Jika saya membuka sosial media, berbagai status dan postingan yang saya lihat, menarik. Tentang berbagi kebahagiaan, pencapaian, curhatan, segala berita politik, artis, sepaket lengkap.

Saya percaya, tidak semua yang dipertontonkan di beranda sosial media adalah kebenaran 100 persen, terlalu terbuka jelas mengundang bencana. Ada luka yang disembunyikan, kebenaran dan segala problematika kehidupan yang cukup dia yang tahu dengan orang terdekatnya.

saya juga masih suka memposting insta stories- kadang ya cuplikan video lucu dan menghibur, karena saya ingin berbagi tawa untuk mengurai segala rasa jenuh siapapun, kadang kutipan menarik, berharap ada yang terinspirasi juga.

Fase untuk ‘menahan’, belajar untuk ‘tidak terlalu peduli’, saya hanya baca komen, jika itu isu sensitif. Tapi beda kalau akun yang saya temukan adalah akun konten kreator yang lucu maupun konten info seputar drama, saya suka suka aja komen, untuk melepaskan rasa penasaran sebagai sesama penonton drama saja, ini namanya hiburan.

Ramadan tahun ini, ada banyak pikiran di kepala, ‘‘ ya mau apa ya” Semua orang berlomba menceritakan pencapaiannya, ” ehm ngapain ya”.

Mencari

Sesekali saya juga mengobrol dengan kawan lama ditelpon, kita ngobrol apa aja, buat saya ini menarik, karena dari obrolan itu bisa membantu mengurai berbagai pertanyaan dikepala. Tapi saya juga bukan seseorang berkepribadian extrovert, hanya sesekali saya menikmati membaur, bertukar sapa, sisanya bisa dibilang lebih suka diam dan mendengarkan. Bahkan diperkumpulan teman teman Turki juga dikenal kurang banyak omong, saya menikmati sebagai pemerhati bukan pusat perhatian. Saya akan jawab seperlunya, bertanya jika penasaran, tapi tidak tertarik dengan nimbrung obrolan. Bahkan dengan ibu mertua juga obrolan seperlunya, kadang ya beliau mempertanyakan, mungkin karena beda dengan menantunya yang lain suka ngobrol panjang lebar, saya kurang suka obrolan basa basi. Meski saya terlihat banyak menulis di sosial media, iya itu ketikan jari, kalau ngoceh lewat mulut udahannya ngeluh capek dan pilih diam.

Entahlah mengubah juga sulit, nyaman dengan kondisi seperti ini saja, bukan pusat perhatian, Bekerja juga dari dulu lebih suka dibalik layar, tapi yang secara tidak sadar selalu jadi eksekutor keputusan hahaha, ya ini dalam lingkup rumah tangga saja. Suami sebagai ‘kepala’ rumah tangga. Tapi ‘leher’nya adalah saya, kebagian menggerakan arah si kepala, Dalam banyak keputusan besar semenjak menikah, berdiskusi dengan saya adalah kunci. Saya ketiduran saja, bisa nyasar perjalanan hahaha, karena pembaca google maps dan insting saya nyari jalan lebih dipercayai oleh dia.

Diusia saat ini, awal kepala 4. Pemikiran saya tuh: ” Ya Allah udah usia segini aja:S”

Berasa sudah dipertengahan perjalanan hidup di dunia, menua itu pasti, tapi akan kembali kepadaNya dalam kondisi apa, bagaimana. Kalau mikirin urusan dunia, ga akan kelarnya. Sedang waktu terus berkejaran dan tidak bisa kembali. Tahun lalu beli sepatu fatih masih ukuran 36, masa baru awal tahun sudah ganti sepatu ukuran 38, perkara ukuran kaki anak saja menyadarkan saya tentang ” Waktu”.

Waktu yang begitu cepat berlalu.

Rasanya juga baru tahun tahun kemarin tinggal di İstanbul, lahir dua anak, masih ingat tulisan di Blog pertama, ternyata 2023 sudah memasuki tahun ke-12 saya menetap di Turki.

Waktu yang terus berlalu, saya pun sampai diusia kepala 4, Allah menetapkan saya menghirup udara dan kehidupan di İndonesia sampai usia 28 tahun, lalu hijrah dan terus menghitung waktu akan sampai berapa tahun hidup di bumi, diujung benua Asia lalu dipertemukan dengan kematian.

Rasanya tuh seperti sedang berjalan terus-menerus, sejenak berhenti dan men-cek waktu *ibarat jam tangan* ”Hah sudah 40 tahun” lalu menengok kebelakang, berbagai peristiwa yang silih berganti datang dan melewatinya, lalu melihat kedepan, akan ada apa, apa yang harus dilewati lagi hingga sampai tujuan sebenarnya.  “Urip ning dunya mung mampir ngombe!” (Hidup di Dunia Hanya Sebatas Minum).

