Diawal tahun, cerita tentang perkembangan keluargapanda, yang terdiri dari babapanda-yang inshaallah ga mirip panda beneran hahaha, anak-anak panda, kalau ini kelakuannya bisa saya mirip-miripkan, annepanda urusannya di dapur mulu.
Tentang anakpanda
Mereka tuh aslinya manis kalau lagi akur, ingat ”KALAU” biasalah namanya juga bersaudara, kalau ga akur yang baku hantam hahaha, duh bagian kalau mereka berantem cukup membuat saya sebagai ibunya ingin tiduran saja sambil scroll hp, diladenin malah mancing emosi. Apalagi sampai terdengar teriakan, Nah tiba-tiba berasa jadi wasit FİFA akan memimpin final piala dunia, sayang kurang peluit saja, kalau kartu kuning sama merah, bisa saya bikin dengan cepat.
Adiknya yang sedikit-sedikit melakukan pengaduan: kakaknya melet-melet lidah, buat dia itu penghinaan: ”cok ayıp” lalu kakaknya saya nasehatin, cuma dibalas dengan ketawa-ketawa, buat dia menjaili adiknya hiburan tersendiri di rumah. Tenang dikit, akur sebentar tapi ga lama ngulang lagi, biasanya saya panggil: Wahai bapaknya anak anak!!!— Udah kalau Baba turun tangan, diem semua. Masha allah drama kehidupan rumah tangga dengan dua anak saja cukuplah.
Untuk Babanya? wah beliau masih dalam fase galau di awal tahun, keputusan sebagai kepala rumah tangga ada dipundaknya semua, akan pindah kemana, mengajukan tugas kemana lagi, apa pindah sementara dulu ke kota, kapan bisa beli rumah, di kota mana, kapan ajak mudik ke İndonesia.., masih seputar itu saja…, tiap keluarga punya problemnya sendiri. Saya sebagai pasangan ya cuma bisa dukung dalam doa tiap hari dan kuping yang selalu disediakan untuk mendengar keluh kesahnya, dewan pertimbangan agung di rumah hehehe, karena pasti ujungnya selalu minta pendapat istrinya juga, meng-analisis- sebelum ketok palu. Bismillah.
Untuk saya sendiri
Ehm apa ya…
kira-kira enaknya apa?
Ada banyak pemikiran di otak ini, apakah tereralisasi nantinya?
Seiring usia, harapannya lebih bisa bijak dan tau kapan waktunya berpendapat, bersikap. Mampu keluar dari comfort zone-
Untuk jadi ideal, sebagai seorang ibu dan istri, masih terus berproses. Tidak berani mengklaim juga.
Saya tidak menerapkan mentah-mentah semua ilmu parenting, mendidik semampunya, tidak membandingkan kemampuan anak sendiri dengan orang lain. Berusaha memberikan dan mewujudkan dunia anak-anak sesuai usianya. Sejauh ini, anak-anak tumbuh sesuai usianya. Masih asyik dengan dunia bermain, belum fase kenal cinta monyet, bahkan musik yang sedang digandrungi pun belum terlihat ada ketertarikan. Semisal anak-anak sekarang, banyak mengidolakan kpop. Mereka sejauh ini belum kenal, personil atau jenis musiknya. Biarkan saja. Nanti jika datang ‘masa kritis’nya sebisa mungkin mendampingi dan menjadikan filter untuk mereka. Saya masih banyak belajar lagi, diam-diam baca status teman-teman misal tentang dunia parenting, ya baca saja, kalau ada nilai bisa diterapkan ke anak-anak, saya coba praktikkan.
Sebagai sosok perempuan?
Saya itu penuh cinta loh..wkwkwkw *duh jangan mual ya**
sebenarnya agak melow dan sensi, nonton video yang bikin terenyuh saja, tiba-tiba air mata saya tumpah, bisa video tentang hubungan orang tua, percintaan atau video tentang kebaikan seseorang, istilah netijen: mengandung bawang. Sungguh tidak sanggup menonton video jenis ini lama-lama, bawaannya mata saya berkaca-kaca terus.
Sebagai seorang istri, saya juga sensi, paling tidak suka ada nada keras dalam bicara, kesinggung aja bawaannya, apalagi kalau pelakunya suami sendiri. Kalau orang lain? tidak terlalu ambil pusing, suami sendiri? ini namanya ancaman perang dingin. Sebab itu Allah yang Maha baik kasih jodoh, meski katanya Pria Turki dinilai kebanyakan: emosian dll, dapat paket sebaliknya, pengendalian diri beliau cukup ok. Bukan berarti dia manusia tanpa emosi, hanya saja dia tahu cara mengelola emosinya sendiri, Menenangkan dirinya. Jangan sampai keluarga jadi luapan emosi dan energi negatifnya.
