Ada kejadian lucu dan saya selalu mengingatnya terus hahahha.

Suami sering ngigau dan saya setengah sadar mendengarnya, tiba tiba meluk dan bilang: seni cok seviyorum ditelinga, antara sadar dan tidak, lalu lanjut tidur lagi, seakan tidak terjadi apa-apa. kemudian paginya saya bahas untuk godain beliau.” Hah masa sih aku bilang itu?” mencoba berkelit.

Bahasa cinta kami memang tidak seperti pasangan umumnya, misal memberikan kejutan dengan hadiah atau sebuket bunga, sesuatu yang mainstream. Kalaupun saya ingin hadiah, lebih baik ngomong, minta apa? untuk kejutan, dia mengakui payah, tidak pintar memberikan kejutan. Jadi jangan terlalu berharap layaknya pasangan ideal di drama romantis. Kita menapaki bumi saja hadapi kenyataan, pasangan apa adanya.

Hidup terasa mudah

Meski tidak mudah semua, tapi ya mudah mudahan bisa lewatin semuanya dengan bijak. Lalu mudah apanya dong?

Jadi gini ya, selama saya menjalani rumah tangga dengan beliau, saya bersyukur komunikasi diantara kami tetap difrekuensinya, ada masa saya menjadi pendengar atau dia pendengar, tidak saling beradu argumen dengan kondisi sama sama emosi.

Hidup memang terasa sulit saat ini di Turki, iya kami akui itu, dengan penghasilan hanya satu sumber, yakni suami. Ketika ada keluhan, saya pernah mengutarakan ‘seandai’nya bisa kembali kerja. Lalu dia mikir: Prioritaskan anak-anak dulu. Sebisa mungkin dia berusaha memenuhi kebutuhan kami. Membesarkan hatinya, saya selalu yakin takaran rezeki kami sudah diatur sedemikian sempurna oleh sang Pencipta. Ya sudah ya, sambil berusaha terus cari peluang lewat media online:D meski terkadang berasa hidup ya pas-pas-an, alhamdulilah pas ada kebutuhan ya pas ada rezekinya.

Kami juga banyak mengalami masa masa sulit yang jelas tidak akan diumbar begitu saja di sosial media, hanya kisi kisi-nya saja. Begitu sudah bisa melewati, mari kita ceritakan jalan keluarnya saja.

Hidup berumah tangga itu isinya banyak obrolan, sebisa mungkin apapun diobrolkan berdua, saya ini bukan tipe istri yang cerewet juga sebenarnya, kalau engga dipancing atau karena sedang pms-saja, rasanya pengen beralih jadi komentator apapun. Kadang dijalan juga lebih banyak diam, ngomong seperlunya, suami udah hafal, saya cuma komentarin apa yang saya ingin bahas saja, dari jauh orang bisa mengira kami pasangan yang sedang bertengkar. Diam bukan berarti memendam, karena saya tahu dia adalah tempat yang saya percayai untuk bercerita. Saya akan menceritakan apapun yang saya ingin ceritakan diwaktu yang tepat saja. Kalau sedang tidak dalam kondisi ingin mengobrol, saya asyik dengan diri sendiri. Beliaupun tidak akan memancingnya. Menunggu.

Saya tidak keberatan untuk ‘Melayani’ dia baik di meja makan ataupun membuatkan teh, jadi rutinitas setiap hari, melayani. Syukurnya dia tipe yang cukup tahu diri, dia akan mengucapkan terimakasih, ellerine sağlık* bentuk ucapan juga sebagai penghargaan saya sudah memasak untuknya** tidak ada yang sia-sia, kalau dimata kaum feminis garis keras, mungkin saya di ‘rujak’ Tapi suka suka aja sih, toh saya jalaninya dengan bahagia saja. Tidak merasa penindasan atau di’babu’Kan pasangan.

Menemaninya makan, meski saya sendiri belum mau makan, jadi ruang juga untuk mengobrol.

Tiap hari kegiatan saya di rumah, layaknya rutinitas ibu rumah tangga umumnya, pagi saya awali dengan kegiatan rutin menegakkan dhuha** baru masuk dapur, membuat sarapan, lalu membangunkan suami*kebiasaan lanjut tidur selepas subuh, emang sulit ditertibkan, sarapan standar negara Turki saja, karena tidak memungkinkan sarapan ala İndonesia, tidak ada nasi dipagi hari, kecuali buat diri saya sendiri*misal membuat nasi goreng*.

