Dulu dengan karakter yang sulit percaya sama orang, saya sempat mikir, apa ini penyebab sulit punya pacar hahaha, setiap ada teman pria mendekati, kepekaan saya 0% kadang mudah baper tapi mikir lagi ‘ah masa sih, dia suka‘ bukan sosok perempuan yang selalu jadi pusat perhatian, Sampai genre film atau buku novel roman tentang one sided love jadi favorit. Sosok yang terkadang lebih suka menyendiri, introvert-kadang malas untuk basa-basi, tapi bisa jadi sosok yang mengintimidasi jika sedang ‘mood’ untuk bersuara, saya mengenal diri saya seperti itu.
Ujungnya berteman dengan laki-laki lebih nyaman daripada menjalin hubungan asmara, saya jadi kikuk, ga bisa jadi diri sendiri kalau berdekatan dengan laki-laki yang disukai—*Jadi semuanya saya seragamkan lingkup pertemanan, itupun tetap ada batas yang saya terapkan, hanya sekadar teman ngobrol biasa, bukan tempat curhat. Kenapa? ya karena pembawaan yang sulit percaya sama orang itu susah sekali diubah.
Kalau akhirnya ada lelaki yang saya percaya dan membuat saya nyaman, jawabannya bisa ketebak: Beliau yang sudah 12 tahun bersama saya. Bapak Suami. Saya percaya semesta dan garis jodoh itu, lepas dari segala kekurangannya.
Nah ngebahas kenapa sulit sekali percaya sama orang?
Sifat kayak gini yang akhirnya: punya gang main hanya ketika aktif di Yisc Al azhar 11 tahun lalu, Ketika usia lewat 25 tahunan, Semacam besties- masa SMA pun hanya bisa dihitung jari: Namanya Vika dan khomsatun, lainnya teman laki-laki, karena udah menjadi bapak-bapak semua, berbalas komen pun kalau emang ada urusan penting, ga sengaja nyapa setiap hari. Teman-teman ada, teman sekolah, aktif di grup WA juga, tapi apa tiap hari ngobrol? jawabannya engga, saya itu kalau pegang hp gunanya untuk nonton netflix atau drama lalu sambat twitter, kadang ngobrol lewat hp juga bawaannya nunda terus, jadi lupa untuk mengabari, karena keasyikan maraton drama di hp, kemudian hp nya dibuat silent.
Kenapa mudah percaya orang di İnternet
İni tuh kayak nunjuk hidung sendiri ya, karena saya ketemu suami lewat media internet, selain main intuisi, sifat saya yang suka menyelidiki macam intel aja:V dan ditambah sikap tidak mudah begitu saja percaya sama orang, cukup membantu proses pendekatan hingga sampai mahligai pernikahan (cieee) ya pokoknya daripada dicekokin kata-kata rayuan yang bikin gejala diabetes apalagi dari orang Turki:P lebih banyak pendekatan lewat jalur diskusi, bahas apa aja yang menarik dan sedang ramai dibicarakan, waktu itu mikirnya kalau dia tahan dengan karakter saya, boleh dipertimbangkan.
Begitu juga selepas menikah dan saya hidup dinegara beliau, belajar dari kesalahan pertama–masih dimaklumi karena pendatang baru— saya dulu saking ngerasa ‘Butuh’ kenal teman, pertama datang ke Turki dititipi barang sampai berkilo-kilo, yang ngasih pake karung pula, keluarga juga agak kaget, sampai saya ga bisa bawa barang banyak--Dulu belum populer jasa jual bagasi– dikenalin teman sesama WNİ bawaannya senang aja, klise, biar ga ngerasa sendiri, kesepian. Maklum adaptasi perantau, entah dimanfaatkan saja atau beneran tulus berteman, Ya pokoknya kenal sesama WNİ senang saja, tapi begitu keseret permasalahan si ‘teman’ mending menarik diri, sampai bersepakat sama suami: Untuk memilih pertemanan, tidak semua orang bisa kamu percayai. Belajar dari langkah pertama yang menurut saya tidak terseleksi , akhirnya balik lagi ke mode: tidak mudah percaya sama orang.
