Tahun 2023 udah masuk tanggal 4, tidak ada resolusi yang muluk-muluk, hanya ingin belajar konsisten saja mengerjakan sesuatu, apapun itu.
Jadi ada cerita apa diawal pembuka tahun ini?
Tahun baru kami di lojman, biasa saja. Saya sempat membuat cake untuk cemilan, tidak ada momen spesial, anak-anak masih dalam masa pemulihan karena sakit, Babanya tetap asyik menonton dizi kesayangannya, sementara saya menonton serial netflix ‘The Glory’ dengan pemain utama Song hye kyo.
Anak-anak tidur lebih cepat, tepat pukul 12 malam, ngobrol santai dengan suami sambil mengatakan: Forty! Ya kita masuk puncak usia. Usia kami memasuki kepala 4, uban dirambut juga mulai muncul, terutama suami, kami tidak pernah menghabiskan tahun baruan seperti kebanyakan orang di luar sana, apalagi tinggal di negara 4 musim. Rasanya rebahan di sofa sambil nonton Tv saja cukup. Tahun baru 2012 malah diguyur salju tebal, sampai jalanan depan rumah mertua tertimbun salju selutut orang dewasa, boro boro terpikir untuk keluar rumah ditengah malam. Duduk depan soba sambil menghangatkan diri pilihan utama.
Di masa lalu, ya layaknya usia muda, remaja. Tradisi tidak berfaedah malam tahun baruan juga saya ikutan, pernah naik mobil bak terbuka menuju Monas, malah terjebak macet berjam-jam, alhasil nyampe Monas pukul 3 dinihari, ga ada seru-serunya, cuma lihat kembang api dari kejauhan karena masih terjebak macet di jalan. Tahun berikutnya pilih di rumah, barbekuan sama saudara. Karena kebetulan rumah orangtua tepat dipinggir jalan raya, keramaian orang-orang berpawai, berkendara motor sambil bersautan suara klakson cukup membuat bising, ya dinikmati saja peristiwa itu.
Saya juga pernah tahun baruan di Malioboro, padatnya bukan main, tapi seru sih! Jogja selalu punya cerita tersendiri, ada banyak titik panggung hiburan saat itu, pementasan seni. Saya menghabiskan malam tahun baruan dengan teman lama, ngobrol ngalor ngidul, makan di angkringan, pulang subuh. Menikmati suasana saja.
Masa itu sudah berlalu, sekarang berkeluarga. Belum ada lagi perayaan tahun baruan. Suami? dia tipikal orang rumahan, menghadiri pesta pernikahan ada tarian, musik, orangnya pilih duduk saja mengamati, kurang tertarik menikmati suasana keramaian.
Belum keluar rumah dari tahun lalu
Sudah tanggal 4 januari dan saya belum keluar rumah, percaya? harusnya percaya saja hahhaha. Berhubung tinggal di Lojman dan suasana sepi, apalagi seminggu turun kabut tebal, jarak pandang pendek, suhu dingin. Mau ngapai ke luar rumah. Tahun lalu ada salju, tahun ini berkabut terus.
Awal tahun, kenaikan UMR dan gaji ASN Turki diumumkan kembali, antara mau senang atau biasa saja, karena kata suami: kenaikan cuma ‘Numpang lewat’ sewa lojman juga naik, bayar mobil jemputan anak dua, naik semua. Praktis rasanya ga menikmati naik gaji, cuma dibuat senang dengan pergantian angka saja, ternyata aneka tagihan juga ikutan naik.
Semoga bisa konsisten posting Blog terus:P