Dan selama fase perjalanan itu, ada banyak hal yang saya pertanyakan juga, meski hanya melihat dan ‘ngebatin’. Seperti: berita korupsi, gratifikasi pegawai pajak, anaknya berkasus, atau istri istri pejabat yang pamer kemewahan, Ya betapa dunia sudah memperbudak hawa nafsu mereka.

Mereka yang mengambil hak orang lain dan dianggap hal lumrah saja, karena saking sudah menjadi pembiaran di masyarakat, perkara hidup bertetangga. Ada banyak hal. Ada banyak peristiwa yang cukup membuat istighfar ingin terus diucapkan.

Kalau ada yang komen: Alahh kalau dikasih kesempatan sama juga pasti melakukan juga?’ ehm gimana ya, saya terlahir ke dunia ada orangtua yang paham harus ngasih jalan lurus ke anak anaknya, mereka memantau, membimbing, mengarahkan dan tidak luput untaian doa doa mereka yang membentengi*Tergantung start dan mentor diawal kehidupan, manusia dikasih akal pikiran memang, sebagai anak, orangtua lah yang berkewajiban memberi pondasi awal kehidupan anak mereka. Mungkin kami bukan orang kaya, hidup juga sederhana, sebisa mungkin Mereka memberi kami makanan dari harta halal, ngutang juga dijabanin asal bisa bayar kembali demi kami, daripada hasil ambil hak orang. İtu prinsip yang saya tahu dari si emak. perkara ayam goreng jatah sepotong aja di meja makan, kalau ada anaknya ambil jatah ayam goreng saudaranya, si emak bisa ngoceh dan mengingatkan. İtu bukan hak kamu! Memang perkara kecil tapi berdampak besar dalam benak saya.

Selama setengah perjalanan hidup itu, ada banyak hal yang membuat saya juga bersyukur, Bersyukur karena orangtua ketika saya kecil, meski tidak terlahir sebagai anak dari keluarga berkecukupan, rumah yang nyaris ambruk, karena orangtua lebih memikirkan pendidikan anak-anak dibanding renovasi rumah, mereka mengarahkan jalan untuk kami anak-anaknya, supaya terhindar dari hal yang dilarang oleh agama yang kami anut, ‘‘ ini nak jalannya” sini emak tunjukkin…,

Ya mereka berdua ibarat lentera untuk kami 4 bersaudara, dari manusia yang terlahir tidak tahu apa-apa, mereka yang mengenalkannya dan memberi kami nama dan juga memberi kami keyakinan, tauhid dan mengenalkan siapa pencipta kami.

Selanjutnya kami jalani perjalanan kehidupan masing-masing, menengok kebelakang ketika mulai ‘start’ menjejakkan kaki dalam perjalanan hidup ini, mereka mentor kami, sekarang perjalanan sudah dipertengahan jatah usia untuk sampai kembali ke pencipta kami.

Secepat itu waktu berlalu...

Katanya ‘nikmati hidup, hidup hanya sekali’ mereka berpikir untuk bebas melakukan apa saja karena ”mumpung” hidup. Dan mungkin tipe manusia yang tidak percaya setelah kehidupan ada alam kematian bernama akhirat.

Hiduplah yang berguna dan cari alasan untuk bertahan hidup, Jalani sesuai jatah umurnya, jangan berpikir untuk menyudahi kehidupan mendahului kehendakNya. Kematian tidak usah dijemput duluan, nanti juga datang sendiri, isilah waktu yang berharga dengan sebaik baik perilaku.

Sekarang saya hanya berpikir: Jalani saja kehidupan dengan sebaik yang saya bisa, syukuri apapun yang ada, kurangi obsesi dengan segala hal keduniawian, ketika kita wafat akan ada yang menggantikan, lambat laun orang orang juga akan melupakan, tapi İman tidak tergantikan, itulah yang menyelamatkan. Melalaikan segala kewajiban–tipisnya batas halal haram dan tidak mengindahkan demi kesenangan dunia, perkara makanan saja misalkan. Perkara duit sogokan meski kecil, kita mungkin seiring umur dan mulai pikun, lupa. Tapi malaikat pencatat segala amal kebajikan tidak bisa dimanipulasi, apalagi disogok.

Ya sudahlah, makin tua makin kepikiran memang, padahal maut tidak mengenal usia, tidak ada salahnya mempersiapkan diri sebisa mungkin.

Saya kalau terserang rasa malas itu, suka iseng nahan nafas, atau nutupin muka makai sesuatu benda, berada di ruang sempit dan bayangin kalau itu dalam kuburan, susah gerak. Udah ga ada nafas. Bersyukur masih dikasih kesempatan bisa melakukan kewajiban ibadah, mereka yang ‘mendahului’ kita di alam kubur, berharap diberi kesempatan mengulang waktu untuk nebus diri mereka yang banyak absen bersujud ke sang pencipta–

Ya udah ini kira-kira yang sedang berputar putar di kepala saya, jadi saya tuangkan di Blog saja biar lega:)