Mudah percaya sama orang membawa kesusahan
Belakangan kasus penipuan jual beli tiket ramai di sosmed, di salah satu grup sering dibahas, saya juga berteman dengan beberapa teman yang kerja sambilan menjual tiket, ngakunya legal dari agen langsung-ya wawlohualam testimoni banyak yang membenarkan, semoga benar. Tapi ada juga yang kena tipu hingga bermasalah, gagal terbang, uang tidak kembali. Hanya bermodal ‘percaya’ dan dijanjikan dapat harga murah.
Sang penipu bermodal akun instagram: tiketucuz, pasang tulisan: tiket pesawat murah, hotel murah. Silahkan cek saja di sosial media, akun akun yang menawarkan harga lebih murah dari harga pasaran, Padahal ada juga akun centang biru online travel agent (OTA) semacam tiketdotcom, website jelas memiliki sertifikat ssl-sebagai Blogger pastinya paham aturan ini, kredibilitas sebuah situs. Syarat dan ketentuan juga jelas, lalu kenapa bisa percaya hanya bermodalkan iklan di sosial media dari akun sesama teman wni saja? tergiur harga lebih murah kah? apa males ribet untuk booking tiket ke OTA? kenapa harus lewat reseller?? saya kepikiran aja, sebelum saya paham istillah carding, Husnudzon, mungkin dia kerja di agen wisata, saya mikirnya orang tersebut remote job jadi agen tiket resmi dari OTA terpercaya, Tapi begitu baca cerita dari Grup jalan jalan itu, Loh pelakunya ternyata?? hah. Seorang ibu atau mbak-mbak yang ga kelihatan punya tampang koruptor macam yang kemarin dirilis pembebasannya dan ramai di İnternet, dan uang yang dikumpulkannya ga main-main.
Emang ya manusia sekarang, kelihatan karakternya kalau sudah dihadapkan dengan uang! Apalagi kalau udah bahas drama antara orang berhutang dan yang memberikan hutang, yang ditagih bakal lebih galak.
Diposisi sebagai orang yang tidak mudah percaya
Saya ga cocok banget kayaknya kalau jadi timses mbak puan hahahah*mana tukang bakso datang lah sini** karena tidak mudah percaya dengan janji politikus, baik dari İndonesia maupun dinegara tinggal, lalu kalau diposisi sebagai orang yang butuh tiket terbang ke Pluto, apa yang saya lakukan?
Pertama: Apa gunanya punya smartphone dan laptop dan jaringan internet kalau tidak dimaksimalkan penggunaannya, saya tidak akan nyari tiket lewat jalur akun sosial media, kalaupun nyari tiket dan mentok ketemu akun instagram, harus saya cek dengan detail, klik link tautan, cek websitenya, baca aturan aturan yang diterapkan, usahakan itu centang biru juga, minimal kredibel akunnya.
kedua: Sebagai Blogger, nah ini gunakan jaringan Blogger yang hobbynya traveling, mereka menurut saya lebih bisa diandalkan atau juga tanya dulu di grup jalan-jalan, banyak traveller yang berbaik hati menjawab. Daripada modal kenal sesama teman wni saja, tanpa tau latar belakang dia apa. Bermodal obrolan di DM, big no! Bertanyalah sama orang-orang yang sering bepergian dengan pesawat lebih sering dari kita.

Kalau bisa beli ke maskapainya langsung, kenapa tidak! Terakhir beli lewat OTA, saya terus terang ga mudah percaya sama orang, meski menurut teman lain: ‘amanah’ kok. Berbeda harga lebih mahal, tapi jelas tiketnya atau kalau bermasalah, pengembalian uang, ganti tanggal keberangkatan, jelas alurnya, agak lucu waktu baca, si pembeli minta tiket pesawat A, katanya full dialihkan ke B, masih belum jelas juga dialihkan ke C, lah kok bisa begitu.
Semacam zaman kuliah, kalau mau berangkat ke yogya, saya paling menghindari beli tiket di Calo, mau sesulit apapun cari tiket, saya usahakan jalur resmi, bisa dipercaya. Ribet urus sendiri, ga masalah, capek sendiri diawal, daripada mikir ga mau pusing tapi berujung kena penipuan.
