Pas kapan sempat baca ada yang nulis status tentang jodoh: Jika waktu bisa diulang, apakah kamu masih tetap ingin berjodoh dengan pasangan kamu sekarang?– kira-kira seperti itu inti tulisannya. Jawaban saya: İya.

Kalau membahas materi, memang masih jauh dari kategori kemapanan, Belum punya rumah sendiri di negaranya, hidup berpindah-pindah, harus bisa memprioritaskan mana kebutuhan utama, untuk sekadar membeli mainan anak saja, disesuaikan moment, syukur anak paham: İngin satu set mainan barbie, tapi baru bisa membelikan bonekanya saja, untuk pelengkapnya seperti lemari, kursi, si anak membuat sendiri dari susunan lego, dan dia menunjukan kreasinya, lalu kita apresiasi, akhirnya sekarang bermain dan mengasah kreativitasnya sendiri, membuat kursi, tempat tidurnya dia susun sendiri, rumah memang jadi lebih berantakan. Tidak semua keinginan bisa dituruti.

Percuma dong menikah sama ‘Bule’, tapi ga kaya.

Suami bukan Bule, Menikah tujuan saya: ketemu pasangan hidup yang bisa saling melengkapi, kalau akhirnya berjodoh dengan dia yang hidup dibelahan bumi lain, Bukan saya yang mengaturnya. Memaksakan harus Bule/Pria Turki? tidak terlintas, hanya memohon jodoh yang terbaik menurut-Nya. Dan insha allah jawaban itu dalam sosok Beliau. lepas dari segala kekurangannya dan kami masih berjuang bersama, suka duka penuh dengan segudang cerita.

Tujuan awalnya saja dulu dibenahi, Biar ga asal-asalan: Asal ketemu, asal tampan, asal mapan, asal tinggal di luar negeri.

Mudik saja belum bisa tiap tahun, karena saya mengerti prioritas juga, jangan-jangan suaminya pelit? Percuma ga bisa belikan tiket mudik tiap tahun.

Ada banyak pertimbangan, karena saya juga ngerti dengan kondisi finansialnya, situasi ekonomi tidak sedang baik-baik saja, saya ga mau memaksakan suami berhutang di Bank lebih besar lagi, Hidup secukupnya. Ya kalau mengikuti komenan netijen yang super tenar, hidup ga ada tenang-tenangnya.

Setiap orang memiliki alasan berbahagia

Setiap membaca curhatan netijen tentang problematika rumah tangga, padahal secara materi golongan mapan, usaha banyak. Kenapa masih aja mengeluh? hal ini sempat terlintas, seperti waktu saya mengikuti berita artis menikah, secara fisik kedua-nya good looking semua, cantik, body goal, suami tampan mapan, sampai digilai publik, bak pasangan pangeran dan puteri, tapi 2 tahun kemudian keluar berita perpisahannya.

Lalu kurang kaya apa pendiri Microsoft?berpisah juga dengan pasangannya, menikah juga bertahun -tahun, ternyata belum jadi jaminan.

Ada banyak contoh: Meski dengan materi katanya bisa memiliki apa saja, tapi untuk urusan hati, ketenangan batin: ternyata tidak mudah terbeli.

Memasuki tahun ke-12 pernikahan, saya tidak berani mengklaim sepenuhnya tentang kata :İdeal terhadap pasangan, masih banyak hal yang tetap butuh adaptasi. Sejauh ini meminimalisir konflik selalu kami lakukan, secepatnya menyelesaikan amarah menjadi salah satu kunci kerjasama untuk terus melanjutkan hubungan sebagai dua manusia yang terikat tali pernikahan.

Kematangan emosi dan mental

Menikah diusia yang menurut kami cukup : 28 tahun, Ketika sudah merasa siap dan saya yakinkan diri memang siap secara mental: Jodoh itu datang. Tapi bukan berarti menjadi jaminan semua mulus saja perjalanan itu, ujian pasti ada, berbagai problem datang, tapi ketika kita berdua cukup siap dan tanggung jawab: kita hadapi semua masalah bersama. Karena disinilah mental kami diuji sebagai pasangan.

Meski : kedewasaan tidak ditentukan umur, carilah pasangan yang dewasa dalam berpikir dan menyelesaikan masalah, umur urus belakangan, asal jangan minor juga sih, ini beda cerita. Saya berpaku dengan usia cukup saja, kebetulan ketemu jodoh diusia yang kita yakini: cukup.

