Menulis tentang para keponakan suami yang berjumlah 12 orang, Sebagian besar sudah menikah, anak tertuanya bahkan sudah duduk di SMP. Minggu lalu, salah satu keponakan laki-lakinya yang berusia 26 tahun melakukan acara tunangan, dalam bahasa Turki biasa disebut juga dengan nişanlı.

Söz- Acara pertemuan kedua keluarga dalam bentuk lamaran

Seminggu sebelumnya waktu kami berkunjung ke rumah kakak ipar nomer 3, baru mengabarkan kalau malam sebelum kami datang, dia sekeluarga datang melamar anak tetangga desa Usianya sekitar 20an. Katanya Sefa mantap memilih gadis itu sebagai calon istrinya. Tradisi lamaran orang Turki juga cukup unik, sang wanita yang akan dilamar biasanya diberi tugas untuk membawa nampan berisi kopi, ada dua jenis rasa kopi yang dihidangkan: Kopi manis dan asin, lalu sang calon akan memilih kopi mana yang dia akan minum, ini ada maknanya, berhubung kami melewati tradisi ini, jadi saya cari tahu dulu makna dari kopi ini, Biasanya kopi diberi garam dan merica, lalu sang Pria yang datang melamarnya diharapkan untuk meminumnya sampai tuntas, kemudian minum kopi yang sudah diberi gula juga-penetralisir dari rasa sebelumnya, Ada makna yang tersirat dari tradisi penyajian kopi selama acara lamaran ini: menunjukan itikad Pria yang melamar akan teguh dengan ucapannya dan bisa melewati pahit getir dan manisnya kehidupan bersama wanita yang dilamarnya.

Nişanlı /Tukar cincin pertunangan

Selang satu minggu, kami dapat kabar bahwa dia akan langsung melakukan tukar cincin atau Nişanlı. Waktu itu hari minggu cuaca juga cukup cerah, suami beberes rumah dulu ngevacuum, ngepel, saya bereskan dapur, cash batare kamera, mandi juga, urusin anak-anak dulu kemudian baru berangkat menuju Corum menjelang sore hari.

Sesampainya di rumah kakak ipar, kami langsung diminta gabung untuk makan. Kebetulan ada kerabatnya datang dari kota Sungurlu, Paman Sefa dari pihak Babanya (Amca) sedang Suami saya Paman dari pihak Annenya (dibedakan panggilannya: Dayı / dayeu) Obrolan di meja makan pun terjalin dengan saudara dari Enişte (panggilan untuk suami dari kakak perempuan) Lucunya saya mengikuti obrolan suami dengan kerabat enişte ini, mereka membahas kelapa:D:D suami dengan antusias menjelaskan pengalamannya di İndonesia yang puas makan kelapa dan meminum airnya hahahah (duh semoga ada rezeki dalam waktu dekat ya biar si Baba emus bisa manjat pohon kelapa lagi)

Selesai makan, kami akan berangkat menuju cafe tempat acara dilangsungkan, karena mobil kakak ipar sedang dibawa Sefa, keduanya diantar suami terlebih dahulu ke lokasi, kemudian rencana selanjutnya baru jemput kami bertiga, tapi tak lama Sefa datang membawa mobil masuk halaman rumah dan memanggil Anne-nya, karena dia pikir akan mengantarkan Anne -Baba nya ke Lokasi acara dulu, tapi ternyata sudah diantar oleh suami. Ya udah Sefa yang akhirnya membawa kami menuju lokasi acara, selanjutnya dia akan jemput kekasihnya.

Begitu sampai lokasi acara, langsung masuk dan gabung duduk dengan keponakan lainnya, saudara perempuan Sefa yang sudah menikah, kakak tertuanya sudah memiliki anak 2, dan adik perempuannya yang baru hamil. Kami diberikan meja khusus keluarga. Sementara tamu mulai berdatangan, saya juga menyiapkan kamera untuk mulai motret.

Kedua pasang calon pengantin masuk ruangan, keluarga dan para tamu undangan menyambut kedatangan mereka, begitu masuk ruangan disambut dengan musik dan tarian, ya sebagaimana tradisi kebanyakan masyarakat Turki yang tidak lepas dari menari dan bernyanyi dalam merayakan sebuah kebahagiaan.

Salah satu tarian yang dilakukan ditengah acara, sepasang kekasih yang akan bertunangan wajib ikut menari…
Sefa, Keponakan kami yang bertunangan.

Kemudian masuk ke acara inti, pengguntingan cincin pertunangan, Uniknya kedua cincin pasangan ini ditali dengan pita merah, lalu orang yang dituakan dalam keluarga, dipilih Paman dari pihak Babanya. Beliau yang memotong pita tersebut dengan gunting, pertanda resmi kedua pasang kekasih ini resmi bertunangan.

Setelah itu, pihak baba dan anne Sefa memasangkan gelang emas ke calon menantunya, lalu sefa memasangkan kalung emas, beberapa kerabat memasangkan koin emas dan uang ke jas sefa.

Acara ditutup dengan doa untuk sang calon pengantin.

Acara tukar cincin, pamannya diberi amanah untuk memotong pita merah di keduanya- Nişan kurdelesine-

Acara pertunangan ini hanya sebagian adat saja, tidak wajib juga dilakukan, meski umumnya orang Turki banyak yang melaksanakannya, ya terkecuali kami berdua hehehe, pasangan beda negara dan maunya sat-set sat-set.

Oh ya selama acara ini, nyaris suami tidak masuk dalam frame, dia memang tidak terlalu suka acara keramaian seperti pesta dan tarian-tarian, Beliau pilih duduk mojok, enggan pula untuk berfoto bareng sanak family, ya pokoknya si Bapak ini cukup unik sebagai orang Turki.

Setengah jalan

Perjalanan menuju pernikahan baru dimulai. Jika mengikuti sesuai adat, Pihak laki-laki harus mulai menyiapkan semuanya, terutama rumah dan isinya sebagian, sebagian lagi ditanggung pihak keluarga perempuan. Nah mulai lah pusing-pusing kakak ipar heheh kami bantu doa saja. Saya pernah menulis jika menikah sesuai adat Turki, butuh dana yang tidak sedikit. Ya tidak hanya orang Turki mungkin, semua sama saja. Meski belum bisa membeli apartemen, bisa sewa dulu, tapi isi perabotan rumah tangga? tidak sesederhana itu, rata rata orang Turki suka dengan barang mewah berkualitas untuk isi rumah, permintaan ini bisa dimulai ketika mereka akan menikah. Satu set piring makan mewah merk terkenal, satu set peralatan sendok makan dkk merk jerman, sebagai contoh saja.

Jadi ketika di Turki melihat iklan furniture, atau satu set peralatan dapur mewah dengan tulisan ”duğun paketi” itu iklan biasa, paket paket barang rumah tangga untuk ‘bekal anak berumah tangga’

Sekali lagi, hayırli olsun….