Tadi saya buka twitter, lalu menemukan postingan yang sedang ramai, yakni kisah seorang anak SD dapat surat tidak senonoh dari teman kelasnya, membacanya tentu saja rasa ingin marah terlintas juga dipikiran ini, İstighfar! semoga anak-anak dijauhkan dari lingkungan buruk dan perilaku buruk. Miris dengan pergaulan anak zaman sekarang.

Saya dan babanya selalu obrolin tentang dua anak ini, akan mendidik seperti apa, gimana, karena tanggung jawab diamanahi anak itu besar sekali, kami takut kalau mereka salah langkah, tidak mendapat pendidikan yang baik, gizi yang sempurna, kasih sayang kurang.

Keputusan menjadi ibu rumah tangga saja, tidak terlintas dulu, iya sebelum bertemu suami tentunya, karena di keluarga besar, kebanyakan sepupu tetap bekerja, umumnya menjadi tenaga pendidik, berdagang, Emak saya pun memiliki toko kelontong dulunya, sekarang hanya menyewakan toko.

Lalu hijrah, menikah, menjadi ibu rumah tangga penuh tanpa asisten akhirnya menjadi pekerjaan saya saat ini, Rezeki ada jalurnya sendiri, saya percaya itu. Tantangan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga saat ini luar biasa, apalagi jika sering membaca berita segala kasus kekerasan terhadap anak, prilaku anak, anak yang terpapar pornografi:S makin lah kami memproteksi mereka.

Foto anak

Seperti yang dilakukan suami, beliau membatasi sekali segala postingan anak, lalu ketika akun intsgram saya yang lama, makin banyak followernya, beliau minta dikunci, hapus foto anak! daripada durhaka juga kan, dan permintaannya juga ga salah, akhirnya saya simpan semua foto anak yang memperlihatkan wajah dengan jelas, saya tidak bakat jadi konten kreator keluarga heheheh, ada ‘mandor’ yang selalu mengingatkan. Jadi apapun yang saya posting sekarang, harus ambil sudut yang berbeda, ada aturan yang tidak tertulis juga: Untuk tidak memposting foto anak dengan busana minim.

Liburan musim panas lalu, kami road trip ke karadeniz, anak anak 3 hari main di pantai, nyaris tidak ada foto mereka menggunakan baju berenang yang saya foto, meski membawa kamera. Ada foto siluet di pantai, itupun sudah berbusana lengkap. Lalu foto suami juga, cukup koleksi pribadi.

Sebenarnya ini juga pilihan, banyak juga teman teman yang masih memposting foto lucu anak mereka di segala sosial media, Vlog juga. İtu keputusan masing masing saja, bukan ranah saya menghakimi sebagai orang yang merasa paling benar, kalau menulis disini, berdasar pandangan pribadi kami sebagai orangtua.

Suami, sebagai kepala keluarga selalu mengingatkan, saya tidak menganggapnya si ‘tukang ngatur’, dengan karakter saya yang ngeyelan dan harus mendapat jawaban yang cukup masuk nalar, Beliau bisa memberikan alasan tepat dari aturan yang dia berikan ini.

Tidak lelah untuk mencari tahu

Belakangan ini, bacaan beliau tidak jauh dari psikologi, dari bacaan bacaan ini banyak mempengaruhi segala keputusan yang dia buat untuk anak-anak dan saya.

Seperti keputusannya untuk tidak dulu memberikan gadget usia anak SD, ada hp cadangan dirumah, tapi kita simpan saja. Apakah anak-anak protes? syukurnya sejauh ini masih bisa menerima alasan baba mereka, Beliau memberikan aturan dengan penjelasan yang bisa diterima anak-anak.

Apa yang ditonton, masih harus lewat kontrol kami, tidak lupa untuk selalu membuka komunikasi, menanyakan kondisi mereka, lingkungan, teman temannya.

Saya juga pernah tanya, apa di sekolah, ada teman yang omongannya jorok, kufur? ya, dia bilang ada. Nah kan!! lalu kami harus bagaimana sebagai orangtua? -Baba turun tangan, ajak ngobrol anak laki-lakinya.

Saya sedang menuju tahap materi mengenalkan pendidikan se** untuk mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak mengganti nama alat kelamin dengan bahasa pengganti, tapi menyebutkan dengan benar. Pelan -pelan saja, apalagi si sulung tahun depan memasuki usia 10 tahun. Ditambah makin gencarnya kaum rainbool di berbagai media minta perhatian. Duh makin ngeri aja kan, saya juga harus menjelaskan ke mereka, mengenalkan supaya apa? ya supaya mereka paham dan ga terseret, saya bukan tipikal orangtua yang memberikan kebebasan sebebasnya ke anak, macam pendidikan barat mungkin, dengan cangkang ‘cinta tidak mengenal kelamin..bla..bla..ah bullshit’, nyatanya lebih banyak yg nurutin hawa nafsunya sebagai dalih bukti cinta. Wah banyak juga ya PR jadi orangtua akhir zaman ini-.-”.

Lalu apalagi, selain berusaha maksimal dalam parenting duniawi, bawa selalu nama mereka dalam doa kapanpun sebagai proteksi lainnya.

Menjadi orangtua tidak mudah, saya akui itu, dunia semakin maju, lingkungan semakin gila, ya apalagi kalau tiap buka twitter muncul diberanda, berbagai cerita remaja, anak-anak yang mengerikan. Saya tidak bisa mengacuhkan begitu saja, perlu juga untuk tahu, sebagai peringatan.

Semoga anak-anak kita selalu ada dijalan kebaikan, dijauhkan dari pengaruh buruk, fitnah dajjal.