Bukan berarti nikah muda kurang ideal, ada banyak juga pasangan muda yang berhasil, mentalnya cukup kuat, mereka bisa melaluinya juga. Hal ini bukan berarti menggeneralisir, semua juga bisa. Sayangnya dilapangan, banyak kisah memilukan, apalagi jika pasangan masih usia minor.

  • Saya baru ingat, pernah ada yang di Grup minta saran: Tetangganya ingin menikah dengan Pria Turki , pacar online-nya, usia dia termasuk masih Minor, baru lulus SMA. Menikah di KUA belum dibolehkan, harus tunggu usia cukup, bagaimana kalau menikah di Turki saja, apa dibolehkan? Dalam perubahan Undang-undang hukum pernikahan di İndonesia 2019, syarat pasangan usia menikah adalah:19 tahun, dan dia masih dibawah itu, ngebet pengen menikah dengan pacar onlinenya. Padahal di Turki secara hukum negara, berlaku hal ya sama, tidak dizinkan menikah diusia minor.

Jelas yang kita khawatirkan adalah kesiapan mental dia, anak baru lulus SMA kenalan dengan pria asing, langsung ngebet begitu ditawarkan pernikahan, mungkin baginya pernikahan bisa jadi jalan solusi dari permasalahan hidupnya, bisa hidup di luar negeri, apalagi pasangan tampan, cukuplah modal untuk membuat konten.

Tanpa dia pikirkan matang, bagaimana kondisi lingkungan nanti yang akan dia tinggali, bagaimana sistem dimasyarakat, keluarga pasangan dengan segala adat istiadatnya. Cinta memang membutakan yaa.

Ada benarnya pendapat: Menikahlah karena emang siap dan bukan karena ‘ikut-ikutan‘ : Sedang trend banyak yang menikah dengan orang Turki, lalu mencari juga pasangan orang Turki, ga peduli latar belakangnya, asal dapat pria Turki, padahal di kampung, masih terikat pernikahan resmi, belum bercerai-datang ke Turki, menikah sama pria baru, hebat benar : poliandri, sudah ga peduli urusan dosa, perkara nanti saja, yang penting bisa menyandang status baru, Bersuamikan Bule dan pasang surname di sosial media.

Lalu apa yang dicari: keberkahan dalam pernikahan? Sakinah? -Memulai dengan menerobos segala syariat dalam agama? padahal kepalanya ditutupi kerudung, ga jadi jaminan dia paham akan aturan dalam agamanya sendiri, kendali nafsu lebih dominan.

Luka dimasa lalu selalu jadi alasan dia berani mengambil segala resiko tapi mengabaikan juga berbagai sinyal, pilihan serampangan yang ternyata mengulang kembali luka lama.

Teman cerita pihak KJRİ / KBRİ yang terpaksa turun tangan menyelamatkan WNİ yang terjebak pernikahan toxic di Turki, ternyata tidak membuat jera, selalu terulang lagi, bebal sekali diberi peringatan.

Sudah diingatkan tentang Menikah bukan perkara dua orang saja yang jatuh cinta dan berakhir happy ending bak kisah dongeng, tidak usah dengan Pria asing, dengan sesama WNİ saja, ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Beda daerah, beda budaya, apalagi beda negara. Tapi kisah klasik terulang kembali.

Buat saya kesiapan mental harus jadi fokus utama, nanti ketika menikah, ga terlalu dibebani ‘shock culture’ awal-awal saja memulai adaptasi, memilih pasangan juga dilihat jangan cuma fisiknya, amati hubungan sosialnya, hubungan dengan keluarganya, sering dengar cerita hubungan mertua-menantu-ipar? kalau dapat pasangan yang tidak berpendirian, sudah siapkan saja stok sabar yang banyak, dan saya garisbahwahi lagi: Orang Turki meski banyak berfisik sama dengan orang barat/eropa, ingat budaya mereka tetap ASİA kebanyakan. Klasik hubungan mertua-menantu dan tinggal serumah juga banyak.

Dan kalau balik lagi kecerita si mbak usia minor yang ingin menikah dengan pacar Turki online-nya, apakah siap dengan kondisi lingkungan tinggal nanti? hubungan antar keluarga yang harus dijalani, apalagi dia juga usia minor, belum tentu ibu mertuanya membebaskan begitu saja ngurus anak laki-laki kesayangannya, karena bisa juga dianggap belum cukup layak dipercaya, ada? ada banyak.

Usia segitu, mending pilihan jadi anak kuliah di luar negeri masih ideal, dia masih bisa merasakan kesenangan traveling bersama teman seusianya, tanpa harus diribetkan udah harus ngurus anak, rumah dan penyambutan mertua.

Yang tidak setuju sih, terserah, ini pendapat saya yang suka gemas saja heheh