Barusan saya buka grup WA keluarga, mengabarkan tetangga wafat. Kabar dari Anak salah satu teman ngobrol bapak dulu, namanya H Mustain, tapi menurut Bapak, yang wafat adalah mertuanya. Bercerita tentang salah satu teman Bapak ini, masih terekam dalam ingatan saya, sosok beliau.

Ritual pagi hari di rumah orangtua.

Kebetulan kami punya toko kelontong disamping rumah, sumber penghasilan orangtua selain menyewakan mobil. Teman bapak ini, selepas subuh akan pergi ke warung nasi uduk di dekat masjid jami di kampung, kemudian membeli sayur, berjalan pulang melewati toko kami, menyapa dulu, lanjut pulang ke rumahnya memberikan hasil belanjaan ke sang istri, makan pagi. Tak lama pasti nongol di toko, duduk di bale-bale mulai ngobrol dengan bapak, kalau kebetulan Allah yarham uwak saya juga datang, ngobrol juga nimbrung, atau Allah yarham H. Aceng, tetangga paling kaya saat itu di kampung, semua teman ngobrol bapak saya sudah wafat, barusan dapat kabar anak Allahyarham H. Mustain wafat. Ka enjun.

Saya ingat sekali waktu Allahyarham H. Mustain meminta ke bapak, untuk mengantarkan beliau melamar seorang perempuan untuk Ka enjun–Putra sambungnya, waktu itu saya masih SD, tapi ingatan cukup kuat, dimana akhirnya saya ikut juga ngebesan, waktu Ka enjun menikah, dengan mobil bak terbuka heheh, kami ikut keluarga H Mustain untuk ngebesan. Saat itu saya ikut jadi saksi pernikahan Ka enjun dan istri beliau.

Kehidupan masa kecil saya, biasa saja memang. Sekampung keluarga besar hidup bertetangga semua, bisa dipastikan jejeran rumah tetangga masih ada ikatan kekerabatan. Memang saya membuat gebrakan sendiri:menikah dengan orang beda negara, bukan beda suku lagi, kalau beda suku sudah biasa, sepupu saya banyak yang menikah dengan beda suku, bukan hanya suku sunda, menikah dengan orang Bali, jawa timur, jawa tengah, cuma saya yang ‘terlempar’ jauh.

Menyaksikan tetangga kampung hilir mudik dan mampir di Toko sudah biasa, kadang jadi tempat kumpul bapak bapak, apalagi dimasa kecil, Toko belum banyak di kampung. Sekarang sudah banyak ruko berjejer dan minimarket terkenal itu juga banyak berdiri. Toko keluarga penuh kenangan, gulung tikar. Tokonya disewakan saja ke gerai franchise- uang sewanya untuk kebutuhan hidup orangtua sekarang. Ditambah sekarang banyak pendatang dari berbagai daerah di kampung saya, kontrakan juga banyak. Kampung semakin ramai penduduk. Tentu sulit menyamakan dengan suasana kehidupan bertetangga dimasa kecil dulu. Teman teman nongkrong Bapak sudah banyak yang wafat.

Nasip perantau

Mungkin bukan hanya saya yang mengalami peristiwa seperti ini sebagai perantau. Banyak kabar terlewatkan dari kampung halaman, kabar bahagia maupun kabar duka. Tidak semua orang memiliki kesiapan finansial dan waktu untuk mudik mendadak–ada kalanya terhalang pekerjaan, dokumen yang belum siap- anak sekolah-

Saya hanya membaca pesan, kabar tentang si A, B, C dari keluarga yang mengabari. Hampir 12 tahun meninggalkan kampung kelahiran, sudah tidak terhitung berapa tetangga dan kerabat yang wafat. Apalagi mudik juga belum bisa setiap tahun. Oh ya jangankan posisi sekarang karena saya menetap di luar İndonesia. Waktu saya menghabiskan masa sekolah dan kuliah di kota Yogyakarta saja, banyak sekali ketinggalan kabar dari kampung sendiri.

Pulang liburan, tiba-tiba dapat undangan pernikahan anak tetangga:) Dia menikah, padahal usianya belum legal, bahkan dibawah umur-memalsukan usia di KTP-astaga! keluar sekolah dasar, pilih menikah, saya ingat sekali gaun pernikahannya mengenakan sarı india, tapi masih kebesaran, perlu ditambah banyak peniti dibelakang gaunnya.

Rasanya hampir setiap pulang liburan saya selalu mendapatkan undangan pernikahan, hahah ga iri juga sih. Tapi kantong rasanya kekuras, syukurnya dulu ditalangin si emak terus. Saya masih kuliah. Entah kenapa si emak rajin sekali nalangin amplop siapa saja yang mengundang. Hingga akhirnya terjawab ketika saya menikah. Niat awal hanya menikah sederhana saja, menikah KUA terus syukuran. Ternyata ditentang keluarga besar. Mereka jadi WO untuk pernikahan dulu, saya tidak ambil pusing, semua diurus emak dan keluarganya. Tidak menyangka jika tamu yang hadir bisa dibilang cukup banyak, saya lelah sendiri, sampai malam tidak berhenti berdatangan. Selepas hajatan ternyata si emak ‘balik modal’ heheh, bahkan saya aja kaget sendiri dapat amplop banyak, padahal pesimis, karena merasa tidak ada teman di kampung sendiri kecuali teman SD. Semua tamu kebanyakan tamu orangtua, tamu kakak kakak yang gaul tapi ngasih amplop ke saya. Teman saya bisa dihitung jari. Kebanyakan tinggal di luar daerah.

