
Tahun 2022, tidak terasa usia pernikahan menapaki tahun ke-11, perjalanan luar biasa, usia kami yang jelas semakin tua, beberapa uban sudah terlihat dikepala, apalagi suami? kadang genetik berperan besar ya, ada beberapa flek coklat mulai muncul di wajah, anak-anak semakin besar dan tetap sebagai penguji kesabaran heheh.
Suami bulan ini mulai ikutan Gym lagi, ternyata ada tempat gym tapi di gedung kepolisian lokal hahah, tenang di sini ga ada kisah sambalado yang viral itu, sejauh yang saya alami berurusan sama polisi di tempat sekarang, mereka baik dan selalu menawarkan teh waktu ada urusan di kantor mereka, heran kenapa ga sekalian traktir makan di restoran aja ya**emang warga yang ngelunjak***
saya? olah raga tipis-tipis di balkon selepas subuh, mau lari pagi, bawaannya mager, iya alasan terus. catatan setahun kemarin, sebagai orangtua tetap sibuk urusan anak-anak sekolah. Untuk kencan sama suami? palingan diajak ke pasar, sama ambil air di cesme, mau dinner di restoran, menunya itu-itu aja, lama lama bosan, tempat favorit kami seperti biasa:sosyal tesisleri, restoran yang dikelola pemerintah kota, untuk di Çorum ada di Kent park, taman terbesar di pusat kota, menunya? ya kuliner Turki sebagaimana biasanya. Saking terbiasa dan biasa-biasa saja, untuk review ala foodblogger aja kurang minat hehe.
Belakangan kami berdua sedang tertarik perawatan kulit, sadar usia yang sudah mendekati kepala empat, krim anti aging pun jadi incaran kami, nah ini salah satu pengaruh berteman di twitter dengan beauty blogger yang sering berbagi tips perawatan kulit dan review produk , saya pun mulai tertarik dan sadar diri, kemudian konsultasi dengan salah satu kawan dekat di İstanbul yang lebih paham urusan kecantikan, kosmetik, berasa punya konsultan pribadi, diberi masukan tentang langkah awal sebagai pemula menggunakan produk perawatan kulit yang aman.
Sebenarnya untuk perayaan romantis?
kami beli kue di pastane, itupun ukuran standar, sedang tahap mengurangi makanan serba manis, kita udah stop minum teh menambahkan gula, mikirnya ya karena anak-anak pengen makan kue saja, lalu beli, karena tidak tiap hari juga, pengecualian.
Makan berempat semalam, dipasang lilin. Perayaan kecil-kecilan, kami selalu menyebutnya: ‘‘pasta günu” saja” ya tidak ada yang istimewa memang, seperti candle light dinner? ternyata kami tidak seromantis itu, apalagi suami memberikan sebuket bunga–hahahahah saya mau tumpengan deh.
Dua hari ini jalan berdua saja sama suami ke carsi, anak-anak sudah biasa ditinggal dirumah. Setiap pasangan memiliki bahasa cintanya masing masing, tidak romantis bukan berarti tidak adanya ‘rasa cinta’ lagi. Sudah terbiasa dan nyaman dengan cara tersendiri.
11 tahun bersama, alhamdulilah masih banyak gelak tawa mengisi hari hari kami, setiap pasangan juga tidak luput dari ujian, ya termasuk kita ini, ga jauh jauh dari ekonomi , dibawa santai aja, meski kadang terpikir ‘bagaimana caranya jadi Rafathar”:V:V aduh otak netijen banget ga sih.
Adalah pokoknya permasalahan dalam rumah tangga, kami selalu selesaikan dengan cara dewasa, bukan lari dari masalah, cari solusi bersama.
Lepas dari ketidaksempurnaan sebagai manusia, dan masih terus berusaha untuk saling memperbaiki diri, perjalanan rumah tangga ini juga sebenarnya tidak mudah. Banyak cerita yang tidak saya tulis semua, cukup simpan saja dan menjadi rahasia kita berdua, karena tidak semua perlu dijadikan konten. Sebagai blogger rata-rata dan bukan panutan, tapi tetap ingin menulis rekam jejak di Blog untuk kenangan.
Apa saya bahagia dengan pernikahan ini
Alhamdulilah, semoga selalu bisa mengucap rasa syukur dengan garis takdir yang Allah tetapkan. Membersamai beliau dalam suka, duka, bahagia, kondisi apapun.
