Kalau cerewet? kebanyakan wanita kan seperti itu ya, apalagi seusia beliau, selama ga ada kata kata nyinggung hati, kita biasa aja, masuk kanan keluar kiri, kadang yang dicerewetin aja ga penting, membahas kenapa saya motong kentang dari atas kebawah bukan dari bawah keatas arah pisaunya:V, bahas kenapa saya cuma mau makan nasi ga sama roti, nanti kurang kenyang. Kenapa kalau saya masak sayur, tidak ditambah ‘micin’ versi beliau, oh ya micin buatan mertua bukan beli sachetan di market, tapi daging giling yang sudah ditumis terus dibekukan dengan lemaknya, sungguh alami ya.., jadi semua sayur masakan beliau selalu terselip ada tumis daging campurannya.
Jadi selama 12 tahun jadi menantu kesayangan beliau, tetap dapat keluhan, kenapa jarang nelpon-.-‘ kenapa jarang ngobrol? duh..seandainya beliau tahu, menantunya ini lebih suka ngetik bercerita di Blog, keahliannya cuma jadi pendengar, bukan pusat perhatian sebagai tukang ngobrol. Saya ngobrol seperlunya emang.
12 tahun menjadi istri anaknya mertua
Sebelum pindah ke daerah K, kita sempat menginap dirumah beliau, si mak mertua dekati saya sambil ngomong: ” kamu kenapa ga bujuk dia untuk pindah ke merkez aja?” . ”kenapa harus jauh?”. Saya cuma senyum lalu mengatakan: ” yang kerja bukan saya anne?” – ” orangnya sendiri emang maunya jauh”.
Pertimbangan suami ketika memutuskan nekad pindah sejauh 788 km dari kampung halamannya, selain keluarga besar tinggal di satu kota, 3 kakak ipar juga tinggal berdekatan, ada kakak laki lakinya yang sudah masuk masa pensiun dan pulang ke Turki, tinggal dan lebih mengurus anne-babanya, setelah 4 tahunan selalu babanya anak anak yang lebih banyak mengurus mereka, seperti estafet-saja. Semua kakak-kakaknya udah termasuk mapan dan tidak punya tanggungan pendidikan anak anak, waktu mereka lebih luang dibanding suami si bungsu.
Pengalaman? yup, alasan lainnya, merantau. Hidup stagnan di kampung halaman bukan gayanya dia, sedari bujang juga sebenarnya sudah sering bepergian, kalau sahabat kecilnya saja bisa sampai Jerman, bekerja cukup mapan, sekarang dia berpikir, kenapa dulu tidak pernah dicoba, jadi begitulah sampai akhirnya memutuskan pindah ke kota saat ini.
Tahun 2023 yang penuh warna
Kalau dibilang, tahun ini tuh ada dua pertimbangan: pilihan untuk pindah ke pusat kota corum atau pindah ke kota lain, untuk pindah 1 wilayah kerja (karena masih satu provinsi) kepindahan ditanggung uang pribadi, sedang jika memilih penempatan beda provinsi, kepindahan ditanggung kantor, jadi kami pilih beda kota saja.
Kami berdua mengambil keputusan bersama, setelah diskusi banyak hal, waktu itu saya bilang, karena juga terbiasa dari remaja hidup merantau untuk sekolah, buat saya tidak masalah diajak pindah jauh. Dia juga sama, hidup berpindah-pindah dari asrama ke asrama, demi melanjutkan pendidikan, selepas SD memilih tinggal dengan kerabat di pusat kota, di desa, tidak ada sekolah lain selain SD, perjuangannya untuk menempuh pendidikan saya acungi jempol, mengubah nasib dari anak petani, karena banyak juga teman di desanya yang memilih putus sekolah dan membantu orangtua di ladang, sedang dia bertekad untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.
