Kemarin, makan malam di rumah kami: sup lentil hijau dan spaghetti, kebetulan baru beli spaghetti-tam buğday-warnanya lebih coklat dari jenis spaghetti biasa, dari gandum utuh. Rasanya ya tidak seenak spaghetti biasa memang heheh, agak keset gitu mie-nya dan mudah patah. Sebagaimana masak spaghetti: rebusan air, beri garam an sedikit minyak. Terkadang saya tambahkan bumbu pasta tomat, tapi permintaan anak dan suami, udah cukup rebus aja. Setelah direbus lalu ditiriskan, apa saya buat bumbu spaghetti? tidak. Suami makan begitu saja, hambar dengan bumbu garam. Si Bungsu yang memang mewarisi lidah sang Baba, ikut lahap. Meski sempat dia tambahkan sedikit saos tapi lebih dominan hambarnya.
Dibanding adiknya, abangnya masih berselera menikmati masakan saya yang berbumbu, dia pernah juga icip sambal terasi meski tidak banyak, Baba dan si bungsu, minta pintu dapur ditutup karena baunya menggangu hidung mereka.
Kehidupan dan kejenuhan
Saya itu harusnya emang banyak bersyukur, tapi suka muncul aja perasaan tidak puas, nyari nyari masalah, sebab hidup lempeng aja kok membosankan. Suami pernah nanya: Kamu mau apa? ”berantem yuk”..halah….masalah kok dicari cari. Mungkin karena rutinitas harian sama saja, lingkungan yang cukup tenang ditengah perkebunan, tapi jarang interaksi sama tetangga, ditambah sekarang, para narapidana mulai mengerjakan rumah kaca untuk mulai berkebun, tadinya masih di dalam area lapas, sekarang di tanah seberang lapas–dulu area rumah petani yang harus digusur- Biasa saya main disana:
Main di rumah petani
Dulu tempat main kami, sekarang sudah jadi area perkebunan lapas. Makin mager aja di dalam rumah, ga mungkin main di area sana lagi, karena banyak narapidana hilir mudik bekerja di perkebunan. Kalau penasaran lokasinya silahkan klik video di kanal YT (Syukurnya masih sempat mendokumentasikan)
Kalau sedang bosan, biasa saya gangguin suami, entah nendang pantatnya pakai jurus bangau terbang*ya becanda saja** narik hidung, nguwel-nguwel wajahnya, herannya ya beliau tidak protes dengan kelakuan istri yang suka random. Saya bilang butuh teman main untuk dijaili. Anak-anak udah pasrah dengan setengah ngomel kalau saya mulai bertingkah. Kalau sudah ga jelas, saya scroll twitter dan melihat aneka perkembangan di tanah air, aneka kuliner populer, sambil saya ingat baik-baik, apalagi ternyata vokalisnya dewa (masih kan ya?)Once-Ternyata punya restoran manado di area BSD, wah kalau mudik ingin rasanya mampir, list makanannya pun masih standar, dibanding hari selasa lalu, saya makan di Mall, udahlah mahal rasanya sungguh standar lidah western.
Video Call dengan kakak, keponakan, orangtua, cukup menghibur karena bisa ngobrol lepas dengan bahasa leluhur. İngin rasanya ngobrol dengan salah satu kawan di İstanbul, tapi tahu diri, dia lagi sibuk. Mertuanya menjadi salah satu korban gempa bumi syukur alhamdulilah selamat, suami dia menjemput ibunya untuk diajak tinggal sementara bareng mereka di İstanbul, saat ini mertua dan iparnya diajak tinggal bersama ditambah dia akan melahirkan juga sebentar lagi.
Akhirnya jalan terakhir, ya memfungsikan Blog sesuai habitat awalnya, menulis apa yang ingin saya tulis , terkadang jadi alat terapi menghilangkan rasa jenuh. Sambil merenung, loh maunya apalagi toh? Maunya duit yang banyak hahahahahaaha…
Tapi kalau dipikir-pikir ya takaran rezeki setiap orang kan sudah diatur, mungkin kami tidak diberi ujian harta yang banyak, takutnya takabur. Apalagi punya pasangan jiwa shopingnya cukup kuat, takutnya kalau jadi ‘sultan’ beli sembarang barang yang ga perlu, hanya menumpuk saja, padahal semua kepemilikan harta ada hisabnya- bisa jadi seperti itu:) toh ya kalau dibilang miskin juga engga, alhamdulilah masih bisa makan enak, masih bisa liburan.
Rasa syukur lainnya? Baca aneka curhatan random netijen, apalagi berkaitan rumah tangga, kok ya banyak cerita memilukan, miris (jika memang benar terjadi)– Punya suami ya ga aneh-aneh tingkahnya, hidup cuma jauh di perantauan,peradaban, harusnya ya bersyukur, ujiannya sebatas mikirin gaji bulanan, nabung buat mudik sekeluarga, sebatas urusan itu aja, urusan hati masih bisa kami atasi dengan waras. Tapi gitu kan manusia, suka nyari nyari, masih ngeluh aja jenuh. Apalagi jempol kiri saya sempat sakit karena kebanyakan beraktivitas, kantor saya sekarang di Dapur. Melakukan rutinitas sama tiap hari masih wajarkan ada titik jenuh, manusiawi saja.
Sejenak melepaskan rasa lelah, hanya ingin mengeluarkan apa yang berputar putar di dalam kepala. Sebenarnya saya juga melakukan kegiatan lain: target membaca satu buku setiap bulan-buku bahasa Turki- posting foto di microstock- Untuk membuat konten, jujur menulis lebih menyenangkan dibanding banyak ngedit video.
Belakangan juga teman berbagi share video tentang kondisi Turki, prediksi kehidupan di Turki di masa depan, situasi keamanan, politik. Terkadang saya buka, tonton, atau baca. Terkadang saya juga abaikan dulu jika kondisi dan mood saya tidak terlalu baik, lalu mengalihkan ketontonan yang menyenangkan. Mental saya juga harus tetap sehat.
Sebagai makhluk sosial, sesekali saya juga rindu interaksi dengan bebas, entah kapan mungkin tunggu pindah dulu dari lokasi tinggal saat ini. Kasihan juga suami ngadepin istri yang suka random kelakuanya kalau sedang jenuh heheheh.

Sering update di sini Mbaaa, ntr aku mampirin trus, ‘ngobrol’ deh kitaa😄
Pastinya tinggal di negara lain, tempatnya juga bukan yg rame, berasa banget sepinya Yaa.. aku sendiri introvert, tapi ntahlah, mungkin bakal ngerasa yg sama kayak mba juga kali kalo tinggal di mana orang2nya ga rame . Walo ga suka sosialisasi dengan tetangga, tapi aku akuin msh butuh temen ngobrol. Ujung2nya kalo pak suami lagi sibuk bistrip, anak2 yg aku uyel2 hahahahah. Atau anak bulu para kucing 🤣. Kita manusia ttp butuh temen bicara kok, mau sependiam apapun. 😁
LikeLike
heheh makas,h fan sering mampir:) iya jalan ngeluarin apa yg berkecamuk dikepala kadang lbh enak di Blog, kl di youtube itu aduh ga kebayang ..kudu latihan ngomong dulu gmn yg enak didenger
LikeLike