Saya terbiasa membangunkan beliau, dengan panggilan: aşkitom, balım, bahasa bahasa yang terkesan ‘cringe’ mungkin atau lebay hehehe panggilan sayang tetap disematkan dalam kondisi apapun, tapi biasa saja pas diucapkan. Saya uwel uwel wajahnya, saya peluk dengan setengah gulat sampai hampir jatuh dari kasur hahah tetap manggilnya: Sayang:V meski dia jadi korban keisengan istrinya.

supaya mood hari itu tetap membaik, awali dengan hal hal baik, loh ga ada salahnya melembutkan ucapan, memuji pasangan, memberi kecupan.Termasuk menjahilinya sedikit sebagai penyegaran memulai hari.

Dia paham ketika saya sudah dibatas jenuh, rutinitas jalan berdua, mau ngapain kek? meski cuma mampir masuk market atau menemani dia tukar buku di perpustakaan, ambil air di çesme, menemani saya memotret. Jalan berdua saja, syukurnya anak anak bisa ditinggal di rumah, atau ambil waktu ketika mereka sekolah.

Jatuh cinta itu mudah, tapi untuk terus mengulanginya dengan orang yang sama, butuh ‘Usaha’ pasti ada saatnya bertemu titik jenuh, apalagi ketika masa single terbiasa mandiri, pembosan, dulu juga saya sempat mikir, apa bisa menjalani rumah tangga terus di jalur komitmen yang tetap sama. Sama teman saja kadang saya bosan kalau sudah beda pendapat atau ketemu teman yang menyebalkan, lalu bagaimana rasanya hidup seatap dan bisa 24 jam bareng terus? iya ketakutan seperti ini sempat muncul diawal sebelum memutuskan untuk menikah.

Manusia memang bisa berubah, asal mau usaha? begitu kan, adaptasi untuk hidup bersama, mengenyampingkan ego, bagaimana selalu berjalan sesuai track- oleng dikit wajar sih, asal jangan keluar jalur atau pindah jalur.

Saya selalu bersyukur sudah bisa berjalan sejauh ini, melewati tahun demi tahun dengan beliau, tidak ada pasangan sempurna memang. Meski juga tidak selamanya mulus, tapi itulah warnanya.

Masih bisa tertawa dan menertawakan kekonyolan hidup berdua, masih memperdebatkan sesuatu yang kadang ga penting, saling mengerutkan wajah ketika melihat kenaikan tagihan biaya hidup bulanan. Berencana untuk hemat sana sini, tapi ujungnya lupa diri. Hidup berputar terus, jalani saja.

Lihat usia kami sudah 40 tahun, tinggal setengah perjalanan hidup lagi di dunia. Mensyukuri, menjalani dan menjaga sekuat mungkin anugerah yang ada.

Kami memang belum cukup kaya, mudik ke indonesia juga butuh perjuangan apalagi kondisi ekonomi saat ini. Kami juga belum cukup mapan, kalau selalu melihat kekurangan, wah banyak sekali tak terhitung.

Tapi melihat anak-anak tumbuh sehat, ada pasangan yang saling dukung, ada ketenangan dalam rumah, ada pemasukan tiap bulan yang stabil, terkadang dititik ini harus disadarkan dengan kata: Alhamdulilah…,

Bahasa Cinta saya untuk pasangan?

Saya hanya ingin selalu jadi orang pertama untuk dia, orang yang dia percaya, orang yang jadi sahabat baiknya. Menjadi pendengar keluh kesahnya, menjadi pendukung terbesarnya, apapun keputusan yang dia ambil selagi saya diajak tukar pikiran untuk mempertimbangkannya, saya akan hargai.

Life so short..right?

Saya akan selalu memeluknya, memberikan ‘rumah’ ternyaman ketika dia lelah.

Mengukur diri ketika ingin banyak menuntut ini itu…, keduanya harus saling bahagia dalam ikatan pernikahan, bukan menuntut dibahagiakan oleh satu pihak saja.

Tidak lupa peran ‘langit’ harus tetap disertakan, menjaganya dengan hati dan doa.