Allah kirim sepaket 3 in one dalam satu sosok, teman,sahabat,keluarga terdekat, tinggal ditempat sekarang jujur saja membosankan, syukurnya teman hidup bisa cosplay apa aja, terkadang jadi emak-emak pemburu diskonan..ya kaaan, terkadang jadi om om cerewet phiuhhh…ya terkadang kesambet romantis juga ngalahin prince charming..kalau ada maunya hahahah.
Beliau itu tipe penyayang, terutama ke anak sendiri, harus lah:D jadi ada rasa syukur untuk anak-anak, peran ayah yang besar selalu hadir untuk mereka, terus terang kami berdua datang dari keluarga yang tidak terlalu dekat dengan sosok ayah, kemudian beliau ingin mengubahnya untuk anak sendiri, harus bisa lebih dekat dan hangat. Memang benar sih, apa yang kita alami dimasa kecil kalau itu tidak teringat dengan baik, maunya kita, anak-anak ga ngalamin hal yang sama. Mungkin karena bapak kami berdua tipe pencari nafkah yang hanya fokus nyari nafkah dan urusan rumah sepenuhnya dibawah kendali para ibu. Jadi berasa ada jarak diantara kami dengan sosok ayah. Nah beliau ini ingin memutus mata rantai sistem patriarki yang kita dapati dimasa kecil dalam rumah.
Atas kesadaran diri juga, kalau dibilang keluarga Turkinya, ya seperti kebanyakan, sistem patriarki juga kuat mengakar, posisi pria lebih ditinggikan, meski ibu mertua tetap mengenalkan anak laki-lakinya pekerjaan rumah, karena beliau petani dan sibuk di ladang, anak-anak diajarkan mandiri ketika harus ditinggal seharian, tapi ada kalanya anak laki-laki lebih sering dilayani.
Beliau suka membaca, buku adalah jendela perubahan, Sosok suami yang terlihat ideal (dimata saya aja sih) bukan genetik lahirnya, tapi ada proses pembentukan jati dirinya sebagai suami dan baba. Beliau suka membaca terutama sosiologi, psikologi ya tidak jauh dari tema itu, parenting juga, koleksi bukunya pernah saya ceritakan dulu, dan sekarang jadi PR saya, harus bisa membaca koleksi bukunya juga-.-”

Jadi rumah tangga juga butuh asupan ilmu terus selain bahan bakar cinta..tsahhh, agar tidak monoton dan membosankan, selalu bisa mengisinya dengan berbagai warna indah kehidupan. Jeleknya kalau beliau lagi emosi, mending tunggu emosinya reda dulu, soalnya semacam lagi kebakar api terus disiram bensin ..mrepet dah…, udahannya paling saya sindir ” kok kamu jadi orang Turki banget” hahahahah.
Catatan tahun ke 11:
Kami sudah bisa saling memahami, saya sudah hafal kebiasaan beliau
tapi terkadang tetap lost control seperti kisah beli Baglama itu, nguji emosi aja sih.
Tetap bertahan dengan panggilan spesial dari awal resmi jadian , kalau manggil nama lengkap berarti ‘red flag’ hahahah, ga peduli dimanapun, mungkin terdengar menggelikan bagi sebagian orang, malah beralih manggil nama saja ke pasangannya, tapi kami tidak peduli.
Tetap mengucapkan kata cinta kapanpun kami suka, hubungan berbilang tahun, keharmonisan harus tetap dijaga sebagai mana awal memulai, memiliki anak bukan sebuah alasan hubungan jadi tidak menarik lagi dan sekadar pemenuhan kewajiban saja.
Sebelum beranjak tidur, masalah apapun harus sudah dibereskan dulu, dan siap menghadapi hari baru. İngetnya seemosi apapun, selalu mikir tentang ‘waktu dan umur’.
Sudah tidak begitu peduli lagi menunjukan foto kemesraan di sosial media hahah, belakangan kami malah sering lupa foto berdua, terakhir roadtrip lalu, ternyata foto berdua sama suami hanya beberapa saja, lebih banyak foto pemandangan alam.
Semoga tahun tahun selanjutnya kehidupan rumah tangga kami bisa lebih baik terus, bisa melewati segala ujian hidup apapun, diberi kekuatan untuk melewatinya. Amiin doakan ya