Seperti musim dingin, kita lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah saja, keluar lama-lama, tidak tahan juga sama cuacanya. Kelamaan di rumah ada efek jenuh, bosan, numpuk energi negatif, sesekali dia buka lebar jendela dan pintu ke balkon, katanya untuk pertukaran energi di dalam rumah yang terperangkap. Percaya atau tidak, buat kami pergantian udara di dalam rumah cukup berdampak baik terutama kesehatan dan juga energi positif yang masuk kembali.
İ am bossy?
Kadang terpikir seperti itu, tapi masa iya?
Siang ini saya nulis dan update Blog, anak-anak sudah berangkat sekolah, keduanya masuk jam siang. Ada saya dan suami di rumah, nanti sore beliau baru berangkat kerja untuk jaga malam. Mesin vacuum baru saja diperbaiki dengan bantuan kawannya, selagi inflasi tinggi saat ini, harus banyak yang bisa disiasati, dulu bisa saja langsung beli mesin pengganti, sekarang pikir 2 kali dulu. Saya bilang ketika sarapan pagi di meja makan, untuk memvacuum rumah dan tugas dia membersihkan kulkas, saya tulis: TUGAS bukan MEMBANTU istri, karena emang rumah tangga itu dijalani berdua, berbagi tugas.
Jadi selepas dia mengantarkan si bungsu ke gerbang lojman karena mobil antar jemputnya tiba. Balik ke unit rumah, langsung mengerjakan tugasnya yang tertunda karena mesin sempat rusak. Lalu saya lanjut buka komputer dan mulai menulis Blog, wah wah…bagaimana tanggapan para ibu mertua jika memiliki menantu seperti saya…., apakah ini Bossy? tidak mencerminkan dunia patriarki sama sekali.
Sambil dia memvacuum rumah, saya juga bertanya, menu untuk makan malam nanti apa yang dia inginkan? karena ini memang ranah tugas saya di rumah. Biasa saja keseharian kami seperti ini.
Saya mengajarkan ini juga ke anak-anak, terutama anak pertama sebagai laki-laki, hal kecil saja dulu seperti kalau dia lupa membawa piring bekas wadah cemilannya dari kamar, sedang dia sudah berangkat sekolah, tidak otomatis saya bawa ke dapur. Saya kasih catatan dalam kertas kecil diatas piring kotor di kamarnya: Piring kotor dibawa ke dapur ya:)* membiasakan dan berharap mereka terbiasa dengan tugas-tugas seperti itu. ”alahh ribet amat sih!” mendidik anak memang butuh proses kan?
Suami paham, ya syukurnya dia diberi pemahaman tentang apa tugas suami dan istri, untuk kesehatan mental bersama, hidup itu harus seimbang. Menjalani rumah tangga yang sehat, jangan semua beban rumah dipundak istri. Hal ini yang kami ingin turunkan ke anak-anak, membentuk pola seperti ini bukan hasil keturunan, tapi kami ciptakan bersama ketika memutuskan berumah tangga. Saya dan juga suami datang dari keluarga umumnya: dominan patriarki. Atas kesadaran bersama, kami ciptakan rumah seperti ini. Tidak ada yang sulit, hanya butuh memulai saja…,

Setuju sih dengan pengasuhan seperti itu mba. Aku juga ga mau mendidik anak lakiku menjadi terlalu bossy. Di keluarga besarku sendiri, jujurnya cowo itu masih di agung2kan lah… Mamaku aja ke papa amaaat sangat melayani, dan hara2 itu aku ga pernah mau pacaran Ama cowo satu suku kayak papa 😂😂😂. Takut bakal begitu.
Untungnya suami terdidik dari keluarga yg sangat open minded. Aku bersyukur banget. Jadi nanti anak2 aku bakal ajarin juga yg namanya pembagian tugas, bahwa mereka juga hrs saling bantu dengan pasangan dan hal2 semacam itu.
Mama ku Yaa, kalo sdg ke JKT suka ngomel ngeliat caraku melayani suami santai banget. Tapi untungnya pak suami waktu itu ngasih tau mama kalo dia ga keberatan dengan hal begitu, Krn kami memang udh sepakat utk saling bantu, ga ada yg namanya didewakan di keluarga 😄. Jadinya mamaku ga bisa ngomong lagi deh 🤭
LikeLike
di keluarga jg gitu sihi anak laki2 jarang pegang kerjaan rumah, bahkan bapak ga tau apa itu masak dan urusan dapur, makanya bertekad kl kl punya anak laki, ga mau ngulang kebiasaan keluarga besar
LikeLike