Sabtu 17 Desember, kami pergi ke pusat kota Çorum, tujuan pertama belanja bulanan lalu mengunjungi mertua di Desa, Sebagai keluarga yang mengandalkan pemasukan pertengahan bulan, tanggal muda bagi kami dan sebagian besar keluarga pegawai negeri adalah tanggal 15, berbeda dengan di İndonesia, tanggal muda disamaratakan diawal bulan, sedang untuk di Turki, dibedakan, jika sektor swasta diawal bulan, untuk pegawai negeri pertengahan bulan, sedikit mengurai keramaian awal bulan ketikabelanja di market. Tujuan lain pergi ke Corum adalah: Belanja bulanan.
Kami belanja di hypermarket versi Lokal, namanya Güneş market, Berbeda dengan Metro market-yang cabangnya banyak di kota besar Turki-sayangnya di Corum tidak ada. Barang yang dijual di Güneş market mayoritas produk lokal, Metro market? adalah surga bagi saya, karena segala barang dari negara Asia banyak dijual, mulai dari jenis sayur atau buah, bahkan mencari aneka seafood beku semacam gurita, mudah ditemukan, tapi jangan harap produk seperti ini ada di hypermarket lokal. Metro market terdekat berada di kota Samsun. Corum tidak ada cabang Hypermarket ini. Sedih.., jadi cukup kesulitan bagi saya mencari jenis sayur seperti sawi, pokcoy.
Perjalanan dihadang kabut tebal
Memasuki akhir tahun dan musim dingin, kabut sering turun di daerah İskilip, hari itu kami optimis saja keluar dari lojman, karena pagi cukup cerah. Meski semalam sempat menonton berita tentang cuaca berkabut di daerah Provinsi Bolu, saya pikir, daerah itu cukup jauh dari tempat tinggal kami saat ini, tidak terpikir akan berkabut.
Tapi ternyata!! ditengah perjalanan, kabut mulai turun dan cukup tebal. Suami sampai menyalakan lampu depan dan mobil melaju hati-hati, cukup membuat saya deg-degan. Pikiran buruk sempat terlintas ”Allah korusun” banyak berdoa saja selama di perjalanan.
Pukul 12 siang kami tiba di Günes market terlebih dahulu, tujuan pertama sebelum mampir ke rumah mertua di Desa, karena saking tebalnya kabut kami hampir salah ambil belokan dari jalan besar, dan agak ngeri karena ada truk besar di depan tidak terlihat dengan jelas, jarak pandang saat itu pendek sekali. Dan ketika mencari parkiran di Günesmarket juga cukup hati-hati, takutnya terjadi insiden kecelakaan dengan mobil arah keluar.

Setelah belanja bulanan, suami memutuskan tetap melanjutkan perjalanan menjenguk anne-di rumah, karena ketika berangkat tadi pagi, kami juga belum sempat sarapan. Suami memutuskan untuk ‘numpang makan’ di rumah anne, di market dia sempat membeli kentang dan ayam yang sudah dipotong siap masak. Kami berangkat menuju desa dengan cukup hati-hati. Mengingat jalan utama menuju desa harus melewati jalan utama negara, menghubungkan antar kota, kami melewati jalan utama provinsi yang menghubungkan kota Corum ke ibukota Ankara, jalan besar ini banyak dilalui bis besar dan truk kontainer. Melewati pusat İndustri Corum (organize sarayı)– Untuk tata kota Turki, biasanya pusat İndustri dipisahkan lokasinya, agak di luar pusat kota. pusat İndustri biasa disebut organize sarayı- lokasi pabrik-pabrik dikumpulkan disatu tempat. Kebetulan desa mertua berada di area belakang area industri, untuk menuju desa, kami harus melewati area pabrik-pabrik terlebih dahulu, Karena melewati pusat İndsustri dan saat itu kabut juga cukup tebal, agak takut jika terjadi insiden di perempatan jalan. Pokoknya perjalanan hari itu cukup menegangkan.
Menjenguk Mertua
Begitu datang ke rumah mertua, saya langsung masuk dapur menyiapkan menu makan, sekalian makan siang. Di rumah mertua masih mengandalkan penghangat ruangan soba dan memiliki oven. Memasak ayam panggang dan kentang menggunakan soba, bumbunya cukup sederhana, mengingat saya masak untuk mertua juga, tidak usahlah ribet marinasi segala, karena mertua saya bukan orang pandang yang request bumbu balado, masakan untuk beliau cukup dibumbui garam, merica. Ditambah lidah suaminya juga ‘western’ bahkan untuk kategori orang Turki itu sendiri. Ga usah aneh-aneh berkreasi aneka bumbu.