Bertahun tahun menjadi pasangan, kami bisa saling mengisi, bahu membahu…, hidup emang tidak selalu mulus jalannya. Karakter kami saling melengkapi, beliau tipikal orang yang mudah ngajak ngobrol, adaptasi, ramah juga, jadi tidak kesulitan ditempat baru untuk mencari teman, sedang saya? hahahah bisa ditebak, sebaliknya, bahkan 2 bulan di komplek, baru kenal nama tetangga depan pintu, mbak zumrud, istri pak tentara yang jadi ‘babu’nya kucing oyen yang saya tulis sebelumnya, tetangga atas, saya lupa nama, mengenalkan diri pas kami lagi sibuk dihari pertama beberes rumah, dia datang menyapa, tapi kemudian saya lupa namanya, karena kurang fokus, lagi bongkar barang saat itu.
Setiap tahun ketika memasuki bulan ditahun masehi, kami mengikrarkan janji, tepatnya dia dihadapan bapak saya dan penghulu,kilasan memori rasanya baru tahun tahun kemarin saja, tapi ternyata sudah lewat 1 dekade. Anak anak juga sudah besar. Terkadang saya buka folder lama isi foto mereka ketika masa tumbuh kembang, ah benar adanya: masa masa yang ngangenin…., lepas dari jungkirbalik rasanya ngurus bayi, tapi masa masa emas itu sudah lewat ternyata.
Selalu ada rasa syukur atas jalan hidup yang djalani.
Catatan 2023 ditahun ke-12 kami bersama:
Sejauh yang saya amati, jalani, saya masih kesulitan berbicara tegas, suami selalu bilang, suara saya tuh kurang besar, ini dalam kondisi normal, tapi kalau mood saya buruk, judes juga katanya, malah dia selalu minta: stop, jangan ngomong keras, itu bukan kamu banget! lah…gimana.
Beliau, sebisa mungkin selalu memenuhi keinginan saya, selalu ngusahain, kadang dibatas lelah juga, ketika saya bilang: ayo jalan, dia nurut, tapi saya juga bakal apes, karena kurang istirahat sepulang shift malam, gampang sekali orangnya tersulut emosi dijalan, ada baiknya tidak mengambil resiko:V tahan sampai dia cukup istirahat.
Kebiasaan jajan di market tidak berkurang seiring umur, beliau suka sekali cemilan: meminta dia untuk stop jajan itu termasuk sulit, seringnya dia pergi sendiri ke market, pernah jalan berdua, di rak soft drink dia sudah pegang cocacola, disaat itu saya mulai bertanduk untuk mengingatkan! yeter yaaaa!! itu perut lihat, kadang ga konsisten, masih tergoda saja, jika sudah di depan komputer atau TV selalu berusaha mencari ‘Pendamping’ alias cemilan, kadang ngorek -ngorek di laci dapur, nanya apa saya beli jajanan? ya salam. Padahal yang lebih sering ke market dia sendiri.**barusan saya ngetik ini, beliau yang mau jemput anak ke sekolah, kelupaan dompet, balik lagi ke dalam rumah, apalagi kalau bukan sekalian mau jajan-.-”***
Terkesan dibuat buat ga? kok saya sebagai perempuan malah kalah urusan hobby jajan? nyatanya emang seperti itu, saya termasuk perhitungan buat urusan jajan, bukannya pelit, suka menakar diri ‘kurangi manis, kurangi karbo’ itu yang suka sliweran dikepala, ‘ih ini berpengawet’ jadi tuh jajan aja mikir didepan rak lama sendiri, suami suka sebel emang kalau ngajak saya, kelamaan mikir. Sedang dia sat-set sat set ga cek harga juga kadang.
Romantis?
Kami masih terbiasa dengan panggilan spesial sejak awal bersama dan tidak terganti, mungkin terdengar norak bagi pasangan yang semakin berumur, tapi bagi kami biasa aja dengarnya, mau sedang akur atau ngomel, panggilannya sama. Masih saling mengatakan: i love you…..,
Ketika saya iseng ngomong: kita tuh kok ga punya cincin kawin ya, eh lihat tuh video pasangan yang kasih bunga mawar :
‘‘ kamu mau apa? mau diorderin makanan indonesia ga?” hahahahahha pengalihannya selalu penawaran makanan, udah tahu istrinya suka mikir lama buat jajan. Paling saya order yang emang disuka aja.
Semoga ditahun mendatang, diusia yang semakin bertambah, bertambah sehat dan kaya raya juga kami**wuih doanya….:)) Aminin ah