Biasakan untuk teliti sebelum membeli–sepertinya istilah ga asing kan. Jangan mudah terbuai segala kemudahan apapun,, dan jangan mudah menaruh kepercayaan ditanah rantau hanya dengan alasan sesama WNİ, loh sesama WNİ banyak juga yang nusuk dari belakang:P Pelajaran awal saya hidup di negara suami, saya terapkan terus, hasilnya emang teman gelin aja ga banyak memang, tapi terseleksi dengan lingkup pertemanan yang waras.

Aku dilatih utk ga gampang percaya dengan orang lain sejak kecil mba 😁. Mama selalu cekokin kami, kalo orang2 di luar banyak yg jahat, yg licik, penipu dll. Bagus sih supaya kami hati2 juga. Tapi jadinya agak susah utk percaya dengan orang atau temen2. Butuh waktu yg lamaaaaa bgt, sampe aku yakin mereka bisa dipercaya. Itupun, sampe skR, cuma 1 sahabat yg aku bener2 percaya banget.
Trus kerja di bank asing, makin didoktrin utk ga gampangan 🤣🤣.kami sebagai staff bank, harus hati2 menghadapi calon nasabah ataupun nasabah. Jangan sampe tergiur Ama kata2nya yg bilang, ‘uang saya banyaaak bgt’, ‘bisnis saya di mana2’, ‘nanti bakal masuk uang 1T ke rekening saya’. ‘saya butuh cepet pembukaan rekeningnya, mau trima transfer 10m’.
Itu semua warning alerts buat kami. Kalo bank2 lain mungkin LGS happy trima TRF gede tanpa jelas drmana, bank tempat aku kerja dulu malah curiga. Takutnya itu uang money laundering, atau dr perdagangan narkoba, atau bersumber dari kejahatan financial lainnya. Seketat itu HSBC dulu menyortir nasabah. Apalagi kalo ada yg prefer transaksi tunai dlm jumlah gede. Misalnya tarik uang 1 M tapi hrs cash, ga mau di transfer. Udh dipastikan sumber uang mencurigakan. Krn dia ga mau terlacak uangnya mengalir kemana. Yg pasti, orang2 begini pasti diam2 bank laporin ke pihak terkait sebagai suspect.
Jadi yg ada, aku ga pernah impressed Ama nasabah atau orang manapun yg kdg pamer kekayaan , pamer isi rekening😂. Aku mikirnya, drmana sumbernya. Jelas ga hahahahaha.. udh kedoktrin di kepala soalnya.
Ttg harga tiket yg murah, paket trip yg jauh dibawah harga resmi, aku juga ga tertarik. Sering tuh sliweran di feed. Mungkin medsos bisa membaca aku suka traveling JD Diksh akun2 mencurigakan begitu. Jgn harap aku mau buka. Ngeliat harganya aja males. Murah menyesatkan. Dari dulu aku traveling LBH milih beli di website resmi atau OTA terpercaya. Kalopun beli paket travel, pasti beli dr travel yg aku udh tau track record nya.
Aku ga pernah percaya harga murah. Di zaman skr yg apapun sedang mahal, harga kelewat murah malah bikin aku curiga itu penipuan atau kualitasnya palsu dan ga bagus samasekali 🤣.
LikeLike
kasus yg di turki itu sampe ketipu 200 jt jg ada, puluhan juta, ya emang agak ga masuk akal..peak season bs dpt murah bgt,belinya lewat reseller yg modal nawarin di FB or İG , udah gitu pas ketahuan yg kmrn rame flexing, ada jg carding..ribut2 lah itu di status, mikir jg ko bisa percayaan gitu aja sm temn wni, kl background org travel atau dia emang kerja di travel bs dipertimbangin jejaknya, ini malah iRT aja yg terjun jd reseller, ketipu banyak bgt korbannya–yg ttg BANK kok jd inget drakor little women, dpt duit 2 milyar won ga berani dimasukin rekeningnya malah ditaruh di kontainer masukin kulkas..jd paham bs takut ditelusuri jg duitnya kl gitu
LikeLike
Model2 kita ini kyknya musuh bebuyutan para scammer cinta ya. Mungkin pas kalau kerja di kepolisian.
Saya ga percayaan sama orang krn kebanyakan baca novel kriminil 🤣
LikeLike
curigaan ya bawaannya, modal mulut kemulut aja ga yakin, hrs ditelusuri sumbernya hehehe
LikeLike