Lalu untuk Fatih danAlya? mereka minta ayam tepung ala gerai fast food, rasanya semenjak krisis finansial Turki, frekuensi saya memasak di dapur cukup tinggi dibanding dahulu. Biasanya awal bulan suami juga sering ajak makan di luar sambil belanja bulanan, kalau sekarang pikir ulang, tidak ada salahnya menghemat bukan.
Begitu jam makan tiba, kami makan bersama, anne mengeluarkan roti somon dan lavas, pilihan saya, cukup makan ayam dan kentang saja, karena porsi yang cukup besar, kentang juga jenis karbo, kenapa harus di dobel dengan roti?
Usai makan, disambi saya membereskan dapur, suami mengobrol dengan anne-nya tentang kemungkinan untuk operasi lututnya kembali, dipostingan sebelumnya saya sempat menceritakan tentang kondisi terakhir anne. Saya juga sempat bertanya kenapa beliau menolak operasi lutut? menurut beliau, percuma juga operasi lagi, toh lututnya tidak akan seperti sedia kala, ditambah usia juga sudah tua, hanya mengurangi rasa sakit saja bukan sembuh total-.-”, saat itu beliau menggunakan tongkat untuk tumpuan berjalan. İntinya beliau bersikeras tidak mau operasi. Dan disini saya melihat kekesalan suami juga heheh, dia sampai mengancam anne-nya akan menjual sapi-sapi Anne:D (lagi) kemudian memaksa Anne untuk operasi dan tinggal sementara di rumah kami nanti selama masa recovery–ya ini rencana suami– Anne diam saja, entah mempan atau tidak ancaman ini. Memaksa beliau untuk mengurangi pekerjaan berat saja cukup sulit. Bagi orang yang terbiasa tinggal di rumah dengan halaman luas, dipaksa tinggal digedung apartemen itu terasa tersiksa, Anne tidak suka tinggal di rumah tipe apartemen. Beliau seperti mikir-mikir.
Menjelang siang kami pamit pulang, si Alya tidak betah di rumah kakek neneknya, apalagi dede*kakeknya tidak bercukur, janggut lebat dan putih membuat Alya tidak suka harus berhadapan dengan kakeknya, serem kata dia hehehe, ada-ada aja emang. Waktu meninggalkan desa, kabut mulai berkurang, kami optimis bisa mampir juga ke rumah hala-nya (Hala= tante dari pihak baba untuk anak-anak)* Kakak ipar nomer-3 ini baru saja operasi lutut juga-.- dan baru keluar rumah sakit, rencana ingin menjenguk beliau, tapi ternyata jalanan masih berkabut. Kami batalkan rencana ke rumah hala, tapi tujuan menuju Mall tetap sesuai rencana, karena ada janji ke Alya.

Bulan lalu, Baba menjanjikan Alya untuk main di Fun zone* jadi kami menemani Alya bermain, tadinya rencana ke Kent park juga, karena cuaca berkabut, Baba membatalkan pergi ke Kent Park. Selepas menemani Alya, mampir ke Migross market juga, dibanding Güneş market, barang di Migros harganya sedikit lebih mahal tapi untuk mencari produk di luar produk Turki cukup mudah, seperti aneka saus. Saat ini pilihan saya selama di Corum hanya mengandalkan Migross untuk mencari produk non lokal, Carrefour juga ada, sayang lokasinya kurang strategis, karena Migross buka di Mall*dan satu satunya Mall di kota Corum, hahah jangan bayangkan area BSD dekat daerah tinggal dimana Mall berjejer dan tetanggaan. Tinggal di kota saat ini, hanya ada satu Mall saja, ukurannya juga tidak cukup besar, levelnya hanya seperti BSD plaza jauh kalau dijejerkan Gİ, Central park, Senayan city, Gandaria city Mall atau kelapa gading. Lol, makanya suami kalau mudik disambi wisata mall deket rumah.
Sekarang berkunjung ke Mall ya tiap pertengahan bulan, sekalian belanja bulanan, karena tinggal di kota kecil, harus turun gunung dulu ke pusat kota Corum.
Begitu selesai urusan di Mall, pulang menuju parkiran. Karena akhir pekan, parkiran mall juga cukup padat, kami diarahkan ke parkiran ke-2, itu pertama kalinya parkir di parkiran-2, suami kurang familiar lokasinya, hingga terjadi insiden nyari mobil di parkir dimana, lupa lokasinya:D mana sambil menggerutu pula, lupa parkir sebelah mana, dan lagi-lagi mata jeli saya sebagai pasangan yang akhirnya menemukan lokasi mobil tersebut, Selain navigator saya emang Google versi lite-.-” ga yakin kalau dia jalan sendiri bisa cepat menemukan mobilnya.
Pulang kembali ke lojman sekitar pukul 4 sore, dan lagi lagi dihadang kabut, astaga belum selesai juga cuaca berkabut-.- sempat mengusulkan ke suami untuk putar arah saja ke rumah abla-hala-nya anak-anak, sekalian jenguk yang awalnya batal dan menginap saja satu malam, saya terlalu takut melanjutkan perjalanan pulang, karena mengingat jalanan menuju lojman adalah jalanan pegunungan ada tikungan tajam dan jurang, tapi suami membesarkan hati, semua akan baik-baik saja. Bismillah nurut saja sama supirnya, tidak lupa banyak baca doa demi keselamatan selama perjalanan pulang, meski suami malah menambahkan rasa takut dengan cerita, kalau cuaca seperti saat itu suka ada babi hutan nyasar ke tengah jalan-.-‘ hadeuhhh ga lucu tiba tiba nyeruduk babi hutan yang nyebrang jalan.
Perjalanan alhamdulilah selamat kembali ke lojman, rencana mampir ke danau di seydim terpaksa batal karena kabut tebal, musim seperti ini hunting foto juga menarik, sayangnya kurang mendukung cuacanya karena ketebalan kabut yang luar biasa.