Pergaulan di kampung, Bapak saya cukup dikenal, Memberi pengaruh sendiri ketika beliau akan menikahkan anak perempuan terakhirnya. Tapi ada juga sih yang kaget, karena kebanyakan teman bapak yang beda kampung hanya mengenal anak perempuan pertamanya yaitu kakak saya. Waktu dikabari akan menikahkan anak perempuan kedua, ada yang kaget, dikira anak pungut lah, karena ga pernah melihat saya. Malah dikira kakak saya yang mau menikah lagi, ditambah calon suami anak perempuan bungsunya ini adalah orang asing, ternyata cukup mengundang perhatian, bahkan yang lupa dapat surat undangan pun hadir sambil becanda negur bapak, lupa ngundang beliau, aneh tapi lucu…, terlihat pendiam tapi gaul, sulit menjelaskan sosok beliau. Beda sama saya, udahlah sama tetangga jarang ngobrol, ga pintar ngomong, dan malesan gitu orangnya-.-‘

Saya anak kampung

Saya menyukai orang orang di kampung, tapi ga cinta cinta amat sama kondisi kampung sendiri, terutama jalanannya. Dulu jalanan rusak parah, macam kobangan untuk berendam kerbau, jika musim penghujan, jalanan jadi berlumpur, musim kemarau berdebu. Apalagi rumah dipinggir jalan besar, melelahkan hampir setiap hari menyapu rumah yang berdebu, belum ke Toko juga. Jalanan gampang rusak karena hampir setiap hari dilewati kendaraan besar-truk truk pengangkut pasir dan batu-

Sekolah di masa lalu pilihannya, antara sekolah di kecamatan yang cukup jauh dengan jalanan rusak parah, atau sekolah di Serpong-karena kami tinggal diperbatasan daerah- jalannya sama buruknya, cisauk-serpong di akhr 90an dan 2000an awal jalanannya hancur total. Hingga keputusan saya tetap melanjutkan sekolah di Yogyakarta itu pilihan terbaik, ga lelah di jalan. Cuma konsekuensi jauh dari keluarga. Pilihan hidup mandiri karena keadaan, saya tidak suka dengan pembangunan di kampung sendiri yang lambat kala itu. Bukan hanya saya sebenarnya, banyak juga anak tetangga, kerabat melakukan hal sama, memilih pendidikan di kota lain daripada harus bolak balik ke rumah dengan kondisi jalan mengenaskan. Mirisnya lagi, kampung halaman saya masih berada di pulau jawa dekat dengan ibukota negara. Kondisinya memprihatinkan sehingga pilihan merantau ke luar daerah adalah yang terbaik menurut saya.

Dulu sampai malu sendiri jika ada kawan dari luar daerah terutama yogya yang ingin mampir ke rumah, malu karena kondisi jalanannya cukup buruk, rumah yang tiap hari berdebu, bising. Mereka kagetnya karena rumah saya tidak jauh dari Jakarta, bayangan harusnya lebih maju ternyata lebih buruk. Jalanan di Bantul Yogyakarta saat itu jauh lebih mulus aspalnya dibanding..ah sudahlah. Masa awal kerja di Jakarta, saya gabung komunitas milist- Tiap ada acara usahakan datang, karena saya masih harus ngejar kereta terakhir, biasanya dari Jakarta tidak terlalu malam, becandaan mereka juga pernah mengatakan: ”aduh rumah lu mah tempat jin buang anak’‘— saking dianggap jauh dengan jalanan yang cukup buruk–

Mungkin terkesan sepele, alasan merantau awalnya karena tidak suka kondisi jalanan yang buruk, kalau penasaran seburuk apa: salah satunya ini

Waktu saya SD, truk yang lewat belum cukup banyak, rumah juga tidak berdebu parah, selepas masa Reformasi dan pembangunan komplek real estate mewah yang makin menjamur, makin rusak lah jalanan kampung ini. Sehingga ketika tawaran untuk melanjutkan pendidikan keluar daerah, tanpa banyak pikir, saya iya-kan saja, sehingga keterusan sampai lulus kuliah, kalau tidak diminta pulang, rasanya bertahan di Yogya lebih menyenangkan saat itu heheh.

Saya tidak melupakan orang orang dari masa kecil saya, mereka mengisi ruang kenangan sendiri, ketika datang kabar duka, berpulang satu persatu, kenangan masa kecil seakan menyeruak kembali.

Sejauh yang saya ingat, tetangga tetangga kami dulu baik semua Alhamdulilah, saling tolong menolong, apalagi zaman saya kecil, hanya beberapa orang yang memiliki mobil, salah satunya bapak saya, tetangga sering sekali meminta tolong diantarkan ke rumah sakit atau ke Jakarta jika ada perlu, percaya bapak saya, karena hafal jalan dan pengemudi handal. Jika lebaran tiba, Bapak saya sibuk menyewakan mobil sekaligus menjadi supir mengantarkan tetangga yang menyewa mobil, biasanya jalan jalan liburan lebaran. Saya sabar aja menunggu jadwal bapak tidak ada tarikan (istilah penyewa mobil) baru bapak ajak kami jalan jalan, antara Ragunan-Taman mini-Safari-Ancol atau pantai carita, hafal sendiri kemana akan diajak.