September biasanya bulan dimulainya semester baru seluruh sekolah di Turki, baik sekolah swasta atau negeri, bulan dimana orangtua baru akan diberikan list belanjaan kebutuhan anak dari guru kelas, peralatan alat tulis apa saja yang dibutuhkan untuk setahun kedepan. Apalagi kalau anak TK, ditambah segala kertas atau alat pendukung kreativitasnya sudah diberikan daftar oleh guru, dan sebelum anak masuk sekolah, sebagai orangtua kita belanja kebutuhan sekolah anak.

Nah di Turki sekitar bulan agustus biasanya market atau toko khusus alat tulis gencar promo, dari alat gambar, buku tulis, pinsil, cat air dan macam macam, Sabtu lalu kami pergi ke pusat kota corum untuk belanja alat tulis Alya, muter carsi sampai akhirnya ketemu supermarket baru yang menawarkan harga jauh lebih murah dari lainnya, karena lokasinya agak jauh dari carsi, kami mengandalkan petunjuk google maps untuk mencari lokasi uygun market namanya.

Dan memang, harga-harganya masih masuk kategori ‘ramah’ dikantong, ketika inflasi tinggi seperti saat ini, mensiasati harga harga yang sering naik, mendapatkan toko dengan harga murah, Alhamdulilah rasanya.

Sekolah baru

Alya masuk TK besar, awalnya akan melanjutkan di TK lamanya, tapi kemudian dapat tawaran dari diyanet, kuran kursu membuka kelas TK, yang membuat saya tertarik tentu saja karena tidak seperti TK biasa, karena ini TK dibawah Badan mufti, mirip dengan TK islam di İndonesia, dapat pelajaran tambahan tentang agama islam, si Baba minta pendapat, antara TK devlet atau TK islam ini, apalagi ada mobil antar jemput yang disediakan, sedang TK sebelumnya kami harus pontang panting antar jemput anak, tebeng-tebengan mobil sama tetangga, misal tetangga B tugasnya antar jemput terus anaknya sakit, ga masuk sekolah, jadinya ikutan libur yang bakal nebeng, apalagi kalau babanya harus masuk kerja. Lebih ribet.

Jadilah tahun ajaran baru, Alya kami pindahkan ke TK islam dibawah badan mufti lokal, Baru dibuka, jadi mereka emang mencari murid baru. Secara fasilitas, gedung juga bangunan baru. Dan yang lebih utama karena ada mobil antar jemput, meski kami harus bayar extra, karena jarak yang lebih jauh, maklum kan ya tinggal di planet pluto jauh dari pusat kota, apa-apa jadinya ada ‘ongkos tambahan’ mau sedih..ya terima nasip, semoga rezeki buat anak sekolah lancar terus, Amin!

Tantangan mendidik anak di Turki

Sebagai seorang muslimah dan seorang ibu, ada tanggung jawab saya sebagai ‘madrasah utama anak-anak’ memberikan pendidikan umum sudah kami berikan, tapi dasar pendidikan akidah tidak bisa kami abaikan, setiap orang memang bebas menilai, memilih mana yang terbaik untuk anaknya, ada yang berpendapat, membebaskan anaknya memilih keyakinannya sendiri, ya silahkan aja. Tapi saya dan suami sebagai orang tua juga merasa punya kewajiban untuk mengarahkan mereka ke jalan keyakinan yang kami imani semenjak lahir. Kedua anak ini ketika pertama kalinya terlahir ke dunia, Babanya meng azani, mendengar kalimat tauhid pertama, Mengenalkan Tuhannya, mengenalkan kitab suci dan agamanya.

Untuk pendidikan, karena Turki bagaimanapun dasar negaranya adalah sekuler, pengaruh sekulerisme tentu saja tetap kerasa, ketika orang menganggap agama adalah ranah pribadi, misalkan kita sedang kumpul kolega menjelang magrib lalu terdengar azan, termasuk jarang, orang orang saling mengingatkan untuk solat, mereka paham untuk memberi jeda, karena ada suara azan, duduk diam mendengarkan azan terlebih dahulu, begitu azan selesai lanjutlah obrolan, bukan beranjak solat, karena urusan ibadah, urusan masing-masing.

Bertemu lingkungan seperti ini, saya harus gimana mendidik anak-anak?—harus lebih keras dan tegas– mereka harus punya prinsip dan paham kewajibannya sebagai muslim, agar tidak mudah terbawa arus karena ‘ga enakan’, jadi ikut-ikutan lalai dengan waktu solat.

Selain dari rumah, lalu ketika ada TK islam, Bismillah, saya pilihkan Alya untuk masuk ke TK ini dibanding TK lamanya, karena pasti diberi materi pelajaran tauhid, untuk pondasi dasar dia, karena nantinya juga masuk SD negeri. Terus terang ngajar anak sendiri dirumah itu tantangannya luar biasa berat, kalau ada bantuan ustazah dari sekolahnya, saya bersyukur sekali.

Meski nanti pasti kena koreksi lagi bacaan huruf hijaiyahnya, karena saya ajarkan versi buku iqro İndonesia, Alif ba tha, kalau orang Turki bacanya: elif be the…, seperti nasip fatih dulu di TKnya İstanbul, pulang sekolah ngomel-ngomel, karena ngerasa anne nya ngajarin bacaan huruf hijaiyah salah heheheh sama hoca nya dikoreksi sesuai ejaan Turkche-.-‘